Wawancara Dengan Teuku Lutan Puteh (3)


Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman

Berlanjutlah perjalanan Teuku Lutan Puteh untuk bertemu dengan Sultan Aceh. Keinginan yang kuat untuk bertemu dengan Sultan Aceh telah bersemayam di hati beliau sejak dulu. Kini Sultan sendiri telah berada di daerah Pasai, kapan lagi kiranya pertemuan itu harus terjadi kalau bukan saat itu juga. Karena itulah walau pun harus berjalan kaki melintasi berbilang sungai, harus keluar-masuk hutan, menempuh perjalanan yang jauh, semua itu dilakukan juga.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, barulah sampai di daerah Peutoe. Beliau bertemu dengan Uleebalang Peuteo, yang disebut Hakim Jaba. Awalnya Hakim Jaba melarang Teuku Lutan Puteh untuk bertemu dengan Sultan. Namun beliau bersikeras karena sudah sedemikian besarnya upaya yang dikerahkan dan tenaga yang dialirkan untuk berjalan sedemikian jauh demi menemui Sultan. Jangan sampai sia-sia semua yang sudah dikerjakan itu. Beliau hendak mempersembahkan senapan yang beliau bawa. Pada akhirnya Hakim Jaba mengizinkannya juga.

Pada tengah hari, sampailah beliau di daerah Cot Giriek. Untuk menemui Sultan beliau harus melewati tujuh lapis penjagaan yang ketat, yang dilakukan oleh para pejuang Muslimin. Setiap kali melewati penjagaan, beliau ditanya siapa namanya, dari mana asalnya, apa tujuannya bertemu dengan Sultan, dan beberapa hal lainnya. Kalau lulus dengan semua pertanyaan itu, barulah diizinkan bertemu dengan Sultan. Kalau tidak lulus, maka disuruh pulang kembali. Beliau berhasil menjawab semua pertanyaan.

Ketika tiba di hadapan Sultan, Teuku Lutan Puteh dipersilakan untuk menyampaikan hormat dan sembah (maksudnya bukan menyembah seperti beribadah, tetapi menyampaikan penghormatan yang takzim) ke hadapan Sultan. Beliau mendengar Sultan memanggil menterinya, Tuk Keujreun Krueng Kala, untuk menyambut tamunya dengan baik. Waktu itu Teuku Lutan Puteh tidak sendirian ketika hendak menghormat kepada Sultan, melainkan sudah berlima dengan orang-orang lain. Caranya menyampaikan sembah kepada Sultan adalah dengan duduk bersimpuh merangkak ke bumi. Lalu melahirkan takzim dan hormat ke hadapan Yang Mulia Sultan. Rencong yang tadinya di pinggang hendaklah dicampakkan ke belakang masing-masing. Tujuh kali banyaknya mengangkat daulat dan sembah, setelah itu merangkak menemui lutut dan tapak kaki sultan. Ratusan yang orang yang berada di sana tidak ada seorang pun yang berbicara. Semuanya diam, tak ada terdengar satu bisikan pun. Semuanya hanyut dalam sikap taat yang takzim.

Pada malam hari Sultan kembali ke tempat persemayamannya (sebuah istana sederhana yang dibuat darurat di tengah hutan). Sementara para bawahannya kembali ke tempat tugasnya masing-masing. Teuku Lutan Puteh bergabung dengan barisan pengawal Sultan.

Seminggu kemudian Sultan berangkat ke Krueng Rubiek, hendak menemui seorang alim dan pejuang yang terkenal, Teungku Tapa, yang berasal dari Gayo. Setelah Sultan kembali lagi ke Cot Giriek, Teuku Lutan Puteh menghaturkan sembah dan mengatakan hendak kembali lagi ke Mulieng, kampung asalnya.

Selesai

Follow @sayfmuhammadisa

2 responses to “Wawancara Dengan Teuku Lutan Puteh (3)

  1. Halo, nama saya feby. Saya sedang membuat tugas akhir tentang Perang Aceh. Saya baca tulisan anda. Menarik sekali… Kalau boleh tahu sumbernya dari mana ya? Saya sedang baca buku serupa karya Paul Van’t Veer yang berjudul De-Atjeh-Oorlog dan juga buku yang diterbitkan dinas pendidikan Aceh yang judulnya Perang Aceh di Jaman Kolonial Belanda. Sepertinya menarik sekali kalau kita bisa bertukar informasi mengenai topik tersebut. Jika tertarik mohon hubungi saya di email febyelsadiora@gmail.com terima kasih.

    • Halo juga, tema Perang Aceh memang sangat menarik. Sayangnya tidak banyak generasi kita yang meliriknya. Kisah tentang Cut Meutia saya dapat dari sumber, antara lain dari buku berjudul Cut Meutia karya Teungku Ismail Yakub. Khususnya wawancara dengan Teuku Lutan Puteh ini adalah wawancara yang dilakukan langsung oleh Teungku Ismail Yakub dengan Teuku Lutan Puteh sendiri. Senang sekali bisa bertukar wawasan tentang Perang Aceh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s