Awal Perang Sabil


Armada kapal perang Belanda mengepung pantai Aceh tahun 1873.

Armada kapal perang Belanda mengepung pantai Aceh tahun 1873.

Bagian 4 – “Ultimatum Belanda”

Sayf Muhammad Isa

Suasana perang antara Aceh dengan Belanda telah mengudara sejak sebelum tahun 1873. Semakin hari berlalu suasana ini semakin terasa. Terlebih lagi ketika Belanda telah memersiapkan keberangkatan komisarisnya, FN. Niuwenhujzen, ke Aceh untuk memperkuat tuntutan Belanda atas Aceh dan memaksa Aceh menyerahkan kedaulatan wilayahnya kepada Belanda. Akhirnya sampailah komisaris Belanda itu di Aceh.

Pada tanggal 22 Maret 1873, rombongan kapal “Citadel van Antwerpen” yang membawa Niuwenhujzen telah tiba di lepas pantai Aceh. Rombongan kapal itu tidak mendarat di pelabuhan Aceh, melainkan berdiam saja di lepas pantai sambil mengawasi daratan dari sana.

Kemudian Nuiwenhujzen mengutus seorang pedagang bernama Said Tahir (atau Sidi Tahil). Said Tahir ini telah menjadi kaki tangan Belanda sejak lama dan rela memberikan segalanya untuk Belanda. Said Tahir harus berhati-hati, sebab sudah banyak orang di Aceh yang mengetahui siapa dia. Dia ditugaskan untuk membawakan surat Belanda kepada Sultan Aceh. Berikut saya kutipkan isi surat pertama ini, dari Aceh Sepanjang Abad karya Mohammad Said.

Setelah diawali oleh berbagai pembukaan dan tetek bengek yang panjang, yang selalu ada dalam surat resmi antarnegara, “… kemudian daripada itu saya permaklumkan ke hadapan Sri Paduka Tuanku bahwa telah berulang kali ternyata bahwa Pemerintah Aceh tidak menyambut baik maksud yang sungguh-sungguh dan tujuan murni yang ditunjukkan oleh Gubernemen Belanda untuk mengakhiri saling bermusuhan antara negeri-negeri yang berada di bawah takluk Aceh, yang telah menerbitkan kerugian besar bagi kepentingan umum perniagaan dan perkapalan dan maksud untuk mengadakan suatu hubungan baik antara kerajaan itu dengan gubernemen, dan bahwa pemerintah Aceh telah menentang keinginan penting yang telah dipertunjukkan itu.

Bahwa belum selang lama pemerintah tersebut telah mengutus wakilnya untuk menemui wakil negeri asing di Singapura, meminta bantuannya untuk melawan Belanda, perbuatan mana telah diselimutinya dengan jalan mendatangkan utusan itu juga ke Riau menemui Residen, dari siapa mereka telah mendapat perlindungan, dan kepada siapa mereka meminta tangguh supaya kedatangan perutusan politik, yang dimaksud oleh Beslit Gubernemen tanggal 31 Agustus 1872 LHH Rahasia, yang disampaikan ke hadapan Sripaduka Tuanku Sultan dengan surat Gubernur Sumatera Barat yang diantarkan dengan sebuah kapal perang oleh Kontroleur JH. Kreijenhoff, bahwa pemerintah Aceh telah melanggar bunyi pasal 1 Perjanjian Perdamaian, Persahabatan, dan Perniagaan, tertanggal 30 Maret 1857 yang telah diikat dengan kerajaan tersebut dan berhubungan dengan itulah maka saya datang sebagai wakil Gubernemen Hindia Belanda untuk menuntut penjelasan tertulis. Untuk keperluan tersebut saya beri tempo kepada Pemerintah Aceh selama 24 jam untuk menyerahkan surat penjelasan dimaksud. Kepada saya pula tergenggam hak, sesudah menerima penjelasan tersebut untuk menentukan dan memaklumkan kepada pemerintah Aceh mengenai bentukan perhubungan yang diingini antara Gubernemen Hindia Belanda dan Aceh, demikian pula untuk mengadakan pembicaraan yang diperlukan.

Termaktub di kapal “Citadel van Antwerpen” 22 Maret 1873.

Maksud dari surat Belanda ini adalah bahwa Belanda amat memersoalkan perjalanan seorang duta Aceh ke Singapura untuk menjalin berbagai kontak dengan negara-negara seperti Amerika, Italia, dan Prancis. Belanda menganggap bahwa hal itu adalah dalam upaya untuk melawan mereka. Karena itulah Belanda menuntut penjelasan dari Aceh tentang apa tujuan sebenarnya dari kunjungan duta Aceh (yakni Syahbandar Muhammad Tibang) ke Singapura dalam menemui perwakilan-perwakilan negara asing itu.

Pihak Aceh merespon surat Belanda ini dengan sabar dan tenang, dan sama sekali tidak mengindahkan gertakan “24 jam” yang tertera di sana. Sebab datangnya Said Tahir untuk mengantarkan surat ini saja sudah memakan waktu 24 jam. Bagaimana jawaban pihak Aceh terhadap surat Belanda ini? InsyaAllah akan bersambung pada artikel selanjutnya.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s