Pertamakali ke Banda Aceh


Masjid Raya Baiturrahman hasil jepretan saya.

Masjid Raya Baiturrahman hasil jepretan saya.

Pada suatu hari istri saya pernah bilang kepada saya, bahwa dia ingin sekali kami sekeluarga berkunjung ke Banda Aceh. Hanya saja kunjungan itu tidak boleh sekadar kunjungan main-main atau tamasya saja, melainkan harus memiliki misi. Misi yang dimaksud istri saya ini adalah sebuah undangan untuk berbagi kebaikan dan inspirasi bersama dengan orang-orang di sana.

Allah SWT. memang mahamendengar. Walau pun yang berkunjung ke Banda Aceh hanya saya seorang diri, hal itu telah menjadi jawaban bagi apa yang dulu pernah dikatakan oleh istri saya. Tanggal 24 hingga 26 Januari 2014 adalah hari-hari yang tidak terlupakan bagi saya, sebab saya berkesempatan untuk berkunjung ke Banda Aceh dengan mengemban misi.

Pada Awalnya

Sekitar minggu ketiga bulan Januari 2014, saya mendapatkan sms dari mas Felix Siauw (tentunya kita telah mengenal nama beliau sebagai seorang ustadz yang tak henti menyerukan penerapan syariat Islam). Mas Felix memberitahu saya bahwa ia akan ada agenda mengisi seminar di Banda Aceh pada tanggal 25 Januari (Sabtu). Ia mengajak saya untuk datang ke Banda Aceh dan bertemu dengannya. Tanpa pikir panjang saya terima saja ajakan itu, sebab ada banyak hal yang ingin sekali saya bicarakan dengannya tentang projek-projek kami.

Rupanya sms dari mas Felix tidak berhenti sampai di situ. Detik-detik selanjutnya masuk lagi sms-sms darinya, dan kami pun berbalas sms. Mas Felix malah mengajak saya untuk menjadi pembicara juga dalam seminar yang akan diisinya itu. Ia menyampaikan temanya kepada saya, “Konsistensi Penerapan Syariat Islam di Aceh Pada Era Globalisasi.” Penyelenggaranya BEM Fisip Universitas Syiah Kuala (kampus ngetop ini tidak ada hubungan apa-apa dengan “syi’ah” lho ya!).

Sebenarnya saya kebingungan apa yang akan saya sampaikan nanti di depan semua orang, saya ragu apakah saya bisa melakukannya, menjadi pembicara. Tapi mas Felix meyakinkan saya, bahwa nanti kami akan saling dukung, dan akan saling mengisi serta melengkapi dalam menyampaikan betapa pentingnya penerapan syariat Islam. “Antum kan penulis Sabil,” katanya. Saya jadi malu. Sambil berpasrah diri kepada Allah, saya terima tawaran ini, dan saya sampaikan kepada mas Felix bahwa saya bersedia.

Keberangkatan

Rian dan saya di dalam bis.

Rian dan saya di dalam bis.

Saya dan mas Felix janjian untuk bertemu di Banda Aceh pada hari Jumat 23 Januari 2014. Karena perjalanan dari Medan ke Banda Aceh menghabiskan waktu 12 jam, berarti saya harus sudah berangkat dari hari Kamis (22 Januari). Saya naik bis cepat jurusan Banda Aceh yang mereknya “Kurnia”, berangkatnya jam setengah 8 malam. Ketika hendak naik bis di pul Kurnia, saya bertemu dengan seorang teman yang juga akan berangkat dengan bis yang sama ke Banda Aceh. Teman saya ini bernama Rian, seorang mahasiswa ITM (Institut Teknologi Medan) jurusan pertambangan. Ternyata Rian berangkat ke Banda Aceh untuk menghadiri seminar mas Felix. Langsung saja saya beritahu bahwa saya juga ke Banda Aceh untuk menjadi pembicara. Kami pun berangkat bersama.

Bis yang saya tumpangi melewati jalan lintas yang meliuk-liuk menembus malam. Saya pernah naik bis dari Palembang ke Medan, menghabiskan waktu dua hari. Alhamdulillah kalau hanya 12 jam saya masih kuat. Sekitar jam 3 pagi, bis berhenti di Bireun, di sebuah warung sate. Ternyata di daerah itu terkenal dengan sate-nya, yang disebut “Sate Matang”. Tapi karena saya sedang tidak nafsu makan, saya tidak beli sate.

Ketika saya sedang ngobrol dengan Rian di pinggir bis kami, terjadi sebuah peristiwa yang mengerikan. Awalnya terdengar suara letusan dua kali. Saya sangka itu petasan. Sedetik kemudian lewatlah dua buah mobil di jalan yang sepi dan gelap itu dengan kecepatan tinggi, sebuah kejar-kejaran seperti di film action sedang terjadi. Di  mobil yang di belakang bahkan terlihat orang menembakkan pistol dengan suara letusan yang menggelegar sekaligus percikan apinya. Seisi rumah makan geger. Saya dan Rian langsung masuk ke dalam bis. Dari obrolan-obrolan penumpang bis terungkaplah bahwa peristiwa tadi adalah kejar-kejaran antara polisi dengan sekelompok pencuri mobil. Bis pun melanjutkan perjalanan dan tiba di Banda Aceh jam setengah 9 pagi.

Ada Dua Rian

Terminal Bis Banda Aceh jadi tempat pertama yang saya kunjungi karena bis saya berhenti di sana. Di terminal bis itu saya sudah janjian dengan salah seorang koordinator panitia seminar. Saya akan dijemput di sana. Hari itu Jumat 23 Januari 2014.

Rian pun sudah mengontak dua temannya agar menjemput kami di terminal. Kami sama-sama menunggu. Tak lama kemudian handphone saya berdering. Ternyata penjemput saya telah sampai, dan ternyata ia juga bernama Rian. Sepagian itu saya bertemu dengan dua orang Rian.

Bang Rian yang menjemput saya ini tampan sekali. Kulitnya putih, dengan tubuh yang berisi, serta sisiran rambut yang rapi namun ringan dan bersahabat. Janggut yang menggelantung di dagunya menambahkan kesan gagah. Bang Rian juga bukan orang sembarangan, ia adalah pria asli Aceh lulusan sebuah universitas beken di Malaysia dan Australia.

Ketika kami bertemu, bang Rian langsung menyampaikan berbagai agenda menarik yang sudah ia siapkan untuk saya di Banda Aceh. Saya benar-benar tergiur, semua hasrat saya tentang Banda Aceh akan terpuaskan. Saya tiba di Banda Aceh jam setengah 9 pagi, sementara mas Felix baru akan tiba jam 3 sore.

Pusing-Pusing Banda Aceh

Sarapan di Dapu Kupi. Bang Rian yang paling kiri.

Sarapan di Dapu Kupi. Bang Rian yang paling kiri.

“Pusing-pusing” adalah bahasa Melayu untuk keliling-keliling. Hari Jumat tanggal 23 Januari saya diajak keliling-keliling Banda Aceh. Mantap sekali. Pagi-pagi setelah tiba di terminal, bang Rian membawa kami semua untuk sarapan di “Dapu Kupi”, sebuah kedai kopi Aceh yang buka 24 jam.

Di Dapu Kupi, ternyata Bang Fatur sudah menunggu. Saya senang sekali berkenalan dengan bang Fatur, ternyata ia adalah seorang mahasiswa Aceh yang berkuliah di Australia juga, satu kampus dengan bang Rian. Bang Fatur memiliki perawakan sedang, hitam-manis dengan janggut yang lebat dan subur hingga membuatnya terlihat seperti seorang syekh. Saya menaruh hormat pada bang Fatur. Di Dapu Kupi pun datang lagi seorang kawan yang bernama Akmal, seorang mahasiswa Unsyiah sekaligus aktivis Islam. Kami sarapan dan ngopi bersama.

Persiapan acara.

Persiapan acara.

Selepas sarapan, saya berpisah dengan Rian, Akmal, dan kawan-kawan yang lain. Saya akan ikut bersama Bang Rian dan Bang Fatur untuk memersiapkan berbagai hal yang berkaitan dengan acara besok. Pertama-tama kami berangkat ke gedung Amel Convention Hall, tempat diadakannya acara besok. Di sana saya bertemu dan berkenalan lagi dengan lebih banyak kawan baru, di antaranya bernama Teuku Muda Bentara (namanya Aceh banget ya!), biasa dipanggil Bang Muda, dan ia adalah salah satu keturunan bangsawan Aceh. Saya banyak belajar tentang sejarah Aceh dari Bang Muda yang pengetahuannya amatlah luas. Bang Muda berperawakan tinggi besar, seperti perawakan seorang pahlawan Aceh Tuanku Hasyim Bangta Muda. Selain Bang Muda, saya juga berkenalan dengan ketua BEM Fisip Unsyiah, namanya Reza Maulana, yang biasa dipanggil “Remol”. Saya juga berkenalan dengan panitia-panitia yang lain, yang penuh dengan dedikasi.

Tak lama di Amel Convention Hall, perjalanan saya keliling Banda Aceh pun dimulai. Saya ditemani oleh Bang Rian, Bang Fatur, Bang Muda, dan Remol. Saya diajak memasuki pusat kota Banda Aceh, melewati lapangan Blang Padang, lewat di kompleks Gunongan, yang dulunya menjadi tempat putri-putri istana bermain menghabiskan waktu senja. Sebelumnya saya hanya melihat Gunongan ini lewat foto tua, ketika Belanda telah menguasai Istana Darud Dunya dan prajurit-prajurit Belanda pada mejeng di sekitar Gunongan. Sekarang saya melihat yang aslinya.

Di Kandang XII, kompleks makam sultan Aceh.

Di Kandang XII, kompleks makam sultan Aceh.

Saya diajak singgah di kompleks makan raja-raja Aceh bernama Kandang XII. Ada beberapa makam di sana dengan nisan yang besar-besar, dan salah satunya adalah makam Sultan Alaiddin Riayat Syah al Kahhar, seorang sultan Aceh yang meminta bantuan kepada Khilafah Turki Utsmani untuk berjihad melawan penjajahan Portugis. “Sudah bertahun-tahun hidup di Banda Aceh baru kali ini saya masuk ke sini,” kata Bang Fatur. Saya nyengir lebar, ternyata kami senasib sepenanggungan, hehe…

Gerbang Peucut Kerkhoff.

Gerbang Peucut Kerkhoff.

Lepas dari Kandang XII, saya diajak ke pekuburan Belanda, Peucut Kerkhoff. Kompleks makam ini bersebelahan dengan Museum Tsunami yang terkenal itu. Saya pernah melihat gerbang makam Peucut Kerkhoff ini di sebuah foto tua, dan hari itu saya melihat wujud aslinya. Pemakaman ini adalah kompleks pemakaman Belanda terbesar yang ada di luar negeri Belanda, dan hal ini adalah sebuah tanda bahwa muslim Aceh gigih berjuang melawan penjajahan kaum kaphe.

Daftar nama prajurit Belanda yang mati di Aceh.

Daftar nama prajurit Belanda yang mati di Aceh.

Ketika saya dekati gerbang pemakaman itu seolah-olah saya terhanyut dengan kisah-kisah Perang Sabil yang selama ini saya geluti. Di atas prasasti yang beku dan tinggi-tinggi itu terpahat nama-nama prajurit Belanda yang mati di Aceh. Seolah-olah saya sudah mengenal nama-nama yang terukir di situ, sehingga dengan spontan saya tunjuk nama-nama itu kemudian keluarlah dari mulut saya cerita-cerita tentang bagaimana mereka mati.

Di bagian gerbang depan pada pilar sebelah kanan, ada nama Scheepens, seorang perwira Belanda yang mati ditikam ketika memimpin sebuah pengadilan atas anak dari Teuku Bentara Keumangan. Bangsawan Aceh ini tidak terima atas putusan yang dijatuhkan Scheepens atas anaknya, ketika pengadilan sedang berlangsung, tiba-tiba dia mencabut rencongnya dan menikamkannya ke perut Scheepens. Scheepens sempat hidup beberapa menit dan mendapatkan pengobatan atas lukanya sebelum akhirnya dia mengembuskan napas terakhirnya. Ada lagi nama de Bruijn, seorang perwira Belanda yang nasibnya apes. Dia sudah tunangan dan akan segera menikah dengan gadis pujaannya, tetapi dia mendapat tugas untuk memburu para pejuang Aceh. Akhirnya dia menjalankan tugas itu dengan harapan akan menikah seusai menjalankan tugas, tapi yang terjadi dia pulang tinggal nama. Di bagian tengah  pemakaman ada prasasti untuk mengenang Jenderal Kohler yang tewas pada penyerbuan pertama ke Aceh. Nisan yang paling besar dan paling tinggi di tengah-tengah adalah milik Jenderal Pel. Seorang jenderal Belanda yang menggantikan Jenderal Van Swieten ketika telah berhasil menguasai Aceh. Jenderal Pel mati mendadak ketika sedang memimpin pasukannya, kemungkinan karena serangan jantung.

Kawan-kawan terlihat takjub ketika memandang saya, ini orang bukan dari Aceh, baru pertamakali ke Aceh, tapi bercerita ini-itu tentang Aceh. Padahal saya hanya tahu sedikit-sedikit saja, dan saya berharap tahu lebih banyak lagi sebab saya amat menaruh hormat terhadap perjuangan muslim Aceh demi membela Islam yang ada di dalam dada mereka. Dan salah satu wujud paling sederhana dari penghormatan itu adalah dengan mengetahui kisah-kisah perjuangan mereka.

Saya pun meninggalkan Kerkhoff dan diajak melihat-lihat Gampong Jawa, Gampong Keudah, serta berbagai memori tentang bencana tsunami yang pernah meluluhlantakkan Aceh beberapa tahun yang silam. Dari sana saya diajak menyusuri Krueng Aceh yang agung itu, yang alirannya pernah dibelokkan oleh Sultan Iskandar Muda agar masuk ke areal istana Darud Dunya. Aliran Krueng Aceh yang masuk ke dalam istana itu dinamai Darul Isyki.

Kuala Aceh

Kuala Aceh

Kemudian sampailah saya ke Kuala Aceh, ujung dari Krueng Aceh yang langsung berbatasan dengan samudera. Biru dan indah, dan keindahan alam itu mengandung sejuta sejarah pertempuran antara yang haq melawan yang bathil. Di dekat Kuala Aceh itu kawan-kawan menunjukkan kepada saya sebuah prasasti yang menjadi tanda bahwa dahulu di situlah Sultan Alaiddin Johan Syah membangun kota Banda Aceh pertama kali.

Menjelang solat Jumat di masjid raya Baiturrahman.

Menjelang solat Jumat di masjid raya Baiturrahman.

Waktu solat Jumat pun menjelang. Kawan-kawan mewujudkan salah satu obsesi yang sudah saya pendam sejak lama, solat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman. Saya membayangkan bagaimana ketika Sultan Aceh menggelorakan semangat kepada seluruh rakyatnya untuk tetap teguh berjuang melawan penjajahan, sebab invasi Belanda sudah di depan mata. Masjid bersejarah yang selama ini hanya saya lihat di foto-foto lama, kini berdiri megah di depan mata saya.

Sehabis solat Jumat kami makan siang, menunya gulai kambing dan ayam kampung goreng. Tak lama setelahnya, saya ikut dengan kawan-kawan untuk menjemput mas Felix yang sudah mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda. Mas Felix sampai sekitar jam setengah 3 sore, lebih cepat daripada dugaan. Mas Felix langsung dibawa ke tempat ngopi yang katanya menjadi tempat ngopi yang awal-awal di Aceh, namanya Solong. Rombongan kami yang awalnya hanya satu mobil langsung beranak menjadi dua mobil. Semuanya bersukacita dengan kehadiran Mas Felix.

Baru nyampe langsung diajak ngopi.

Baru nyampe langsung diajak ngopi.

Di Solong kami mencoba kopi Aceh yang terkenal itu, dan kopi Aceh memang beda. Ada yang namanya Poncho, yang katanya kopi yang paling kuat. Ada yang namanya sanger, ini yang saya minum. Sanger ini warnanya lebih terang, seperti kopi susu.

Mas Felix alih profesi. hehe...

Mas Felix alih profesi. hehe…

Kami solat ashar di salah satu masjid yang selamat secara ajaib dari tsunami, namanya masjid Baiturrahim yang letaknya di Uleelheu. Ketika bangunan-bangunan di sekitarnya rusak, masjid ini tetap tegak berdiri, mencerminkan betapa mahakuasanya Allah subhanahu wata’ala.

Jalan masuk ke museum Tsunami.

Jalan masuk ke museum Tsunami.

Menjelang sore kawan-kawan mengajak berkunjung ke Museum Tsunami Aceh. Sebenarnya museum sudah tutup, tapi dengan lobi sana-sini akhirnya pihak manajemen bersedia memberikan kesempatan khusus untuk kami. Saya merasakan hampir seluruh bagian dari museum ini sendu dan pilu. Di awal kami melewati lintasan yang gelap dan penuh dengan percikan air karena di bagian dindingnya dialiri air. Kata kakak pemandu, bagian ini mencerminkan gelap dan hitamnya musibah tsunami itu. Lepas dari sana ada ruangan yang menjulang tinggi ke atas dan di dindingnya terpahat nama-nama korban tsunami yang amat banyak. Di puncak ruangan yang melingkar itu, ada cahaya putih yang berukirkan lafaz “Allah”. Ruangan ini mencerminkan bahwa kita semua pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Saya juga menonton bagaimana kengerian bencana tsunami itu di ruang audio visual museum. Saya cuma bisa menatap dengan pilu dan sedih, kalau Allah berkehendak tentang sesuatu tak ada sesiapa pun yang bisa menghentikannya. Kalau kata bang Muda, ada video-video yang lebih mengerikan lagi daripada yang ditunjukkan museum. Masya Allah.

Miniatur tsunami. Ngeri banget!

Miniatur tsunami. Ngeri banget!

Dari sana kami diajak melihat sebuah kapal yang disapu tsunami hingga terhempas jauh ke daratan, namanya PLTU Apung. Katanya di bawah kapal yang berat itu masih ada jasad-jasad korban, wallahu a’lam. Perjalanan berlanjut, saya diajak melihat rumah Cut Nyak Dien, seorang mujahidah tangguh, di Lampissang. Sayangnya saya tidak bisa masuk karena sudah sore. Menjelang magrib kawan-kawan mengajak kami ke masjid Rahmatullah. Masjid ini adalah juga salah satu masjid yang selamat dari tsunami padahal semua bangunan di sekitarnya rata dengan tanah. Masjid ini mendapatkan bantuan dari Turki, terlihat lambang bulan sabit Turki di gapuranya. Di sini Mas Felix menjelaskan tentang mengapa Turki menjadikan bulan sabit dan bintang sebagai lambang mereka. Mas Felix bercerita tentang Impian Osman dan Kizil Elma (Apel Merah).

Ketika waktu magrib telah tiba kami solat di masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini seolah-olah menebarkan pesonanya ketika malam tiba. Habis dari sana kami diajak makan di daerah Peunayong, di rumah makan yang cukup terkenal dengan mie acehnya, namanya Mie Razali. Saya merasakan sendiri bahwa kelezatan mie aceh di sana bukan isapan jempol belaka.

Sebuah naskah kuno milik Pak Tarmizi.

Sebuah naskah kuno milik Pak Tarmizi.

Sehabis solat isya di masjid Oman, kami diajak berkunjung ke rumah Pak Tarmizi Hamid. Beliau adalah seorang kolektor naskah kuno yang punya koleksi lebih banyak daripada museum. Kalau  museum hanya memiliki 250 manuskrip, beliau memiliki 400an manuskrip. Semuanya masih terjaga dan terlindungi dengan baik. Beliau bercerita banyak tentang pengalaman beliau mengumpulkan naskah-naskah kuno. Ada banyak orang, termasuk pemerintah yang menawarkan kepada beliau agar menyerahkan saja naskah kuno itu, tetapi beliau menolaknya. Beliau tidak memercayai mereka semua sebab mereka hanya akan menjual naskah kuno itu untuk kepentingan mereka sendiri. Miris sekali. Saya tanya kepada Pak Tarmizi apakah beliau punya Hikayat Prang Sabi? Ternyata beliau

Saya menyerahkan novel saya yang berjudul "Sabil" kepada Pak Tarmizi.

Saya menyerahkan novel saya yang berjudul “Sabil” kepada Pak Tarmizi.

punya, tapi karena ada sekian banyak naskah dan memerlukan banyak waktu untuk mencarinya, saya jadi tidak bisa melihatnya. Sayang sekali. Salah satu naskah asli Hikayat Prang Sabi pernah saya lihat di Perpustakaan Nasional Jakarta. Setelah dari rumah Pak Tarmizi, selesailah perjalanan kami seharian itu. Kami diantar ke tempat kegiatan di Amel Convention Hall untuk persiapan akhir setelah itu saya dan mas Felix diantar ke hotel. Nama hotelnya Oasis Atjeh Hotel. Saya menginap sekamar dengan mas Felix, alhamdulillah bisa selonjorkan badan.

Namun ternyata pekerjaan belum selesai. Setelah mengobrol berbagai hal dengan Mas Felix, saya mulai memersiapkan slide untuk presentasi saya besok. Saya sudah tahu apa yang hendak saya sampaikan, tapi saya belum punya slide, maka saya buat slide kilat dengan koleksi-koleksi foto Aceh yang saya punya. Malam ini Mas Felix sendiri pun belum tahu akan mempresentasikan apa yang berkaitan dengan tema, tapi semuanya beres setelah membuka-buka beberapa file. Saat sedang menyiapkan slide, terdengar bel berbunyi. Ternyata yang datang Bang Rian, membawakan nasi goreng pesanan mas Felix. Karena merasa yakin tak akan bisa menghabiskan sebungkus nasi goreng itu, Mas Felix mengajak saya makan sebungkus berdua (padahal perut saya sudah kenyang, hehe).

Ija Mirah, Ija Puteh…

Solat subuh di masjid raya Baiturrahman. Bang Rian, Bang Fatur, dan Bang Muda mengantarkan saya dan Mas Felix naik mobil Nissan Xtrail warna hitam. Setelah menikmati tausyiah subuh kami sarapan. Kami dikembalikan ke hotel untuk bersiap-siap.

Ketika tiba di tempat acara, ruangan sudah penuh. Saya dan mas Felix pun bersiap-siap. karena akan membawakan materi pembuka, saya diantarkan ke depan lebih dulu. Setelah nasyid barulah giliran saya naik menyampaikan presentasi. Saya membawakan sebuah materi berjudul The Spirit of Aceh. Sebenarnya materi ini berisi foto-foto sejarah Aceh, sebab saya hanya ingin berbagi cerita dengan generasi muda Aceh tentang siapa mereka sebenarnya, anak cucu harimau. Sebelum saya mulai bercerita saya sampaikan kepada mereka bahwa saya bukan orang Aceh sama sekali, dan saya tidak bisa bicara bahasa Aceh sedikit pun. Tapi kemudian saya bacakan hikayat-hikayat Aceh untuk mereka, yang sepertinya membuat mereka takjub. Ada orang asing, tapi banyak bicara tentang Aceh. Saya ingatkan kembali bagaimana gigihnya Cut Nyak Dien berjuang, tentang Teungku Cik di Tiro, Pocut Gambang, dan beberapa pahlawan Aceh yang lain. Semoga kisah-kisah saya bisa memberikan bekas yang baik kepada semua, bahwa kita mesti hidup demi Islam dan mati dalam membela Islam. Pada akhir kisah saya, saya bacakan lagi sepenggal Hikayat Prang Sabi, Ija Mirah… Ija Puteh…

Saya tak bicara lama-lama. Setelah saya, Mas Felix langsung naik untuk melanjutkan dengan pemaparan materi utama, yang judulnya “Bagaimana Membangkitkan Islam.” Sebuah materi yang amat penting dan relevan dengan kondisi umat saat ini yang sedang berada dalam masa kemunduran. Seperti biasa, Mas Felix menyampaikan materinya dengan amat jelas dan meyakinkan yang dibalut dengan gaya bicaranya yang cepat dan mengalir. Mas Felix menjelaskan tentang tiga pilar Islam yang dengan tegaknya ketiga pilar itu, maka akan tegak pulalah Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Sementara jika tiga pilar itu rusak salah satu, Islam tidak akan bisa tegak dan akan tenggelam dalam kancah pergaulan dunia. Tiga pilar Islam itu adalah penerapan Islam oleh individu, masyarakat, dan negara. Saat ini individu dan masyarakat masih banyak yang menerapkan aturan-aturan Islam, hanya saja tidak ada satu negara pun yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Dengan kata lain, satu pilar Islam, yakni negara, telah rusak, dan karena hal inilah Islam mengalami kondisi yang memprihatinkan.

Seluruh pemaparan yang saya dan mas Felix sampaikan ditujukan untuk membentuk pemahaman bahwa para pendahulu kita adalah pembela-pembela penerapan syariat Islam yang tangguh. Mereka mengorbankan apapun yang mereka punya untuk membela tetap tegaknya syariat Islam, dan apa yang telah mereka lakukan haruslah dikenang dan diteladani. Seluruh sepak terjang mereka terekam dalam lembaran-lembaran sejarah yang agung. Tugas kita saat ini adalah melanjutkan perjuangan mereka untuk membangkitkan kembali Islam yang telah lama dinistakan orang, dengan cara menegakkan seluruh pilar-pilar Islam. Beberapa kawan mengatakan kepada saya bahwa kolaborasi saya dan mas Felix sebagai pembicara apik dan saling melengkapi. Alhamdulillah…!

Setelah sesi tanya jawab, acara pun diakhiri. Alhamdulillah, seluruh rangkaian acara berjalan dengan baik dan menginspirasi. Di sela-sela acara, Mas Felix masih melayani keinginan beberapa peserta dan panitia untuk berfoto, padahal ia sudah bilang bahwa ustadz bukan artis, hehe… Ada juga seorang peserta akhwat yang kata panitia datang jauh-jauh dari Medan khusus untuk menonton Mas Felix. Dia adalah salah satu penggemar Mas Felix. Akhwat ini sampai terharu dan tegang, bahkan sampai menangis ketika melihat mas Felix, sampai-sampai celak di matanya luntur. “Mbak… Mbak, saya tetap manusia biasa mbak,” kata mas Felix. “Nyebut mbak, nyebut,” kata saya.

Saat acara selesai saya bertemu dengan kawan-kawan yang tidak saya sangka-sangka ternyata hadir juga di acara itu. Ada bang Musri dan Pak Gunawan yang datang dari Langsa. Ada juga Ali Akbar, anak Aceh lulusan STT PLN Jakarta yang saat itu sudah bertugas di Banda Aceh. Bersama-sama dengan mereka kami makan siang di sebuah rumah makan dengan menu utama “Ayam Tangkap” (baru saat itu saya melihat apa yang disebut ayam tangkap).

Sekitar jam setengah 3 sore, saya, Bang Rian, dan Bang Fatur, mengantar Mas Felix menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Kawan-kawan yang lain mengantar di mobil yang lain. Terjadilah sebuah perpisahan yang penuh dengan kenangan. Semoga ikatan persaudaraan yang tulus dan kuat karena akidah membawa kami semua upaya untuk menerapkan syariat Allah dengan sempurna di muka bumi ini. Persis seperti para pendahulu yang rela mengorbankan segalanya demi Islam.

Tidak Langsung Pulang

Saya tidak langsung pulang. Kawan-kawan mengantarkan saya ke maktab Hizbut Tahrir di Banda Aceh, yang letaknya di kawasan Lamreung. Di sana saya bertemu lagi dengan Pak Gunawan dan Bang Musri yang sudah duluan tiba. Saya berkenalan dengan Ustadz Ferdi, sebagai pimpinan Maktab. Saya juga bertemu lagi dengan Akmal, yang khas dengan ucapan salamnya yang imut. Saya juga ngobrol-ngobrol singkat dengan salah seorang kawan yang memiliki karya yang unik sekali. Ia menulis buku tentang jejak Freemasonry dan Yahudi di Banda Aceh. Unik sekali kan? Sayangnya saya tidak sempat bertanya siapa namanya. Saya juga bertemu bang Iqbal yang punya tsaqofah yang bagus dan tidak pernah ragu untuk menjelaskan berbagai hal dengan pandangan Islam. Ada juga Irfan dan Ustadz Rahmat Ibnu Umar.

Acara Kasatmata di Banda Aceh.

Acara Kasatmata di Banda Aceh.

Pak Gunawan mengajak saya untuk menginap semalam di Maktab karena keesokan harinya ada kegiatan Hizbut Tahrir di Banda Aceh, di Masjid Alfurqon Beurawe. Nama acaranya Katamata (Kajian Strategis Masyarakat Aceh), dengan tema Maulid Nabi. Setelah dapat ijin dari Kapolda (maksudnya istri saya, hehe) menginaplah saya di Maktab.

Bang Musri dan Rian, lagi pada nyantai!

Bang Musri dan Rian, lagi pada nyantai!

Kalau sesama aktifis dakwah sudah bertemu, pastilah yang terjadi adalah mengobrol tentang perjuangan menyerukan Islam. Itulah yang terjadi pada malam saya menginap di maktab Hizbut Tahrir Banda Aceh. Saya mengobrol dengan Pak Gunawan, Bang Musri, Bang Iqbal, Irfan, dan kawan-kawan yang lainnya sampai lewat larut malam. Sampai-sampai saya tidak sadar bahwa saya sudah tertidur. Seperti itulah kalau persaudaraan sudah diikat oleh ideologi Islam dan perjuangan, semuanya menjadi lebih dekat dan akrab. Semoga Allah memberikan barokah dan rahmat kepada seluruh pejuang Islam, dulu, kini, dan selamanya. Aamiin.

5 responses to “Pertamakali ke Banda Aceh

  1. Wew tuntas mas ўªãª… keren abis… jadi pengen belajar nulis juga ne… insya allah dalam agenda depan bersama ustadz felix mas ikot kelangsa juga kan… jadi pemateri juga… dan tentunya akan ada cerita baru tentang langsa setelahnya… asek…asek… heehe

  2. duh, ngebacain blog abang, jadi kangen masa-masa halqoh bareng dulu nih.. hehe

    tetap semangat bang, semoga kita bisa istiqamah, hingga Islam tegak menyeluruh atau kita binasa karenanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s