Wawancara Dengan Teuku Lutan Puteh (2)


Sultan Aceh, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, mendatangi pembesar Belanda di Banda Aceh (dulu Kutaraja), dan kemudian dikatakan "menyerah".

Sultan Aceh, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, mendatangi pembesar Belanda di Banda Aceh (dulu Kutaraja), dan kemudian dikatakan “menyerah”.

Wawancara ini dilakukan oleh Teungku Ismail Yakub, seorang cendekiawan sekaligus sejarahwan Aceh yang masyhur. Wawancara ini beliau lakukan pada sekitar tahun 1939. Teuku Lutan Puteh adalah seorang pejuang sekaligus pengawal Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah. Beliau menyertai Sultan keluar-masuk hutan dalam rangka menggerakkan perlawanan terhadap kaphe Belanda. Ketika wawancara ini dilakukan, usia Teuku Lutan Puteh sudah lebih dari 70 tahun. Namun beliau masih memiliki ingatan yang tajam dan tidak pikun. Mata beliau juga masih terang, beliau masih bisa memekik keras dan kuat berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya.

Ketika Teungku Ismail Yakub mengutarakan niatnya untuk melakukan wawancara, Teuku Lutan Puteh berkata, “Jangan, nanti Teungku ditangkap kaphe.”

Namun setelah diyakinkan kembali, akhirnya Teuku Lutan Puteh bersedia untuk menceritakan pengalaman hidupnya, sementara Teungku Ismail Yakub mencatatnya. Walau pun mungkin Belanda akan melarang penerbitannya, asalkan kisah itu jangan sampai hilang dengan perginya orang tua-tua, nanti bisa diterbitkan oleh generasi selanjutnya.

Teuku Lutan Puteh bercerita dengan mata bercahaya dan bersemangat sekali, terpancar kembali gairah hidup yang besar saat kisah-kisah itu berhamburan dari mulutnya. Padahal sehari-harinya, Teungku Ismail Yakub mengenali beliau sebagai seorang tua yang pendiam dan kurang bersemangat, sebagaimana lazimnya orang tua-tua.

Berceritalah Teuku Lutan Puteh.

Kaum Kaphe membuat jalan di Mulieng, yang kemudian diserang oleh orang Muslimin (orang Aceh menyebut para pejuang dengan sebutan “Muslimin”). Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Simpang Mulieng. Tempat  Teuku  Lutan  Puteh  berada  itu, tidak  berapa  jauh  dari Simpang  Mulieng.  Lalu  beliau  menyingkir  ke  tempat  yang  lebih jauh  lagi.  Maka  datanglah  berlari-larian  seorang  muslimin,  dengan sepucuk  senapan  di  tangannya,  yang  direbutnya  dari  pertempuran tadi.  Orang  itu  mencampakkan  senjata  tadi  dan  terus  melarikan diri. Teuku  Lutan  Puteh  lalu  mengambil  senjata  itu  dan  terus  menyingkir  menuju  ke  daerah  sungai  Keureutoe.  Dan  menyeberang sungai  itu,  menuju  Kampung  Lapang.  Pada  malamnya  turun  hujan lebat  dan  beliau  terus  berjalan,  dalam  keadaan  basah  kuyup,  dengan  tujuan  yang  belum  tentu.  Hanya  saja  terus  berjalan,  untuk menyembunyikan  diri.  Jangan  bertemu  dengan  kaphe.

Waktu tengah malam, sampailah beliau di rumah Uleebalang Matang Ubi, yang bernama Bintara Muda. Di sanalah beliau baru mendapatkan pakaian kering dan nasi. Setelah beristirahat sejenak, beliau kembali melanjutkan perjalanan. Beliau mendapat kabar bahwa Sultan Aceh telah berada di sebuah wilayah tak jauh dari sana. Yakni di daerah Petoe.

Ketika beliau ditanya pada tahun berapa terjadinya peristiwa ini, beliau menjawab bahwa waktu itu tidak ada catatan. Akan tetapi beberapa tahun kemudian, Sultan meninggalkan daerah Pasai. Dan kabarnya kemudian, Sultan datang ke Banda Aceh dan ditangkap oleh kaphe.

“Bukan  menyerah?”  tanya  Teungku Ismail.

“Tidak!”  jawab  beliau.  “Bagaimana  orang  muslimin  boleh menyerah  kepada  kaphe?  Kami  tidak  mengenal  menyerah.  Hanya berhenti  sebentar.  Dan  sewaktu-waktu  nanti,  bila  keadaan  sudah mengizinkan,  akan  bangun  kembali  dan  melawan.  Dan  ketika Sultan  bertemu  dengan  kaphe,  beliau  tidak  menyerahkan  negeri Aceh  ini kepada  kaphe.  Beliau  mengatakan,  bahwa  sebelum beliau ke  Kutaraja (sekarang Banda Aceh),  pimpinan  perang  sudah  diserahkannya  kepada  Teungku  Chi’ di  Tiro”. Kalau  kita  berpegang  kepada  keterangan  Teuku  Lutan  Puteh ini,  maka  kedatangan  raja  Aceh  ke  daerah  Cot  Giriek  Peutoe  adalah  kira-kira  di  sekitar  tahun  1901.  Karena  pada  tahun  berikutnya, baginda  meninggalkan  daerah  Pasei,  menuju  Pidie.  Kemudian  ke Aceh  Tiga  Sagi.  Dan  pada  tahun  1903  baginda  menemui  pembesar Belanda,  yang  dikatakan  “menyerah”  itu.

Bagaimana kisah Teuku Lutan Puteh selanjutnya? Apakah beliau berhasil bertemu dengan Sultan Aceh? Insya Allah akan disambung pada artikel selanjutnya.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s