Bubarkan Hizbut Tahrir ???

arroyahTepat pada hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2013 yang lalu, puluhan mahasiswa di Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengadakan aksi massa yang menuntut dibubarkannya dua buah gerakan Islam yang sering kali dinilai “ekstrim”, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI) [lihat artikel di situs Tempo yg berjudul Mahasiswa Kupang Tolak FPI dan Hizbut Tahrir].

Saya pasang tiga buah tanda tanya pada judul di atas, yang merupakan ekspresi ketidakmengertian saya tentang apa yang dilakukan oleh para mahasiswa di Kupang itu. Kenapa mereka ingin Hizbut Tahrir dibubarkan? Mari kita bedah argumentasi mereka.

Para demonstran itu mengatakan bahwa “dua ormas Islam itu bertentangan dengan asas Bhinneka Tunggal Ika.” Mereka juga “menggelar aksi teaterikal yang menggambarkan keprihatinan soal kondisi bangsa yang sudah jauh dari semangat ke-Bhinneka-an.” Koordinator aksi yang bernama Ilo juga mengemukakan bahwa, “aksi ini merupakan bentuk keprihatinan pemuda terhadap kehidupan bangsa ini yang semakin diintervensi oleh ormas garis keras yang telah keluar dari nilai-nilai kebhinnekaan di negeri ini.” Dia juga meminta agar “pemerintah segera bubarkan FPI dan HTI.”

Jadi tuntutan mereka untuk membubarkan Hizbut Tahrir adalah karena persoalan kebhinnekaan. Mereka menuduh bahwa Hizbut Tahrir telah berperan aktif dalam melunturkan rasa kebhinnekaan di hati generasi muda Indonesia.

Jadi apa sih sebenarnya Bhinneka Tunggal Ika itu? Kita semua pasti sudah sama-sama tahu bahwa arti Bhinneka Tunggal Ika itu adalah “berbeda-beda tetapi satu jua,” yang kemudian menjadi semboyan negara kita. Lantas kenapa gara-gara adanya semboyan ini Hizbut Tahrir jadi mesti dibubarkan? Bukankah seharusnya semboyan ini membuat para mahasiswa di Kupang itu menghormati adanya perbedaan? Dengan kata lain, bukankah seharusnya mereka menghormati keberadaan Hizbut Tahrir sebagai wujud dari keberagaman itu? Saya tidak mengerti mengapa mereka minta Hizbut Tahrir dibubarkan gara-gara Bhinneka Tunggal Ika!

Kalau mereka menuduh bahwa Hizbut Tahrir harus dibubarkan karena telah keluar dari “nilai-nilai Kebhinnekaan”, lantas nilai-nilai Kebhinnekaan itu seperti apa sih? Kalau mereka ingin Hizbut Tahrir dibubarkan karena menyerukan penerapan syariah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah lantas masalahnya apa? Ada beberapa kalangan saat ini yang sering kali berusaha membenturkan Hizbut Tahrir dengan NKRI, Pancasila, dan UUD 45. Mereka menyatakan bahwa Hizbut Tahrir ingin menghancurkan negara ini dan mengganti dasar negara dengan syariah Islam, padahal negara ini bukan negera agama, melainkan negara Pancasila. Mari sama-sama kita lihat.

Di jajaran pemerintahan baik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, dihuni oleh orang-orang yang nasionalis dan pancasilais. Kecintaan mereka kepada negeri ini seharusnya tidak diragukan lagi, begitu kan? Tapi mengapa orang-orang itu menggadaikan negeri ini kepada konglomerat asing? Menjual berbagai barang tambang dan sumber daya negeri ini kepada perusahaan asing? Kenapa banyak dibuat undang-undang yang lebih menguntungkan para investor asing daripada menguntungkan rakyatnya sendiri? Kenapa banyak orang di pemerintahan itu korupsi? Kenapa subsidi untuk rakyat dihentikan, katanya seorang yang pancasilais cinta negeri ini? Ngakunya pancasilais, nasionalis, mencintai negeri ini, tapi malah berdiri paling depan untuk melego negeri ini kepada penjajah asing.

Tapi mari kita lihat, orang-orang yang menyerukan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah itu berjuang mati-matian untuk menyadarkan masyarakat agar jangan lagi kekayaan alam negeri ini dirampok asing, agar jangan lagi ada orang-orang yang sok kuasa membuat undang-undang yang lebih pro pengusaha asing daripada rakyat, agar jangan ada lagi disintegrasi di negeri ini seperti dulu Timtim terlepas dari negeri ini, melainkan menyatukannya dengan negeri-negeri Islam yang lain dalam naungan Khilafah Islamiyah. Orang yang punya akal pasti akan tahu harus mendukung yang mana. Lain hal kalau sudah gila!!!

Advertisements

Anak SMP Mesum

Rasa prihatin yang amat sangat merajai hati saya pagi ini. Karena istri saya memperlihatkan sebuah video lewat smartphone miliknya, sebuah video yang pasti akan membuat orang yang masih punya hati nurani dan moral mengurut dada. Di dalam video itu terlihat sepasang anak SMP (yang masih berpakaian seragam SMP, terlihat dari bagian bawahan yang mereka kenakan yang berwarna biru tua) sedang bercumbu. Mereka berciuman, dan tangan si cowok “bergerilya” (pasti kawan2 sudah paham maksudnya).

Parahnya, si cewek kelihatan senang-senang saja diperlakukan seperti itu. Dan parahnya lagi, aksi bejat itu disaksikan oleh kawan-kawan sekelas mereka, bahkan terlihat salah satunya berkerudung. Hal ini juga membuat saya geleng-geleng kepala. Saya melihat video itu dengan alis berkerut dan hati yang nelangsa. Saya berpikir, bagaimana perasaan orangtua dari anak-anak itu? Apa yang akan dirasakan hati mereka kalau melihat video yang memperlihatkan anak-anaknya sedang melakukan perbuatan bejat seperti itu? Kalau para orangtua itu masih punya hati nurani, pasti perasaan mereka akan hancur lebur. Masya Allah, astaghfirullah. Mungkin adalah kasus yang berhasil diungkap. Yang ada di bawah permukaan lebih mengerikan lagi.

Saya langsung ingat bahwa punya seorang anak perempuan yang manis, Maryam. Saya langsung sadar betapa bahaya besar sedang mengancamnya di luar sana. Bahaya besar yang bisa saja memangsa dirinya. Saya kuatir dan takut sekali, saya tidak rela dengan itu semua.

Di tengah-tengah dekadensi moral yang sangat akut saat ini, benteng terakhir untuk mempertahankan generasi kita agar tetap waras adalah keluarga. Hanya keluarga! Negara yang korup dan amburadul ini sudah tidak bisa diandalkan lagi untuk melindungi generasi dari kebejatan moral, sebab negara sendiri bejat moralnya. Masyarakat pun sudah tidak bisa diharapkan lagi, karena masyarakat yang ada saat ini bukanlah masyarakat yang dibangun dengan nilai-nilai luhur syariat Islam, melainkan masyarakat yang dibangun dengan semangat dan sistem liberalisme-sekular yang bebas dan menihilkan peran nurani dan agama. Masyarakat seperti ini hanya menghamba pada kenikmatan-kenikmatan jasadiah dan material. Kering dari nilai-nilai ruhaniah dan akhlak.

Sangat tinggi urgensinya untuk membentuk keluarga yang bukan hanya sakinah mawadah warahmah, tetapi juga ideologis dan Islami. Keluarga yang tunduk dan patuh pada nilai-nilai Islam, dan menjadikan Islam sebagai nafas di dalamnya. Menjadikan Islam sebagai satu-satunya asas dalam mendidik dan membangun karakter generasi. Menjadikan Alquran sebagai bacaan setiap hari, dan menjadikan nilai-nilainya sebagai cara bergaul dan berinteraksi. Keluarga adalah benteng terakhir, pertahanan terakhir, dari arus kebejatan moral di tengah-tengah masyarakat sekular yang sudah gila ini.

Ya Allah, mohon selamatkan anak-anak kami, keluarga kami, dan diri-diri kami, dari berbagai kemaksiatan di sekitar kami. Aamiin…!

Beriman Kepada Alquran

the-historical-jesus1Beberapa hari belakagan ini saya sedang asyik membaca sebuah buku berjudul The Mistery of Historical Jesus, karya Louay Fatoohi, yang diterbitkan oleh Mizan. Buku ini cukup tebal dan saya pun belum selesai membacanya, baru sampai bab-bab awal.

Selain sejarah, saya cukup menggemari kajian-kajian perbandingan agama. Saya juga menyukai tema-tema yang berkaitan dengan teologi dan sejarah Kristen. Eit jangan curiga dulu, walau pun begitu insya Allah saya tetaplah seorang muslim yang hanya menyembah Allah azza wajalla.

Kegemaran saya untuk memerhatikan tema-tema agama dan sejarah Kristen justru saya arahkan untuk memperkuat keyakinan dan memperkaya pengetahuan saya tentang bukti-bukti kebenaran Islam. Persis seperti yang pernah disampaikan oleh Conan Edogawa bahwa kebenaran itu selalu hanya ada satu. Maka kita perlu menggunakan akal kita untuk meneliti berbagai fakta dan bukti untuk menemukan kebenaran itu.

Kembali kepada buku The Mistery of Historical Jesus! Buku setebal 700-an halaman ini membahas kisah Yesus sejarah menurut beberapa sumber, Alkitab (baik kanonik mau pun apokrif), dan sumber-sumber sejarah (seperti Jewish Antiquities-nya Flavius Josephus), dan tentu saja Alquran. Biasanya ada dua sudut pandang yang digunakan untuk membedah kisah Yesus, sudut pandang pertama adalah sejarah (historis), sudut pandang kedua adalah agama (teologis). Kedua sudut pandang ini akan menggambarkan Yesus dengan cara yang berbeda.

Karena saya baru membaca buku ini pada bab-bab awal, yang membedah sumber-sumber yang digunakan oleh Pak Fatoohi dalam membedah kisah Yesus, maka saya ingin membagikan sedikit kesan tentang bagaimana seharusnya kita beriman kepada Alquran yang ada di dalam buku itu.

Beriman Kepada Alquran

Sebagai seorang muslim tentunya kita amat mengerti seberapa pentingnya rukun iman yang enam itu. Kita akan secara otomatis keluar dari Islam jika kita tidak meyakini satu poin saja dari rukun iman. Semua orang muslim tentu saja meyakini rukun iman itu, hanya saja banyak sekali orang muslim saat ini yang mempercayai rukun iman sekadar percaya saja, tanpa tahu mengapa mereka harus mempercayai rukun iman itu. Dengan kata lain banyak orang muslim saat ini yang tidak mengetahui bukti-bukti kebenaran tentang sesuatu yang seharusnya mereka yakini.

Meyakini rukun iman tidaklah cukup kalau sekadar meyakini. Keimanan seperti ini biasanya tidak akan kuat, kalau disogok dengan Indomie sebungkus kemungkinan besar akan tergadai keimanan itu, dan kasus-kasus ini sudah banyak terjadi.

Untuk menghasilkan keimanan yang kuat tentunya kita harus mengetahui bukti-bukti kebenaran terhadap hal yang kita imani itu. Jika kita mengimani bahwa Alquran adalah satu-satunya kitab yang diturunkan Tuhan dan hingga saat ini masih terjaga keasliannya, maka sebagai kaum yang mengimani kebenaran Alquran, kita mesti mengetahui bukti-buktinya. Jadi jangan sampai kita beriman kepada Alquran sekadar beriman, tanpa mengetahui  bukti-bukti kebenaran Alquran bahwa ia adalah firman Tuhan.

Nah di dalam bab-bab awal buku The Mistery of Historical Jesus itulah saya mendapatkan beberapa gambaran singkat tentang perbandingan antara Alquran yang kita yakini dengan Bibel-nya umat Kristen. Di dalam buku itu, Pak Fatoohi menggambarkan bagaimana penjelasan Alquran tentang Yesus (Almasih Isa) di dalam Alquran bersifat konsisten dan cocok dengan berbagai penemuan sejarah yang ada tentang Yesus. Sementara gambaran Bibel tentang Yesus banyak pertentangan, padahal menceritakan tentang figur yang sama, yaitu Yesus. Dari sini bisa kita ambil simpulan bahwa gambaran tentang Yesus di dalam Bibel sudah banyak dicampuri tulisan-tulisan manusia, karena itulah banyak pertentangannya.

Di dalam buku ini juga sedikit digambarkan sejarah bagaimana Alquran dikumpulkan dan dibukukan. Bahwa umat Islam memiliki hanya satu kitab suci yakni Alquran, hal itu adalah sesuatu yang amat luarbiasa. Ada berbagai mazhab yang berbeda-beda di dalam Islam, ada Syi’ah dan Sunni, namun mereka semua mengimani satu Alquran yang sama. Sementara ada banyak sekte di dalam agama Kristen, masing-masing mereka memiliki Bibel versi mereka sendiri. Kalau kita melihat ada banyak versi Bibel (yang kanonik ada 4, yang apokrif lebih banyak lagi), maka bisa kita ambil simpulan bahwa sudah bercampur antara firman Tuhan dan tulisan-tulisan manusia.

Sebagai seorang muslim, tentunya kita tidak hanya wajib mengimani Alquran, tetapi juga kita wajib memahami bukti-bukti kebenaran Alquran, bagaimana sejarah Alquran diriwayatkan dan dikumpulkan, bagaimana kerasnya upaya para Sahabat untuk menjaga kemurnian dan keaslian Alquran sepeninggal Rasulullah shalallhu ‘alayhi wa alihi wasallam. Agar keyakinan kita kepada Alquran menjadi genap dan sempurna, kemudian kita perjuangkan Alquran agar diterapkan di tengah-tengah kehidupan kita. Di sanalah pentingnya kita belajar. Wallahu a’lam.

Keberhasilan Pemerintah

Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua
Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua

Salah satu indikasi keberhasilan sebuah pemerintahan bisa dilihat dari seberapa puas rakyatnya kepada pemerintahan itu. Beberapa waktu yang lalu lembaga Pot-Tracking Institute melaporkan sebuah hasil survey yang menyoroti kinerja pemerintahan SBY-Boediono. Survey itu menunjukkan sedemikian tingginya tingkat ketidakpuasan rakyat terhadap pemimpinnya.

Kenyataan ini diungkapkan oleh Arya Budi, Manajer Riset Pol-Tracking Institute, dalam  “Evaluasi 4 Tahun SBY-Boediono: Stagnansi Kepuasan Publik terhadap Kinerja Pemerintah dan DPR” di Hotel Morrisey, Jakarta, Minggu 20 Oktober 2013 (lihat hizbut-tahrir.or.id).

Sebanyak 51% responden tidak puas dengan kinerja pemerintahan SBY-Boediono. Angka ini sebenarnya sangat wajar dan kenyataannya bisa kita lihat seterang-benderang siang hari. Orang miskin jumlahnya jutaan orang, kekayaan alam negeri ini dirampok asing, harga BBM dan listrik naik melulu, harga sembako naiknya tak terbendung, krisis moral dan korupsi, dan seabreg kasus lainnya pasti akan membuat rakyat tidak puas. Bisa jadi sebenarnya angkanya lebih tinggi dari 51%.

Rasulullah SAW merumuskan seperti apa pemerintahan yang buruk itu, sederhana saja, “Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” (HR. Muslim No. 1855). Kenapa rakyat membenci seorang penguasa dan kenapa rakyat mencaci seorang penguasa, tentu karena penguasa itu merampas hak-hak rakyat. Tentu karena penguasa itu lebih mengutamakan kepentingan asing dengan mengabaikan kepentingan rakyat. Tentu karena penguasa itu lebih sayang kepada para konglomerat asing daripada sayang kepada rakyat. Seperti itulah penguasa kita sekarang ini, dan pastilah kita sudah sering melihat rakyat kita mengutuk dan mencaci-maki penguasa ini dengan penuh kebencian. Hasil survey itu jelas sekali memerlihatkan bahwa penguasa kita adalah penguasa yang amat buruk.

Berkebalikan dari itu semua, seperti apakah penguasa yang baik itu? Tentu saja penguasa yang dicintai oleh rakyat karena penguasa itu meringankan beban rakyat, memberikan hak-hak rakyat, dan melindungi rakyat dari berbagai marabahaya. Penguasa seperti inilah yang akan dicintai oleh rakyat dan akan disanjung oleh rakyatnya.

Lebih parah lagi, sudahlah penguasa yang ada di tengah-tengah kita adalah penguasa yang buruk, sistem yang diterapkannya pun sistem yang buruk, yakni Kapitalisme-sekular. Keburukannya jadi berganda berlipat-lipat, dan yang menjadi korban pun tak lain tak bukan adalah rakyat sendiri. Dengan demikian solusi tuntas atas segala problematika dan kesengsaraan rakyat bukan hanya mengganti penguasa yang ada, tetapi juga seluruh sistem yang mereka terapkan. Tidak cukup hanya mengganti rezim yang berkuasa, tetapi juga harus mengganti sistem secara keseluruhannya. Wallahu a’lam.

Follow @sayfmuhammadisa

“Jangan Su’uzhon”

Pada kegiatan Halqah Islam dan Peradaban yang secara rutin diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia, ust Rokhmat Labib menyampaikan bahwa umat Islam sekarang ini tidak tahu siapa musuhnya (lihat http://hizbut-tahrir.or.id/2013/10/04/rokhmat-s-labib-kesalahan-besar-umat-tidak-tahu-siapa-musuhnya/). Karena kemunduran taraf berpikir yang amat parah ini, umat menjadi salah bersikap terhadap musuh-musuhnya. Mereka-mereka yang seharusnya dipandang sebagai musuh dan diperlakukan sebagaimana musuh malah dimuliakan dan digelarkan karpet merah.

Barack ObamaHal ini sudah sering kali kita lihat. Ketika Amerika masih dipimpin oleh George W Bush, negeri ini menyambutnya dengan gegap gempita. Padahal kita semua tahu bahwa dia adalah pembantai dan penjagal umat Islam. Permusuhannya terhadap umat Islam sudah terang benderang seperti siang hari. Ketika Obama naik memimpin, kondisinya pun sama saja. Dia hanya meneruskan permusuhan yang telah dipupuk semua pendahulunya terhadap umat Islam.

Pada bulan ini Obama berencana menghadiri KTT APEC di Bali, helipad seharga 2 milyar sudah disiapkan, rupanya dia tidak jadi datang. Lantas duit 2 milyar sia-sia belaka. Lebih berfaedah kalau dibangunkan sekolah di desa terpencil.

Ketika permusuhan para presiden Amerika itu sudah sangat jelas kepada umat Islam, masih ada saja elemen umat ini yang berkata “jangan su’uzhon” ketika menyikapi kedatangan mereka ke negeri ini. “Jangan su’uzhon, belum tentu mereka datang dengan permusuhan. Siapa tahu mereka datang untuk membicarakan hal-hal yang baik terkait dengan kondisi umat Islam. Bla bla bla.”

Aleppo, Syria - 08/12Saya jadi bingung, apakah orang-orang yang bicara macam begitu tidak pernah melihat darah-darah umat Islam yang tertumpah gara-gara kejahatan presiden-presiden Amerika itu? Apa mereka tidak pernah melihat foto-foto yang memprihatinkan tentang mayat anak-anak umat Islam yang bertumpuk-tumpuk? Ditaruh di mana nuraninya?

Di bawah telunjuk Obama telah banyak umat Islam yang mati dibantai, dia itu perampok dan pembunuh, sekarang ketika dia hendak datang ke muka halaman rumah kita, sementara tangannya masih basah dengan darah saudara-saudara kita, malah kita harus berprasangka baik terhadap dia? Super duper bodoh betul kita kalau begitu.

Allah SWT berfirman di dalam Alquran surah Ali Imran ayat 118, “Wahai orang-orang yang beriman, jangan kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (orang kafir) sebagai teman kepercayaanmu, karena mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan di dalam hati mereka lebih jahat lagi. Sungguh, telah kami terangkan ayat-ayat kami, jika kamu mengerti.”

Itu Allah yang bicara sendiri. Orang-0rang macam Obama itu adalah musuh umat Islam, dan kita harus memerlakukannya seperti musuh. Kalau dia mau datang ke negeri kita, ya jangan diijinkan! Kalau dia mau bikin kerjasama dengan kita, ya jangan mau!

follow @sayfmuhammadisa

Kemunafikan Politik Kaum Nasionalis

munafikKalau saya katakan bahwa pemimpin negeri ini dan seluruh jajarannya adalah orang-orang nasionalis yang kecintaannya kepada negeri ini sudah tidak perlu diragukan lagi, apakah anda menyetujuinya? Jika saya katakan bahwa para anggota dewan yang terhormat adalah kaum nasionalis yang amat mencintai negeri ini, apakah anda akan memertanyakan kata-kata saya?

Sudah seharusnya orang-orang yang menjadi pemimpin negeri ini adalah orang-orang yang paling mencintai negeri ini dan rakyatnya. Itu adalah rumusan yang paling masuk akal. Para pemimpin negeri ini pun selalu menggembar-gemborkan bahwa merekalah yang paling cinta negeri ini dan rakyatnya. Sayangnya, kebanyakan dari gembar-gembor itu hanyalah kemunafikan belaka. Sudah banyak retorika yang dilontarkan elit negeri ini, bahwa mereka mencintai negeri ini dan rakyatnya, tapi ternyata semua itu hanyalah kemunafikan belaka. Sebab sikap mereka amatlah bertolak-belakang dengan apa yang mereka gembar-gemborkan. Ust. Felix Siauw pernah menyampaikan sepotong kalimat seperti ini, “tindakan anda terdengar lebih keras di telinga saya, daripada suara anda.”

Sudah saatnya rakyat tidak lagi melihat apa yang ‘dikatakan’ oleh para pemimin itu. Sebab bicara itu mudah, lidah memang tidak bertulang kata orang. Sekarang lihatlah ‘tindakan’ yang dilakukan oleh para pemimpin itu. Saya ingin menekankan sekali lagi, jangan melihat apa yang ‘dikatakan’, tetapi lihatlah ‘tindakan’ apa yang mereka perbuat.

Kalau selama ini para pemimpin negeri ini mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mencintai negeri ini, kenyataannya semua kata-kata itu BULLSHIT belaka. Sebab tindakan yang mereka perlihatkan berlawanan sama sekali dengan kata-kata mereka. Lihat saja, kalau mereka memang benar-benar mencintai negeri ini dan rakyatnya, kenapa mereka membiarkan kontrak Freeport diperpanjang untuk mengeruk emas dari Papua? Padahal kontrak yang terdahulu belum juga habis. Kenapa mereka menaikkan harga BBM? Padahal harga BBM dinaikkan itu tidak ada manfaatnya sama sekali bagi rakyat. Naiknya harga BBM hanya berguna bagi para kapitalis untuk memuluskan jalan mereka membuka pasar eceran BBM di negeri ini. Padahal jelas-jelas dengan menaikkan harga BBM ini semua harga jadi naik, kesengsaraan rakyat jadi berlipat-lipat. Bagian mananya yang mencintai rakyat? Tapi kan dengan dikuranginya subsidi BBM ada bantuan langsung tunai bagi rakyat? Apakah bantuan langsung tunai itu cukup? Sangat jauh dari cukup, sementara kehidupan rakyat sudah jauh berlipat-lipat lebih berat akibat dinaikkannya harga BBM.

Hal yang amat sederhana dari kemunafikan kaum nasionalis yang menjadi pemimpin negeri ini bisa kita lihat dari kasus akan datangnya Obama pada KTT APEC di Bali, yang akan digelar tak lama lagi. Tidak akan mungkin seorang Obama akan berkunjung ke sebuah negara, jika tidak ada kepentingan yang dibawanya. Ah kok pikirannya su’uzhon melulu sih? Ini bukan perkara su’uzhon atau husnuzhon. Justru bodoh sekali kalau kita kaitkan hukum su’uzhon dan husnuzhon dalam kasus kedatangan Obama ini. Bahwa Obama datang ke negeri ini dengan sebuah kepentingan itu bukan lagi zhon (dugaan), tapi sudah pasti. Karena itu jelas sekali kebodohan orang yang mengatakan husnuzhon dan su’uzhon terkait dengan kasus Obama. Husnuzhon dan su’uzhon hanya dipakai untuk sesama muslim. Tidak ada itu husnuzhon dan su’uzhon kepada orang kafir. Sudah dengan gamblang dijelaskan di dalam Quran dan Sunnah, bahwa kaum kafir itu musuh yang nyata bagi kaum muslim, tidak ada lagi husnuzhon atau su’uzhon di situ.

Kalau benar pemimpin negeri ini adalah nasionalis sejati sebagaimana yang selalu mereka gembar-gemborkan, seharusnya mereka menolak kedatangan Obama. Bukannya malah menyambut Obama dengan membangun helipad dengan harga 2 milyar dengan entengnya. Sementara kalau harus mengeluarkan uang untuk rakyat susahnya na’uzubillah. Kayaknya rugiiii banget kalau keluar uang untuk rakyat. Jelas sekali bahwa pemimpin negeri ini adalah pemimpin-pemimpin yang munafik. Semua itu terlihat dari tindakan-tindakan mereka. Jangan lagi rakyat mendukung pemimpin seperti ini.

follow @sayfmuhammadisa

“Jangan Mengutuk Gelapnya Malam, Tapi Carilah Pelita!”

bright night sky
bright night sky

Saya kembali ingin membahas sebuah ungkapan yang sering kali digunakan untuk menutupi sebuah kezaliman. Apakah bahasa saya terlalu ekstrem? Apakah ungkapan di atas sering kali digunakan untuk menutupi kezaliman? Benar, ungkapan di atas sering kali digunakan untuk menutupi kezaliman. Sekarang mari kita bicarakan.

Ungkapan di atas pernah disampaikan oleh seorang politisi besar di negeri ini ketika dia hendak menyikapi aksi orang-orang yang selalu mengkritik pemerintah. Dia tujukan kalimat di atas untuk orang-orang yang kerjaannya mendemo kebijakan pemerintah. “Jangan bisanya cuma mengkritik dan mengutuk, ambillah tindakan nyata atas berbagai hal yang terjadi di sekitar kita. Jangan mengutuk gelapnya malam, karena hal itu tidak ada gunanya. Tetapi carilah pelita yang akan menerangi diri kita sendiri dan orang-orang yang ada di sekitar kita.”

Dengan demikian kalimat di atas sering kali digunakan untuk mencibir para pejuang syariat Islam yang selalu mengkritik kebijakan zalim pemerintah sebagai orang-orang yang hanya bisa mengutuk, lain tidak. Para pejuang syariat itu bisanya “OMDO” dan “NATO”, miskin aksi nyata. Benarkah begitu?

Ungkapan di atas memang terdengar mulia dan patriotis sekali di telinga saya, mungkin juga di telinga anda. Dan banyak orang sudah ditipu olehnya. Tapi sebenarnya ada sebuah kesalahan analogi, simplifikasi, dan absurditas di sana, yang kesemuanya itu “mempertakut” dan “memperkeruh”, serta menyebabkan “kontroversi” di hati saya (vicky mode on). Mari kita telaah lebih lanjut.

Dunia pasti akan selalu diselimuti oleh malam dan siang, begitu terus sejak jaman Fir’aun masih bujangan (lha?). Datangnya malam yang gelap dan menakutkan itu tidak akan bisa dicegah oleh siapa pun. Kalau malam sudah waktunya, pasti dia akan datang, tidak akan bisa ditahan-tahan. Karena itulah mengutuk datangnya malam adalah sebuah tindakan yang bodoh. Tindakan yang cerdas bukanlah mengutuk datangnya malam, melainkan memersiapkan kedatangan malam itu. Karena malam itu gelap, maka siapkan pelita. Karena malam itu menyeramkan, maka jangan keluar malam-malam, segala hal yang mungkin kita butuhkan di saat malam, persiapkan ketika masih siang. Kira-kira begitu!!!

Nah, sekarang apakah kondisi “malam” itu bisa disetarakan dengan kondisi sekarang yang penuh dengan kesengsaraan? Sekolah mahal, BBM mahal, listrik mahal, pajak tinggi, kemiskinan, penindasan, penghisapan, dan berbagai kesengsaraan yang terjadi saat ini, apakah bisa disetarakan dengan “malam”? Tentu saja tidak tepat. Dan tidak akan pernah bisa tepat. “Malam” itu adalah sebuah kondisi yang alami, dia memang sudah seharusnya seperti itu. Tanpa ada “campur tangan manusia” pun, waktu “malam” pasti akan datang, sehingga memang sebuah tindakan yang bodoh jika kita merutuki malam. Sementara itu, sekolah mahal, listrik mahal, pajak tinggi, sembako naik, kemiskinan, penindasan, penghisapan, dll, semua itu adalah hasil dari ketidakadilan manusia. Ada ulah tangan dan kezaliman manusia di sana. Dengan kata lain, kalimat “Jangan Mengutuk Gelapnya Malam, Tapi Carilah Pelita!” tidak bisa digunakan untuk kemiskinan, penindasan, penghisapan, dan seterusnya seperti tersebut di atas. Justru kita wajib mengkritisi semua kebijakan dan tindakan zalim yang sedang ditimpakan kepada rakyat itu sambil terus menghadirkan pelita dengan membantu sesama.

Jelaslah, bahwa tindakan para pejuang syariah dan Khilafah yang rajin mengkritisi kebijakan pemerintah itu adalah tindakan yang tepat. Selain itu, tindakan tersebut diwajibkan oleh Allah dan RasulNya dalam berbagai ayat Alquran dan berbagai hadits. Semua itu dilakukan agar rakyat sadar akan penipuan dan kezaliman yang ditimpakan kepada mereka, untuk kemudian bergerak mewujudkan sebuah perubahan hakiki bagi kehidupan mereka sendiri. Yakni perubahan dengan menggunakan syariat Islam sebagai dasarnya. Wallahu a’lam.

follow @sayfmuhammadisa