Awal Perang Sabil


Bagian 5 – “Surat-Menyurat Aceh-Belanda”

Sayf Muhammad Isa

Pada tanggal 22 Maret 1873, komisaris Belanda, Niuwenhujzen, tiba di Aceh dengan menaiki kapal “Citadel van Antwerpen”. Dia membawa sebuah surat ultimatum yang harus segera dijawab oleh pihak Aceh.

Dengan sabar dan tenang, Aceh menjawab surat ultimatum itu, yang diantarkan ke kapal Belanda oleh utusan Belanda sendiri, Said Tahir. Berikut saya kutipkan jawaban dari pihak Aceh.

Setelah diawali dengan kalimat pembukaan yang panjang – “… Kemudian daripada itu kita memaklumkan di hadapan Sripaduka sahabat bahwa surat Sripaduka sahabat sudah kita terima dengan paham isinya. Antara Kerajaan Aceh dengan Gubernemen Hindia Belanda hingga pada masa ini tidak ada perubahan persahabatan. Sesungguhnya telah kami kirim surat ke Riau untuk meminta undur kedatangan perutusan ke Aceh menanti kami terima dari Sultan Turki balasan atas surat kami padanya. Secepatnya kami menerima balasan itu akan kami kabarkanlah kepada Sripaduka sahabat kita. Demikianlah juga belum selang beberapa lama telah kami kirim perutusan ke Riau untuk meminta penyelesaian soal kapal “Gypsy”. Hanyalah untuk keperluan itu kami menitahkan utusan datang ke sana. Sebagai akibat dari peristiwa tersebut, pada waktu ini agak terbataslah baiknya perhubungan kita. Kami berharap agar Gubernemen Hindia Belanda menambahkan kesabaran hingga menjelang surat jawaban Sultan Turki itu.

Termaktub 23 Muharram, hari Ahad tahun 1290 H (sampai dengan tanggal 23 Maret 1873).

Pihak Belanda amat tidak puas dengan surat balasan dari pihak Aceh. Karena itulah, hari itu juga (23 Maret), Niuwenhujzen segera membuatkan balasannya. Hanya saja surat balasan Belanda ini tidak diantarkan hari itu, melainkan keesokan harinya. Said Tahir kembali menjadi pengantar surat Belanda ini. Dia mengambil rute melewati Kuala Cangkul, sebuah rute yang lebih jauh menuju Istana Aceh. Dia sengaja mengambil rute yang lebih jauh ini untuk menghindari sekitar 3000 orang pejuang Aceh yang telah berjaga-jaga di jalur yang dia lewati kemarin. Berikut adalah surat Belanda.

Seperti biasa, diawali dengan pembukaan yang panjang ala raja-raja. “… Kemudian daripada itu saya maklumkan ke hadapan Sripaduka Tuanku Sultan bahwa surat Sripaduka bertanggal Ahad 23 Muharram 1290 H sudah saya terima dengan baik dan paham isinya. Tapi dalam surat itu tidak ada saya dapati sedikit pun keterangan penjelasans ebagai yang saya inginkan dalam surat saya bertanggal 23 Maret 1873 yang telah disampaikan ke hadapan Sripaduka Tuanku Sultan.

Sesungguhnya amatlah pentingnya penjelasan itu bagi Gubernemen Hindia Belanda, sebab itu saya desak lagi bersama ini supaya dalam tempo 24 jam ini penjelasan tersebut disampaikan kepada saya.

 Walau pun antara Sultan Turki dan Gubernemen Hindia Belanda terjalin persahabatan, namun sama sekali tidaklah menjadi hak kerajaan tersebut untuk mencampuri silang sengketa antara Gubernemen Hindia Belanda dengan Kerajaan Aceh.

Yang sedemikian tidaklah saya benarkan sama sekali, lebih-lebih karena di masa sebagai itu pulalah Sripaduka Tuanku Sultan menyiapkan perang dengan mengarahkan rakyat mengangkat senjata. Memperhatikan itulah maka saya mengulang kembali keinginan yang sudah saya tandaskan supaya dalam tempo 24 jam ini Tuanku memberi penjelasan terhadap peristiwa yang saya sebut dalam surat tanggal 22 Maret 1873.

Selanjutnya saya ulangi lagi keinginan, secepatnya keterangan yang saya maksud telah saya terima, untuk menetapkan suatu bentuk hubungan yang lebih tepat antara Gubernemen Hindia Belanda dengan Kerajaan Aceh. Terakhir, saya minta perhatian Sripaduka Tuanku Sultan terhadap persiapan perang yang sudah disempurnakan bahwa apabila dalam tempo 24 jam tidak diperoleh jawaban yang memuaskan atas surat saya yang lalu, maka terpaksalah saya pertimbangkan untuk mengambil tindakan tepat.

Termaktub di kapal “Citadel van Antwerpen” tanggal 24 Maret 1873.

Secara sederhana mungkin Belanda ingin mengatakan begini, “jawaban lu nggak nyambung sama pertanyaan gue.” Karena itulah Belanda harus mengulangi tuntutannya pada suratnya yang kedua ini. Kalau kita sedikit jeli, kita juga akan menemukan indikasi hubungan yang amat erat antara Aceh dengan Khilafah Islamiyah di Turki. Di dalam surat dari Aceh disebut-sebut bahwa Aceh sedang menunggu balasan dari “Sultan Turki”. Itu tak lain dan tak bukan adalah Khilafah Islamiyah. Jelaslah bahwa Aceh adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Khilafah Islamiyah. Bagaimana respon dari pihak Aceh? Insya Allah pada artikel selanjutnya.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s