Senyum Membawa Luka


poster caleg di persimpangan

poster caleg di persimpangan

Sudah banyak persimpangan jalan dan gang yang telah dihiasi oleh wajah-wajah tersenyum, pose-pose patriotis, dan slogan-slogan menggugah. Tapi semua itu malah mengingatkan saya pada sebuah lagu dangdut milik almarhum Meggy Z, Senyum Membawa Luka. Apa yang sebenarnya sedang saya bicarakan? Atau siapa? Mereka adalah para caleg yang akan bertanding di Pemilu 2014. Mereka semua cocok sekali dengan lirik teganya… teganya… teganya…

konyol banget kampanyenya.

konyol banget kampanyenya.

Mungkin saya memang apatis dan skeptis, sehingga senyuman, slogan, dan janji-janji di poster-poster para caleg itu tidak menarik hati saya sama sekali. Yang ada, malah semua senyum itu membawa luka di hati saya. Sudah banyak fakta berbicara, sejak duluuuuuu sekali, ajang pemilu yang katanya adalah wahana rakyat untuk berpartisipasi dalam politik ternyata adalah parade besar-besaran penipuan terhadap rakyat. Dan fenomena ini selalu terjadi serta terus berulang.

Saya tidak terlalu berlebihan dengan menyebut pemilu adalah penipuan, sebab kenyataannya memang begitu. Katanya melalui pemilu itu rakyat turut andil dalam mengarahkan kemudi bangsa dan negara ini, padahal tidak. yang mengemudikan bangsa dan negara ini tetap saja hanya segelintir kalangan elit yang duduk di pemerintahan. Rakyat cuma dijadikan stempel kebijakan mereka, yang ironisnya, menyengsarakan rakyat sendiri. Proses ini selalu terjadi. Dari dulu selalu begitu. Nenek tua bangkotan di Sipiongot juga tahu kenyataan ini (sarkastik hiperbolis).

Kalau pemerintahan yang terbentuk dari pemilu itu adalah wujud dari kehendak rakyat, seharusnya semua kebijakannya mencerminkan kehendak rakyat. Logika ini sangat sederhana. Tapi kenyataannya tidak begitu. Berkali-kali, kehendak pemerintah berseberangan dengan kehendak rakyat, toh kehendak rakyat itu tetap diabaikan. Mau menaikkan harga BBM, rakyat menolak, BBM tetap naik. Jadi di sebelah mana pemerintahan dari hasil pemilu itu cerminan dari rakyat? Tidak ada sama sekali.

Dengan demikian, jangan mau rakyat ditipu berkali-kali dengan cara yang sama. Keledai yang super bodoh saja tidak sudi masuk ke lubang yang sama dua kali, lalu makhluk apa namanya kita ini kalau terus-terusan ditipu dengan cara yang sama berkali-kali? Mengenaskan sekali. Lantas bagaimana? Apakah kita harus golput, tidak memilih? Apakah golput itu menyelesaikan masalah atau malah menambah masalah? Mari kita bicarakan pada artikel selanjutnya, insya Allah.

follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s