Tua Kejemur!!!


papay the saylormen.

papay the saylormen.

Saat ini saya sedang menunggu kelahiran anak saya yang kedua. Prediksi medis menunjukkan bahwa kelahirannya tanggal 24 Desember 2013 ini. Hasil USG menyatakan anaknya perempuan. Alhamdulillah, saya bahagia sekali akan dianugerahi anak perempuan lagi oleh Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam pernah bersabda bahwa jika seseorang punya dua orang anak perempuan, dan dia berhasil mendidik kedua anak perempuannya itu menjadi anak yang salehah, maka dia telah dijamin masuk surga. Wah senang sekali saya. Persoalan selanjutnya adalah saya harus berjuang sekuat tenaga untuk mendidik kedua anak perempuan saya itu agar menjadi insan-insan unggulan yang salehah. Dan alhamdulillah, saya sudah mempersiapkan berbagai visi dan teknis-teknis operasional untuk menuju ke arah sana. Dan apa yang akan saya ceritakan di dalam tulisan ini berhubungan erat dengan hal itu.

Jadi istri saya yang sedang hamil tua itu ngobrol-ngobrol dengan tetangga. Tetangga ini adalah seorang wanita yang latarbelakangnya cukup “menarik”. Dia adalah seorang TKW yang bekerja di Malaysia sudah cukup lama, dan punya seorang anak laki-laki. Saat bekerja di Malaysia itu dia bercerai dengan suaminya dan kemudian menikah lagi. Dengan semua ini kita sedikit mengetahui kondisi apa yang terjadi pada anak laki-lakinya itu, tentunya kurang mendapatkan kasih sayang dan didikan yang baik dari kedua orangtuanya.

Ketika mengobrol dengan istri saya, si tetangga ini berkomentar tentang kehamilan istri saya ini. Dia bilang, “Nanti enak kok kalau sudah melahirkan, anak itu bisa besar sendiri dan tahu-tahu sudah besar.” Istri saya hanya tersenyum mendengar komentar itu.

Sekarang saya punya kisah yang berbeda. Sekarang giliran saya yang mengobrol dengan seorang sahabat baik saya yang baru-baru ini mendapatkan kebahagiaan kelahiran putranya. Kawan saya ini memang seorang yang amat luarbiasa. Ia adalah seorang pengemban dakwah yang gigih, punya visi besar tentang dakwah dan keluarganya. Ia juga seorang intelektualis yang soleh. Ia sering kali mencetuskan visi besarnya tentang putranya kepada keluarganya. Ia menyampaikan bahwa ia merencanakan putranya itu hafal juz amma ketika berusia tiga sampai empat tahun. Sekitar usia duabelas sampai tigabelas tahun, putranya itu ia targetkan hafal semua isi Alquran. Namun keluarganya ini berkomentar agak kurang sedap ketika mendengar visi sahabat saya tadi. “Jangan terlalu keraslah sama anak. Jangan terlalu ekstrem.” Kira-kira begitu katanya. Seolah-olah dengan memasang target ideal seperti tadi sahabat saya ini akan memaksa anaknya menghafal Quran setiap hari, dan anaknya ini akan stress, terkekang, terbelenggu, dan semacamnya. Padahal sebenarnya, sahabat saya ini menjelaskan, tidak seperti itu. Kalau kita baru menyuruh anak kita menghafal Quran ketika dia sudah besar, tentu saja hal itu akan memberatkannya. Tapi kalau hal itu sudah dimulai semenjak anak kita masih bayi, sedikit demi sedikit, tentunya hal itu akan menjadi mudah dan lebih ringan. Karena itulah sahabat saya ini memperdengarkan Quran kepada putranya yang masih bayi itu setiap hari,  agar terbentuk kebiasaan akrab dengan Quran sejak kecil, hingga kemudian menghafal Quran menjadi otomatis saja.

Obrolan-obrolan ini membawa banyak pelajaran kepada saya. Ada perbedaan kontras sekali antara si tetangga dengan sahabat saya ini. Si tetangga bisa bicara seperti itu karena dia tidak punya ilmu. Memang benar, asalkan dikasih makan seorang anak akan besar dengan sendirinya. Seorang anak akan tumbuh secara alami, dari yang tadinya kecil menjadi besar, “tahu-tahu udah gede”. Tapi apakah besar hanya sekadar besar saja yang kita inginkan, sementara otaknya idiot dan kepribadiannya jebot? Tentunya tidak kan!

Sementara sahabat saya ini, karena ia punya ilmu, ia membuat visi akan menjadi seperti apa putranya kelak, tidak sekadar besar. Tentunya cita-cita ideal dan terbaik, dan ia pasti akan mengerahkan daya upayanya untuk meraih visinya itu.

Dari sini pun saya banyak mendapat pelajaran bahwa memulai membangun sebuah keluarga pun membutuhkan ilmu dan visi. Ilmu dan visi itulah yang akan menjadi peta bagi kita untuk mengarahkan ke mana biduk keluarga itu akan menuju. Menikah memang mudah kalau hanya asal menikah, tetapi menikah dengan berbekal ilmu dan visi membutuhkan perjuangan tersendiri. Bekal ilmu dan visi inilah yang sering kali tidak dipersiapkan oleh banyak pasangan yang hendak menikah. Banyak pasangan terlalu sibuk memersiapkan uang, rumah, mobil, sementara segalanya dibiarkan saja mengalir seperti air tanpa arah yang jelas, tanpa ilmu dan visi. Semoga Allah mengajarkan dan menunjuki kita semua kepada kebaikan dan kesabaran. Aamiin.

follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s