Senyum Membawa Luka 2


Ngakak banget!

Ngakak banget!

Nampaknya saya harus membuat pembicaraan saya tentang tema pemilu ini bersambung. Dari artikel saya sebelumnya, berarti bisa diambil simpulan bahwa saya menyuruh orang-orang untuk golput? Benarkah demikian? Golput bukanlah berarti tidak memilih, golput adalah juga sebuah pilihan. Jika di hadapan kita disodorkan daging babi masak tahi kotok, lalu bangkai kambing kuah darah segar, kemudian jeroan campur otak bangkai sapi, kita mau pilih mana? Pastinya kita tidak akan mau memilih, dan “tidak mau memilih” itu adalah sebuah pilihan juga.

Begitu juga halnya dengan pemilu. Jika saya memandang dari sudut pandang Islam, semua orang yang terlibat di dalam pemilu itu pilihan jelek. Kenapa begitu? Sebab tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersedia untuk dengan serius dan konsisten memperjuangkan tegaknya kalimatullah (syariat Islam) di muka bumi ini. Saya tahu dari mana? Lihat saja slogan-slogannya, tidak ada yang secara lantang dan tegas menyatakan bahwa mereka ingin menegakkan syariat Islam. Kalau pun di sana ada “partai Islam”, mereka tidak tegas menyerukan penegakan syariat Islam itu, karena menurut mereka syariat Islam adalah dagangan yang tidak laku. Pada akhirnya partai-partai Islam itu menyuarakan slogan yang bersifat universal saja, seperti bersih, peduli, amanah, jujur, berani, harmoni, cinta, kerja, dan hal-hal semacam itu. Dan itu semua hampir tidak ada bedanya dengan partai-partai yang tidak berhaluan Islam.

Banyak parpol Islam yang berargumen bahwa berkecimpungnya mereka di dalam demokrasi bertujuan untuk mencegah agar umat Islam tidak dipimpin oleh pemimpin kafir. Kenyataannya, sekarang partai-partai Islam itu sendiri yang mengangkat orang kafir dan memajukan mereka di dalam pemilu. Hal ini jelas sebuah kemunafikan yang nyata. Saya geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin Allah sudi menolong kalau berjuang dengan kemunafikan macam begini? Berbagai dalih kemudian dikemukakan. Katanya semua itu dilakukan hanya sebagai strategi, dan dilakukan hanya pada daerah-daerah yang umat Islamnya minoritas.

Alasan macam apa itu? Apakah itu alasan yang benar? Tentunya semua itu hanyalah alasan dan dalih, sebab logika sederhana saja sudah bisa menangkis semua alasan itu. Sebuah partai Islam, tentunya tujuannya adalah memperjuangkan Islam. karena tujuannya untuk Islam itulah makanya disebut partai Islam. karena tujuannya adalah untuk Islam, tentunya orang-orang yang berada di dalamnya pun haruslah orang Islam, sekaligus orang yang mengerti Islam. Lantas apa jadinya kalau ada partai Islam, tapi menerima orang kafir bergabung bersamanya? Ini kan kacau sekali.

Dengan demikian, jelaslah dari sudut pandang Islam, tidak ada satu pun peserta pemilu itu yang menjadikan Islam sebagai solusi. Kalau kenyataan seperti ini, bagaimana mungkin saya sebagai orang Islam bisa memilih? Karena saya sedang belajar untuk mengamalkan Islam secara sempurna (kaffah), dan Islam mengajarkan saya untuk tidak memilih siapa pun yang tidak mau menerapkan syariat Islam, maka saya tidak akan mau memilih. Lantas bagaimana kalau banyak orang Islam yang berpikiran seperti saya? Nanti umat Islam dipimpin oleh orang kafir? Bukankah itu adalah bahaya yang jauh lebih besar? Mari kita bicarakan di artikel selanjutnya, insya Allah.

follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s