Perang Salib dan Penyakit Wahn Pada Kaum Muslim


Pengepungan Jerusalem tahun 1099.

Pengepungan Jerusalem tahun 1099.

Pada zaman dahulu kala, sekitar awal abad ke-11 Masehi, pernah terjadi sebuah perang panjang antara umat Kristen bangsa Franks dan umat Islam. Perang itu saat ini dikenal sebagai Perang Salib.

Semangat Perang Salib bangsa Franks disulut oleh Paus Urbanus II dalam khotbahnya yang disampaikan di depan para petani, para kesatria, dan para pendeta, pada tanggal 25 November 1095 di depan Konsili Clermont. Efek lanjutan dari khotbah ini adalah euforia keimanan hampir di seluruh Eropa Barat, Paus Urbanus telah mencanangkan sebuah musuh baru yang harus dimusnahkan oleh umat Kristen, yakni kaum muslim. Sebelum periode ini, umat Kristen Latin di Eropa Barat bermusuhan dengan sesama kalangan Kristen, tepatnya dengan Kristen Ortodoks Yunani di Eropa bagian Timur (Byzantium).

Setahun kemudian, tepatnya tahun 1096, berangkatlah ribuan pasukan yang dipimpin para bangsawan Eropa Barat, bersama dengan ribuan peziarah menuju dunia timur. Misi mereka adalah membebaskan wilayah-wilayah milik kekaisaran Byzantium yang telah diambil alih oleh muslim Turki Saljuk di kawasan Anatolia, kemudian dari sana berbaris terus

Godfrey de Bouillon bersama Bohemond de Taranto, dan komandan Perang Salib yang lain.

Godfrey de Bouillon bersama Bohemond de Taranto, dan komandan Perang Salib yang lain.

menuju tanah suci Jerusalem dan membebaskan Gereja Makam Suci. Adalah amat memalukan, tempat yang paling suci bagi umat Kristen berada di bawah kekuasaan kaum muslim. Beberapa kesatria yang terkenal yang memimpin Tentara Salib pertama ini adalah Godfrey de Bouillon, Bohemond de Taranto, Tancred de Taranto (keponakan Bohemond), Robert de Flanders, dll.

Ketika pada tahun 1099 Tentara Salib berhasil menduduki Jerusalem, terjadilah sebuah pembantaian besar-besaran yang menjadi luka dalam bagi sejarah umat manusia. Ribuan kaum muslim dan orang Yahudi dibantai di Jerusalem, sampai-sampai Bait Sulaiman digenangi darah setinggi kaki kuda. Begitulah kaum kafir jika berperang, mereka pasti membantai. Karena peristiwa itu terjadilah pengungsian besar-besaran kaum muslim keluar dari Jerusalem.

Salah satu sebab jatuhnya Jerusalem ke tangan kaum kafir bangsa Franks adalah karena hati kaum muslim pada masa itu sudah dihinggapi penyakit wahn. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam menjelaskan dalam salah satu hadisnya, wahn adalah sebuah penyakit hati, yakni terlalu mencintai dunia dan takut mati. Ketika itu hidup kaum muslim sudah terlalu enak, sehingga sebagian besar mereka malas berjihad. Dalam artikel ini akan saya kisahkan tentang hal ini. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua. Aamiin.

Kedatangan Para Pengungsi Perang Salib

Sejarahwan muslim abad pertengahan, Izzuddin ibnu al Atsir, mengisahkan tentang Perang Salib bangsa Franks ini. Rombongan kaum muslim yang berhasil melarikan diri dari pembantaian itu kemudian mengungsi ke negeri-negeri muslim di sekitar Jerusalem. Salah satu kota besar yang menjadi tempat tujuan pengungsian adalah Damaskus.

Dalam kondisi yang amat memprihatinkan, para pengungsi ini memasuki Damaskus dengan harapan mendapatkan pertolongan dari saudara sesama muslim. Para pengungsi ini disambut baik oleh Qadhi Abu Sa’ad al Harawi. Beliau mengatakan bahwa para pengungsi dari  Jerusalem ini tidak perlu malu untuk menjadi orang-orang yang berhijrah, sebab Rasulullah pun adalah generasi muhajirin yang pertama. Hijrah itulah yang kemudian menjadi titik tolak bagi Rasulullah untuk mengambil kembali kampung halamannya, Makkah, dan membersihkan Makkah dari berhala di kemudian hari.

Qadhi al Harawi berupaya keras memerjuangkan nasib para pengungsi Perang Salib ini. Bersama dengan serombongan pengungsi, beliau mengadakan perjalanan ke Baghdad, yang ketika itu menjadi ibukota Kekhilafahan. Beliau berniat untuk mendorong Khalifah agar membantu kaum muslim dan merebut kembali Jerusalem dari tangan bangsa Franks. Ketika itu kekuatan Khilafah Abbasiyah telah menurun dan kekuasaan politik Khalifah menjadi amat kecil. Khalifah membentuk semacam komisi, yang tentu saja tidak menghasilkan apa-apa.

Ketika itu bulan Ramadhan, orang-orang sedang berpuasa. Qadhi al Harawi bersama dengan rombongan pengungsi bergerak ke masjid Khalifah. Di masjid itu, al Harawi sengaja membatalkan puasanya dan bahkan melakukannya dengan sangat demonstratif di depan semua orang. Ketika melihat hal itu, jamaah masjid jadi tersinggung dan marah, kok ada orang Islam tengah hari bolong nggak puasa, jabatannya qadhi lagi, di depan umum pula.

Al Harawi berdiri dengan tenang, beliau mengatakan kepada semua orang, kenapa mereka begitu tersinggung jika ada orang membatalkan puasa di siang bolong, tetapi diam saja ketika tanah suci Jerusalem direbut dari tangan kaum muslim, dan saudara-saudara seiman dibantai dengan keji oleh kaum kafir? Pertanyaan itu begitu menohok, dan rombongan pengungsi itu menceritakan kembali semua tragedi yang terjadi pada Jerusalem dan umat muslim di sana. Para jamaah menangis tersedu-sedu dan berdoa, tetapi tentu saja hanya itu yang mereka lakukan. Padahal yang diinginkan al Harawi adalah mereka semua mengangkat senjata untuk merebut kembali tanah suci Jerusalem dan membela darah kaum muslim yang telah ditumpahkan. Al Harawi merasa muak, kemudian memimpin rombongan sambil berteriak di jalan-jalan, “Aku melihat para pendukung iman yang ternyata lemah.”

Kondisi saat itu mirip dengan kondisi hari ini, di mana kaum muslim bersikap apatis terhadap penderitaan saudara seaqidah yang sedang dianiaya dan terjajah. Kebanyakan kaum muslim pun tidak peduli dengan berbagai serangan kaum kafir terhadap negeri-negeri kaum muslim, yang seharusnya membuat mereka memersiapkan diri dan senjata mereka untuk memerangi kaum kafir.

Namun, satu hal yang membedakan kondisi saat itu dengan kondisi hari ini adalah kehadiran Khilafah Islamiyah di tengah-tengah kaum muslim. Saat itu, walau pun kondisi Khilafah Abbasiyah sudah sangat lemah, tetaplah kaum muslim memiliki seorang pemimpin umum yang memang diwajibkan oleh Allah dan RasulNya untuk ditaati. Keberadaan Khilafah Islamiyah itulah yang kemudian mengondisikan kaum muslim untuk memersiapkan diri dan senjata, guna merebut kembali negeri-negeri kaum muslim. Hal ini terlihat dengan berkecamuknya berbagai aksi jihad tak lama setelah direbutnya Jerusalem oleh kaum kafir bangsa Franks. Beberapa di antaranya dipimpin oleh Imaduddin Zangi dan Nuruddin Zangi, hingga pada akhirnya Jerusalem berhasil diambilalih kembali oleh kaum muslim di bawah pimpinan Shalahuddin al Ayudi.

Sementara pada hari ini, kaum muslim tidak memiliki seorang pemimpin. Tidak ada seorang Khalifah yang mengatur kaum muslim. Kondisi kaum muslim terpecah belah dalam banyak sekali negar-bangsa yang sibuk dengan urusannya masing-masing, dan tetap membuat kaum muslim tenggelam dalam penyakit wahn. Akibatnya, kebanyakan kaum muslim membiarkan saja berbagai serangan kaum kafir terhadap negeri-negeri kaum muslim. Darah saudara-saudara kita dibiarkan saja tertumpah. Memprihatinkan sekali.

Kewajiban kitalah untuk mengembalikan kepemimpinan umum kaum muslim, Khilafah Islamiyah, yang dengan itu akan terhimpun kekuatan yang amat besar, yang dengan izin Allah akan berhasil mengusir kaum kafir dari negeri-negeri kaum muslim, dan membuat kaum kafir itu membayar darah serta nyawa kaum muslim yang telah mereka bunuh dengan harga yang pantas, kehinaan mereka di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Follow @sayfmuhammadisa on twitter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s