Awal Perang Sabil


Masjid Raya Baiturrahmah yang legendaris, adalah salah satu garis pertahanan terpenting Aceh.

Masjid Raya Baiturrahmah yang legendaris, adalah salah satu garis pertahanan terpenting Aceh.

Bagian 3 – Aceh Memersiapkan Perang

Sayf Muhammad Isa

Perang Sabil, sebuah perang yang dimulai oleh kaphe Belanda atas muslim Aceh pada tahun 1873 telah tercium aromanya sejak beberapa tahun sebelumnya. Karena itulah Aceh telah mawas diri dan telah melakukan berbagai persiapan pertahanan yang memungkinkan. Beberapa benteng pertahanan yang telah dibuat oleh para nenek moyang untuk menahan serangan Portugis ratusan tahun yang lalu, dibina kembali. Parit-parit pertahanan diperdalam, dan tempat yang memungkinkan pasukan Belanda melintasinya, dirintangi dengan berbagai macam jebakan.

Pertahanan yang ada di sekitar Istana Darud Dunya pun diperkuat. Banyak pihak yang menyadari bahwa inti pertahanan Aceh adalah istana itu, walau pun pada perkembangan selanjutnya tidaklah seperti itu. Terbukti di kemudian hari, walau pun istana itu berhasil jatuh ke tangan Belanda, perlawanan Aceh bukanlah meredup, malah semakin membara. Hal ini membuktikan bahwa perlawanan muslim Aceh tidaklah tergantung kepada istana, melainkan pada semangat jihad di dalam dada.

Persiapan Perang

Seorang Jenderal Inggris bernama Donald Stewart sempat berkunjung ke Aceh sekitar 6 minggu sebelum Belanda melancarkan serangannya. Kisah kunjungan Donald kemudian dimuat di majalah Times yang terbit pada masa itu.

Jadi Jenderal Donald berkunjung ke Aceh karena hendak mengejar buronan yang melarikan diri. Dia kemudian menghadap sultan Aceh dan sultan menyambutnya dengan amat baik. Sultan juga mengerahkan bantuan yang memadai agar sang jenderal berhasil menringkus buronan-buronan itu. Sultan juga mengizinkannya melihat-lihat kondisi kota. Dia mengatakan bahwa sekitar enam minggu sebelum pasukan Belanda datang, orang-orang Aceh tidak siap berperang. Dia juga bercerita bahwa orang-orang Aceh tidak memiliki cukup benteng dan senjata untuk bertahan dari serangan Belanda. Memang tersedia beberapa meriam untuk ditembakkan dalam rangka menyambut tamu-tamu negara, tapi tidak terlihat meriam-meriam untuk meledakkan musuh. Yang terlihat hanyalah beberapa meriam tembaga yang tergeletak tak terawat. Aceh juga tidak memiliki angkatan perang yang terorganisir. Orang-orang sering terlihat menenteng pedang dan rencong, namun tidak memiliki senjata api. Terakhir Jenderal Donald mengatakan bahwa jika Belanda bisa mengatur pasukannya dengan baik, Aceh bisa ditaklukkan hanya dalam beberapa bulan saja.

Padahal sebenarnya terlalu cepat jika Jenderal Donald mengambil kesimpulan seperti itu, sebab kesimpulannya tidaklah menyeluruh, hanya kepada hal-hal yang dilihatnya saja. Masih banyak hal yang tidak dilihatnya yang bisa meruntuhkan teorinya itu. Banyak kabar lain yang beredar, di antaranya adalah bahwa Panglima Polem dan Imam Longbata telah memersiapkan “Pagar Manusia” untuk melawan gempuran Belanda. Tentu saja dengan kekuatan tempur yang tinggi. Para pengusaha Aceh di Penang yang tergabung dalam “Dewan Delapan” pun memasok senjata dan dana, untuk mendukung perlawanan muslim Aceh. Dengan kata lain, Aceh tidak tinggal diam dengan ancaman serangan yang sedang mengangkasa dari Belanda ini. Mereka mengerahkan segala daya upaya yang mereka bisa untuk melawan penjajah.

Pada artikel selanjutnya, kita akan bercerita tentang ultimatum yang diberikan Belanda, yang menjadi awal dari Perang Sabil yang panjang.

 Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s