Bedanya Abu Lahab dengan Abu Gosok


Gambar orang pitak ini tidak ada hubungannya dengan artikel.

Gambar orang pitak ini tidak ada hubungannya dengan artikel.

Saya sendiri nggak tahu apa bedanya Abu Lahab dengan Abu Gosok. Setahu saya Abu Lahab adalah seorang paman Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam yang merupakan salah seorang gembong kekufuran sekaligus penentang dakwah Nabi. Sementara Abu Gosok adalah sebuah alat tradisional untuk membersihkan piring-piring dan panci yang kotor (ehm!). Jadi apa hubungannya Abu Lahab dengan Abu Gosok? Kayaknya nggak ada hubungannya sama sekali. Lalu kenapa saya membuat judul seperti itu? Yaaa, terserah saya, ini kan artikel saya (eeaaak!).

Tapi baiklah akan saya hubungkan juga artikel saya ini dengan Abu Lahab. Jadi, pada zaman dahulu kala, sebelum Islam diturunkan, orang-orang Arab jahiliyyah itu sudah mengakui bahwa pencipta semesta alam itu adalah Allah. Di dalam Alquran surah Luqman ayat 25, Allah subhanahu wata’ala berfirman seperti ini, “Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah,’ tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Kalau kita bertanya kepada Abu Lahab, “Woy Abu Lahab, siapakah pencipta langit dan bumi?” Pastilah si Abu Lahab akan menjawab, “ya Allah lha.” Dia tahu dan mengakui bahwa Tuhan itu adalah Allah, sang pencipta langit dan bumi. Tetapi, sebagaimana kita ketahui, Abu Lahab ogah menyembah Allah, dia malah menyembah Latta, Uzza, Manat, dan Hubal. Dia juga ogah untuk taat kepada aturan Allah, dia malah taat kepada hawa nafsunya sendiri. Dengan kata lain, Abu Lahab memang mengakui bahwa Tuhan itu adalah Allah, tetapi pengakuan itu hanya di mulut saja. Karena perbuatan seperti itulah Allah menggelari dia sebagai orang kafir dan tempatnya di neraka.

Sekarang mari kita abaikan dulu orang kafir yang bernama Abu Lahab itu. Marilah kita sedikit membahas tentang sistem demokrasi yang sekarang ini tengah diagung-agungkan dan selalu dibela, bahkan oleh orang muslim. Kalau kita bersedia objektif dan jujur kepada diri dan hati kita sendiri, tentunya kita akan mengakui bahwa demokrasi itu tidak akan pernah bersesuaian dengan Islam. Tidak akan pernah sampai hari kiamat sekali pun. Demokrasi adalah sistem kufur yang tidak pernah berasal dari Islam sama sekali, dan terdapat banyak sekali dalil yang kuat yang membuktikan hal itu. Berbagai kajian telah dilakukan dan berbagai rilis telah disebarkan untuk menjelaskan betapa kufurnya demokrasi itu. Sekarang, tinggallah kita, apakah kita bersedia untuk mengakui hal itu, dengan tulus dan ikhlas, kemudian menarik diri dari hiruk-pikuk demokrasi?

Artikel ini ingin sekali saya hubungkan dengan acara Debat TVONE beberapa hari yang lalu, yang mengambil tema “Golput Haram!”. Baru saja beberapa menit saya tonton acara itu, eeehhh mati lampu. Saya jadi sebal sekali dengan pemadaman listrik bergilir yang akhir-akhir ini selalu terjadi di Medan. Namun dari beberapa menit yang berhasil saya tonton itu, terbitlah rasa keprihatinan yang amat besar di dalam hati saya. Ada orang-orang yang beragama Islam, berasal dari partai Islam, tetapi membela demokrasi habis-habisan, dan mengenyampingkan hukum Allah dengan berbagai dalih (bukan dalil), serta mencibir Khilafah Islamiyah yang merupakan satu-satunya sistem pemerintahan yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam.

Sikap seperti para politisi dari partai Islam tadi mirip (saya tidak mengatakan ‘sama’) dengan sikapnya Abu Lahab di atas. Abu Lahab mengaku bahwa Tuhan pencipta alam itu adalah Allah, tetapi dia tidak mau menyembah Allah, tidak mau taat kepada hukum Allah. Sementara para politisi muslim tadi, mereka mengakui bahwa Tuhan itu adalah Allah, mereka solat, mereka puasa, mereka zakat, mereka menaati perintah Allah dalam urusan ritual, tetapi mereka tidak mau menaati perintah Allah dalam urusan yang lebih besar lagi, yaitu menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam naungan Khilafah Islamiyah, bahkan mereka mencibir Khilafah Islamiyah itu. Mereka ragu bahwa syariat Islam akan membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Karena itulah saya menyebut sikap Abu Lahab dengan para politisi muslim tadi sekadar mirip.

Tetapi jangankan sama, mirip saja dengan perbuatan orang kafir adalah sebuah perbuatan yang tercela. Jadi jangan sampai perbuatan kita mirip dengan perbuatan orang kafir. Kita mau mengakui bahwa Tuhan itu Allah subhanahu wata’ala, kita mau solat, kita mau puasa, tetapi ketika diperintahkan untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah, kita malah menolak. Kita malah lebih memilih menerapkan demokrasi yang diajarkan orang-orang kafir. Padahal dengan mata yang amat telanjang dan nggak harus dipakein apa-apa lagi, demokrasi sudah jelas kerusakan dan pertentangannya dengan Islam. Na’uzubillahi minzalik.

Follow @sayfmuhammadisa on twitter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s