Hikayat Prang Sabi – The Most Powerful Poem!


Naskah asli Hikayat Prang Sabi. sumber Wikipedia.

Naskah asli Hikayat Prang Sabi. sumber Wikipedia.

Beberapa tahun yang lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Perpusatakaan Nasional Republik Indonesia yang beralamat di jalan Salemba Raya 28A Jakarta Pusat. Waktu itu, apa yang ada di kepala saya saat pertama kali memasuki gerbangnya adalah, saya ingin mendapatkan beberapa buku yang jadi referensi tentang Perang Sabil. Buku-buku tersebut di antaranya: Aceh Sepanjang Abad (oleh Muhammad Said), Aceh (oleh Zentgraff), Sastra Perang (oleh Teuku Ibrahim Alfian), dan beberapa buku lainnya. Sayangnya Cuma Aceh saja yang saya dapat.

Ketika itu saya teringat sesuatu, mungkin saja Hikayat Prang Sabi yang terkenal itu ada di sini. Maka saya cek lagi katalog yang berderet-deret itu, dan saya menemukannya. Saya tulis nomor panggilnya, dan saya tandai di lantai berapa karya sastra itu bisa saya temukan. Setelah semuanya siap saya bergegas ke sana. Ketika saya tiba di lantai yang saya tuju, hati saya merasa takjub. Ternyata lantai itu khusus untuk tempat menyimpan manuskrip-manuskrip kuno. Lemari-lemari kaca berjajar di dalamnya, memuat lembaran-lembaran berwarna cokelat baik dari kulit, daun lontar, ataupun dari kayu. Saya langsung terpana. Dan ruangan itu sepi. Datanglah seorang lelaki muda, kelihatannya pintar, dan memang benar-benar pintar, sebab dialah yang menjelaskan banyak hal kepada saya tentang berbagai naskah kuno yang ada di dalam ruangan itu. Kemudian saya tanyakan kepadanya tentang Hikayat Prang Sabi yang saya cari. Dia bilang naskah itu ada. Dia bergegas masuk ke bagian dalam ruangan itu. Saat keluar lagi, dia sudah membawa sebuah buku kecil yang secara umum telah berwarna cokelat saking tuanya. “Ini dia Hikayat Prang Sabi.”

Di atas meja pada ruangan itu saya menatap buku kecil itu, saya terpana. Hikayat Prang Sabi ditulis dengan Aksara Arab tapi berbahasa Aceh. Saya sama sekali tidak bisa membacanya. Saya tanya juga kepada lelaki muda sang pustakawan tadi, ternyata dia juga tidak bisa membacanya karena dia mempelajari displin ilmu yang berbeda, yaitu naskah Jawa kuno. Librarian yang ahli untuk naskah Melayu Kuno dan Aceh sedang tidak masuk. Yah, akhirnya saya hanya menikmati wujud fisik dari naskah itu saja, tanpa bisa memahami apa maknanya.

Hikayat Prang Sabi ditulis di atas kertas yang tebal sekali, hampir mirip karton, bahkan lebih tebal lagi daripada karton. Semua bagiannya telah berwarna cokelat, dan seluruh tulisannya dibuat dengan tinta hitam. Saya tidak tahu itu tulisan tangan siapa, tapi saya melihat tulisannya bagus sekali. Naskahnya ditulis dalam dua kolom. Librarian muda itu menawarkan kepada saya untuk memfotokopi naskah itu lewat media film-nya (mahal sekali, selembar 3000 perak). Ada kebahagiaan tersendiri bahwa saya telah berkesempatan untuk melihat salah satu salinan naskah asli dari Hikayat Prang Sabi.

Dari beberapa sumber yang saya dapatkan, Hikayat Prang Sabi adalah karya sastra yang paling ditakuti oleh Belanda. Sebab karya sastra ini mampu menggelorakan semangat jihad melawan penjajah. Hikayat ini kerap kali dideklamasikan di masjid-masjid dan meunasah-meunasah. Belanda melarang siapapun menggenggam naskah ini, jika kedapatan akan langsung disita. Karena itulah saat ini salinan Hikayat Prang Sabi ada di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda.

Tak lama setelah Hikayat Prang Sabi dibacakan, biasanya akan ada saja opsir Belanda yang terluka karena ditikam atau ditembak oleh orang Aceh. Dalam skala lebih besar, karya sastra ini akan melipatgandakan keberanian dari para pejuang Aceh untuk bertempur sampai akhir melawan Belanda. Kenyataan ini bisa kita ketahui –salah satunya- pada buku berjudul Aceh yang ditulis oleh seorang wartawan Belanda bernama Zentgraff (akhirnya secara tak disangka-sangka saya bisa memiliki buku penting ini). Mudah-mudahan karya sastra ini bisa menjadi amal jariah yang tak putus-putus bagi penulisnya, Teungku Cik Pante Kulu. Dan kita semua terpacu untuk terus menulis, juga sebagai amal jariah di akhirat kelak.

Nibak mate di rumoh inong
Bahle meukeunong seunjata kaphe
Nibak mate di ateuh tilam
Bahle lamseuh prang syahid meugule

Daripada mati di bilik pengantin
Lebih baik peluru kafir menembus tubuh
Daripada mati di atas tilam
Biar dalam perang syahid tubuhku luluh

Hikayat Prang Sabi
Teungku Cik Pante Kulu

follow @sayfmuhammadisa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s