Awal Perang Sabil


Proklamasi perang Belanda terhadap Aceh.

Proklamasi perang Belanda terhadap Aceh.

Bagian 8 – “Surat Terakhir”

Sayf Muhammad Isa

Pihak Belanda tampaknya sudah kehabisan akal bagaimana harus berhadapan dengan Aceh. Mereka berpikir bahwa Aceh benar-benar keras kepala dan sulit diajak kompromi. Surat-menyurat masih saja terjadi keesokan harinya, dan berikut adalah surat terakhir dari Belanda.

Seperti biasa, setelah mukadimah yang panjang. “… Surat Sripaduka Tuanku Sultan yang tidak memakai hari-bulan yang telah saya terima, adalah sebagai berikut (isinya disalin kembali berdasarkan surat dari Aceh yang kemarin).

Tidak terang bagi saya apakah yang dimaksud oleh Sripaduka Tuanku Sultan dengan pemberitahun itu. Karenanya saya minta kembali agar Sripaduka Tuanku Sultan mengemukakan dengan tegas dan tentu apakah Sripaduka Tuanku bersedia mengakui kedaulatan Sripaduka Raja Belanda atas Kerajaan Aceh. Tergantung kepada bentuk jawaban surat ini akan dapat saya menetapkan sikap apakah penyerangan bisa dihentikan atau tidak.

Bersama ini juga saya harus memberitahukan pada Sripaduka Tuanku Sultan ingin menghindari bahaya perang dalam negerinya maka sebaliknya Sripaduka tidak melalaikan sesuatu pun juga jawaban lebih lama dari seperlunya.

Termaktub di kapal perang Citadel van Antwerpen, tanggal 30 Maret 1873.”

Apakah Aceh bersedia menyerahkan kedaulatannya? Apakah Aceh memenuhi tuntutan Belanda? Ini dia jawaban pihak Aceh yang dikirimkan keesokan harinya, tanggal 1 April 1873.

“Surat yang telah dikirimkan oleh Gubernemen Hindia Belanda kepada kami, telah kami terima dengan baik dan paham isinya.

Surat yang telah kami kirimkan pada hari Ahad yang baru lalu telah tidak diberi tanggal, hari, bulan, hanya karena kesilapan belaka. Mengenai pemakluman yang dimaksudkan dalam surat kami kemarinitu isinya tidak lain daripada mengemukakan bahwa dari pihak kami tidak ada tumbuh sedikit pun keinginan untuk mengubah hubungan persahabatan yang sudah diikat, sebab kami hanya seorang miskin dan muda dan kami sebagai juga Guberbemen Hindia Belanda, berada di bawah perlindungan Tuhan yang Mahakuasa.

Akhirulkalam kami sampaikan salam kepada tuan-tuan sekalian.

Termaktub pada 1 hari bulan Safar 1290 H.

Lihatlah, surat Belanda yang penuh dengan angkara murka dan emosi itu masih juga dijawab dengan kelembutan dan kepasrahan, sekaligus kerendahan hati dan kemuliaan. Soal penyerahan kedaulatan tidak disebut-sebut sama sekali di dalam surat balasan Aceh itu. Tanda bahwa Aceh tidak hendak menyerahkan kedaulatannya, yang diinginkan hanyalah hidup damai berdampingan dengan negara lain.

Inilah surat-menyurat terakhir yang dilakukan oleh Belanda dan Aceh menjelang Perang Sabil meletus. Setelah datangnya balasan dari Aceh, Belanda segera mengeluarkan sebuah proklamasi perang terbuka terhadap Aceh. Itulah dia awal dari Perang Sabil yang dahsyat itu. Sebuah perang yang memuliakan para pejuang, dan menghinakan para penjajah.

Selesai

Follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s