Awal Perang Sabil


Jenderal Kohler, komandan penyerangan Belanda pertama ke Aceh. Awal dari Perang Sabil yang panjang.

Jenderal Kohler, komandan penyerangan Belanda pertama ke Aceh. Awal dari Perang Sabil yang panjang.

Bagian 7 – “Ancaman Lebih Keras”

Sayf Muhammad Isa

Pada hari berikutnya masih terjadi surat-menyurat antara komisaris Hindia Belanda, Niuwenhujzen, dengan Kesultanan Aceh. Belanda melakukan surat-menyurat di atas kapal Citadel van Antwerpen, Niuwenhujzen tidak mau turun ke darat sama sekali. Menurut saya hal ini adalah sebuah sikap keras kepala dan tidak sopan. Namun pihak Aceh menghadapi semua ini dengan sabar dan kelapangan dada.

Hampir setiap hari pihak Belanda dan Aceh berkirim-kiriman surat, dan kian hari berlalu, nada surat Belanda semakin kasar dan keras. Dan Belanda masih tetap tidak puas juga dengan setiap penjelasan dari pihak Aceh. Berikut saya kutipkan surat Belanda selanjutnya.

Seperti biasa, setelah mukadimah yang panjang dan lebar. “… Kemudian daripada itu saya kabarkan ke hadapan Sripaduka Tuanku Sultan bahwa surat Sripaduka Tuanku Sultan bertanggal 26 bulan ini sudah saya terima.

Sebagai Sripaduka Tuanku Sultan demikian pulalah saya tidak ingin berperang, tapi caranya Aceh bersikap kepada Gubernemen Hindia Belanda sebegitu jauh dan juga sepanjang yang saya perhatikan di waktu belakangan, pastilah berakibat tidak dapatnya dihindari perang itu, kecuali jika Sripaduka Tuanku Sultan melakukan dengan jujur perbuatan yang bersifat bersahabat dengan Gubernemen Hindia Belanda, yang seyogianya merupakan jaminan cukup bagi perkembangan selanjutnya. Satu-satunya jalan untuk itu ialah Sripaduka Tuanku Sultan mengakui saja kedaulatan Sribaginda Raja Belanda terhadap Aceh. Untuk ini saya beri waktu sampai Sabtu siang tanggal 29 Maret 1873.

Andainya Sripaduka Tuanku Sultan tidak bersedia mengakui kedaulatan Sribaginda Raja Belanda atas negeri Aceh, maka dengan tidak dapat ditarik kembali lagi akan dipertimbangkan berlangsungnya penyerangan, dengan mana saja, kecuali menggunakan kapal-kapal perang yang sudah berada semula di sini, juga dalam beberapa hari saja akan diperlengkapi dengan kekuatan bersenjata yang amat hebat yagn didatangkan dari Batavia.

Saya peringatkan pada Sripaduka Tuanku Sultan, bahwa penyerangan yang akan saya mulai itu hanya akan dapat saya tangguhkan jika Sripaduka Tuanku mengusahakan sedemikian rupa sehingga pantai dibersihkan dari penduduk bersenjata, segala kegiatan yang dilakukan di benteng-benteng dihentikan dan tidak akan dilakukan pembinaan benteng baru. Hendaklah besok pagi-pagi sekali tuntutan ini sudah dipenuhi seluruhnya.

Termaktub di kapal perang Citadel van Antwerpen pada Kamis tanggal 27 Maret 1873.

Bagaimana, cukup mengerikan bukan? Pada surat yang kali ini Belanda sudah tegas dan sudah jelas-jelas meminta kedaulatan atas negeri Aceh diserahkan saja kepada Raja Belanda. Kalau tidak mau menyerahkan kedaulatan, maka akan diserang. Bagaimanakah jawaban Aceh? Pihak Aceh mengirimkan surat yang tidak mencantumkan tanggal dan tahun. Berikut saya kutipkan.

Mukadimah ala raja-raja, seperti biasa. “… Kemudian daripada itu kami iringi harapan kami yang sungguh-sungguh agar hendaknya negeri kami jangan dihancurkan. Semoga disampaikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sesuatu yang diingini oleh sahabat kami.

Sudilah kiranya sahabat kami menyerahkan jawaban surat ini kepada si pengantar, Lebeh Muhammad.”

Ya, hanya segitu saja jawaban dari Aceh. Jawaban yang amat sabar dan rendah hati, yang terkandung kepasrahan dan ketawakalan kepada Allah. Namun di dalam surat itu tidak ada indikasi tunduk sama sekali. Aceh bahkan tidak menyinggung sama sekali apakah hendak tunduk kepada Raja Belanda atau tidak. Bahkan soal itu tidak disebut-sebut sama sekali di sana.

Hal ini amat menggalaukan Niuwenhujzen. Dia berpikir bahwa semua upaya surat-menyurat yang selama beberapa hari itu dilakukan telah buntu. Mungkin keputusan yang terberat, yakni perang, harus dia ambil. Bagaimana surat Belanda yang terakhir kepada Aceh, yang akan menjadi keputusan dari segalanya? Insya Allah akan saya sambung pada artikel selanjutnya.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s