Awal Perang Sabil


black sabilBagian 6 – “Mempertahankan Kemuliaan”

Sayf Muhammad Isa

Melalui suratnya yang lalu Belanda mengulang kembali pertanyaan yang diajukannya kepada Aceh. Bagaimanakah respon Aceh atas surat tersebut? Berikut saya kutipkan.

Setelah mukaddimah yang panjang dan lebar ala raja-raja. “… Kemudian daripada itu kami permaklumkan ke hadapan Sripaduka sahabat bahwa surat yang dibawa oleh Sidi Tahil telah kami terima dengan hormat dan sesudah dibaca maka paham segala maksudnya.

Dalam surat itu rupanya Sripaduka sahabat menentukan waktu bagi kami 24 jam untuk menjawab. Maka kami dengan sukacita memaklumkan ke hadapan Sripaduka sahabat bahwa pegawai kami Panglima Tibang Mohammad dan hulubalang-hulubalang yang telah berkunjung kepada Residen Riau yakni Teuku Nya’ Mohammad, wakil Teuku Kali Malikul Adil, Teuku Nakhoda Mohammad Said, wakil Teuku Nanta Seutia (beliau ini adalah ayah dari Cut Nyak Dien), Teuku Nakhoda Akub, wakil Teuku Raja Muda Seutia, dan Teuku Nya’ Agam, wakil Panglima Masjid Raya, telah membawa surat kami kepada Residen itu untuk memberitahukan supaya perkunjungannya ke Aceh ditangguhkan selama enam bulan. Sesudah 48 hari di sana untuk menunggu jawaban, maka diberitahukanlah oleh Residen kepada para utusan bahwa Gubernemen telah menerima surat kita.

Seterusnya Residen mengirim kapal perang “Marnix” kepada kami. Demikianlah keterangan para utusan yang lima orang itu. Apatah lagi sebabnya maka Gubernemen datang pula sebelum habis waktu yang disetujui itu? Apakah salah kami? Semoga Gubernemen memberitahukan, supaya kami ketahui.

Selanjutnya kami ingin menjelaskan kepada sahabat apa sebabnya rakyat kami mondar-mandir menyandang senjata di sepanjang pantai. Sebabnya ialah karena kapal perang sahabat telah berlabuh dekat sekali ke pantai. Karena rakyat mengetahui bahwa yang sedemikian tidak biasa lalu mereka ingin tahu dan mendekatinya, pun tempat berlabuh di situ bukanlah tempat yang biasa. Kami harap Sripaduka sahabat jangan sampai kecewa dan memberitahukan kepada kami pertimbangan yang lebih baik. Kami menunggu jawabal yang lebih jelas besok.

Akhirul kalam, ingin kami mengingatkan bahwa kami telah menyambut kedatangan Gubernemen Hindia Belanda dengan 24 das tembakan, padahal kami tidak dijawab dengan tembakan balasan oleh Sripaduka sahabat.

Termaktub tanggal 25 Muharram 1290 H.

Sebelum dibawa oleh Said Tahir, surat ini ditambahkan sedikit lagi, saya kutipkan sebagai berikut.

“… Kemudian daripada itu, kita maklumkan pada Sripaduka sahabat bahwa surat yang dikirimkan kepada kami sudah diterima dan paham isi seluruhnya. Dalam surat itu, Sripaduka sahabat mengatakan bahwa Sripaduka tidak senang melihat rakyat kami mondar-mandir di pantai dengan bersenjata.

Janganlah hendaknya Sripaduka sahabat salah paham, hal sedemikian tentu Sripaduka sahabat sudah maklum, sudah menjadi kebiasaan orang Aceh. Sekarang inginlah kami mendapat kabar secepatnya atas surat kami yang dikirimkan kepada Sripaduka sahabat pada hari ahad yang lalu. Sabtu depan kami akan menyampaikan kepastian pada Sripaduka sahabat, sebab kami pun insaf beberapa hari sudah Sripaduka sahabat menunggu-nunggu di sini dengan tiada mendapat kabar dari kami. Kami tidak mengingini perang dengan sahabat kami. Keinginan kami hanyalah persahabatan.

Termaktub pada 26 Muharram, Rabu, tahun 1290 H (bertepatan 26 Maret 1873).

 Demikianlah jawaban dari pihak Aceh. Menurut saya ini adalah jawaban yang rendah hati dan amat sabar. Yang menginginkan persahabatan dan hubungan yang baik. Hanya saja nampaknya Belanda telah terbakar oleh api penjajahannya sendiri.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s