Wawancara Dengan Teuku Lutan Puteh (1)


Sultan Alaiddin Muhammad Daud syah, sultan terakhir Aceh.

Sultan Alaiddin Muhammad Daud syah, sultan terakhir Aceh.

Belanda menyerbut Aceh pada paruh pertama tahun 1873, namun gagal. Dengan tekad baja, Aceh berhasil memberikan perlawanan sengit yang tak sanggup dihadapi Belanda. Komandan Belanda sendiri, Jenderal Johann Harmen Rudolf Kohler, tewas di depan Masjid Raya Baiturrahman. Namun Belanda tidak menyatakan menghentikan serangannya. Beberapa bulan selanjutnya, pada akhir tahun 1873, mereka datang lagi dengan armada perang yang lebih besar, beberapa bahkan menyebut dengan jumlah angkatan perang yang belum pernah dikerahkan oleh Belanda sepanjang sejarah penjajahannya di timur. Muslim Aceh memang gagah perkasa dan sulit ditaklukkan. Percobaan yang kedua ini dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten. Jenderal ini adalah jenderal tua yang telah lama malang melintang memimpin prajurit Belanda di Sumatera. Seharusnya dia sudah pensiun, namun dia dipanggil kembali khusus untuk memimpin pasukan Belanda menyerbut Aceh.

Upaya Jenderal tua ini berhasil. Pada awal tahun 1874, Belanda berhasil menerobos masuk ke Istana Darud Dunya. Namun Sultan Alaiddin Mahmud Syah melarikan diri lebih dulu. Sayangnya sultan wafat dalam perjalanan, disinyalir karena tertular wabah kolera yang dibawa Belanda (kisah tentang wabah kolera ini amat menarik).

Pada awalnya Belanda berpikir bahwa dengan menguasai Banda Aceh, mereka telah berhasil menguasai seluruh Aceh. Dengan menguasai Banda Aceh sebagai ibukota Aceh, otomatis para penguasa bawahan di seluruh Aceh akan datang dan menyatakan menyerah kepada Belanda. Rupanya dugaan Belanda meleset. Aceh tidak semudah yang dibayangkan. Perlawanan terus meledak tak peduli walau istana Aceh telah berhasil dikuasai Belanda. Selanjutnya, dengan amat terpaksa, Belanda harus mengerahkan dana dan prajurit yang besar untuk menaklukan seluruh Aceh dengan mengangkat senjata.

Pada masa-masa seperti itu, Sultan Aceh yang terakhir, yakni Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, berjuang dengan bergerilya. Beliau berpindah-pindah tempat, dan letak ibukota turut berpindah seiring dengan tempat beliau berada. Awalnya ibukota dipindahkan ke Keumala (di sekitar Pidie). Ketika wilayah ini berhasil pula ditaklukan Belanda, beliau berpindah lagi lebih dalam ke kawasan Pasai. Kisah perjuangan beliau di Pasai inilah yang akan kita simak melalui wawancara dengan seorang pengawal dan pengikut setia beliau, Teuku Lutan Puteh.

Wawancara ini dilakukan oleh seorang sejarahwan Aceh termasyur, Teungku Ismail Yakub, pada tahun 1939. Pada wawancara ini terungkap tentang kegigihan dan perjuangan kaum muslim melawan penjajah. Insya Allah pada artikel selanjutnya.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s