“Lu Mau Zina? Nih Kondomnya!”


Bis Kondom

Bis Kondom

Pekan Kondom Nasional 2013 sudah dimulai, yang akan berakhir pada tanggal 7 Desember nanti. Dan pesan kuat dari seluruh rangkaian kegiatan yang ada dalam program ini adalah seperti judul di atas, “Lu mau zina? Nih kondomnya!”

Kebijakan yang amat tidak bijaksana ini dihasilkan dari sesat pikir pemerintah tentang apa akar masalah dari merebaknya HIV/AIDS di Indonesia. Saya memang bukan seorang akademisi dengan gelar berderet-deret di belakang namanya, saya juga bukan seorang praktisi medis yang hapal istilah-istilah medis yang seperti istilah alien dari luar angkasa, tapi saya tahu bahwa merebaknya HIV/AIDS itu karena meluasnya perzinaan.

Zina sudah di mana-mana, dilakukan oleh berbagai kalangan, tua-muda, lelaki-perempuan, homoseksual mau pun heteroseksual. Fenomena inilah yang menyebabkan berjangkitnya HIV/AIDS. Dengan kata lain jika kita dan masyarakat ingin menghindarkan diri dari bahaya HIV/AIDS maka menjauhlah dari perzinaan. Jangan suka “jajan” di luaran. Jauhkan generasi kita dari freesex, karena itulah biang keladi dan ujung pangkal dari merebaknya HIV/AIDS.

Nah sekarang apa hubungannya Pekan Kondom Nasional ini dengan upaya meredakan gelombang HIV/AIDS ini? Jelaslah bahwa kebijakan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan HIV/AIDS. Adanya kebijakan ini bisa jadi malah akan mendorong banyak orang untuk melakukan aktifitas seks bebas, apalagi kondomnya dibagikan gratis, sampai ada bis kondomnya segala. Seperti judul di atas, kebijakan ini seolah-olah berkata, “Lu mau zina? Nih kondomnya!” Apalagi jelas-jelas bahwa kondom itu tidak akan bisa mencegah masuknya virus AIDS itu ke dalam tubuh kita. Sebab ukuran tubuh virus itu jauh lebih kecil daripada pori-pori kondom yang jauh lebih besar. Seperti kata pepatah hendak menjaring kerikil dengan jala gawang sepakbola.

Pada Konferensi AIDS sedunia yang digelar di Chiangmai, Thailand, pada tahun 1995, diumumkan hasil penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa kondom itu tidak akan pernah bisa mencegah penularan HIV/AIDS. Karena ukuran pori-pori kondom jauh lebih besar daripada ukuran virus AIDS. Pori-pori kondom besarnya 1/60 mikron dalam kondisi normal, dan membesar jadi 1/6 mikron ketika dipakai (karena melar, kan bahannya dari karet). Sementara ukuran virus AIDS adalah 1/250 mikron, kecil sekali (Al-Islam edisi 682). Bagaimana mungkin kondom bisa mencegah dari penyakit AIDS?

Jelaslah, nenek tua bangka di sipiongot juga tahu bahwa Pekan Kondom Nasional tidak ada hubungannya sama sekali dengan virus AIDS. Lalu siapa yang diuntungkan dengan adanya kebijakan ini? Tentu saja perusahaan kondom yang bekerjasama dengan pemerintah. Sebesar 2,5 milyar dihamburkan untuk membiayai program yang keliru ini, hanya untuk membeli kondom sebanyak itu, bukankah lebih baik jika digunakan untuk memberi makan rakyat miskin di seputaran Jakarta?

Seperti itulah sesat pikir rezim sekular-kapitalis. Apakah kita masih mau mempertahankan semua ini? Sudah saatnya kita beralih kepada Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s