Matinya Kapitein Webb (Sebuah Kisah dari Perang Sabil)


Gerbang kehormatan Peucut Kerkhoff masa kini.

Gerbang kehormatan Peucut Kerkhoff masa kini.

Ketika untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Banda Aceh, saya menyempatkan diri singgah di Peucut Kerkhoff (selanjutnya saya sebut ‘Peucut’ saja). Tempat ini adalah taman pekuburan militer Belanda yang terbesar di luar negeri Belanda. Letaknya di Banda Aceh, persis di sebelah Museum Tsunami.

gerbang kehormatan peucut kerkhoff masa silam.

gerbang kehormatan peucut kerkhoff masa silam.

Ada banyak prajurit Belanda baik perwira tinggi maupun rendah yang berkeinginan untuk dikuburkan di Peucut. Pada masa itu (paruh kedua abad ke-19), bisa dikuburkan di Peucut adalah sebuah prestise tersendiri. Salah satunya adalah Gubernur Belanda terakhir di Aceh, namanya van Aken. Sebenarnya van Aken mati di Batavia pada tahun 1936, tapi dia berwasiat agar dikuburkan di Peucut bersama dengan teman-teman seperjuangannya. Akhirnya pemerintah Hindia-Belanda mengabulkan keinginan itu dan mengirimkan jenazah van Aken ke Aceh. Sampai hari ini kita masih bisa menemukan nisan van Aken di Peucut.

Kapitein Webb

Kapitein Webb

Namun saya bukan hendak berkisah tentang van Aken. Saya ingin bercerita tentang seorang perwira Belanda yang bernama George Johan Albert Webb, yang tugu kenangan dan nisannya saya saksikan ada di Peucut. Siapakah gerangan Kapitein Webb ini?

Namanya George Johan Albert Webb. Dia dilahirkan pada tanggal 23 Juli 1861 di Batavia, dari pasangan Samuel Arthur Webb dan Johanna Charlotta Geertruida Alexandrina Muller Kruseman (namanya panjang amat!). Pada bulan Desember 1884, dia diangkat menjadi letnan pada pasukan infanteri Koninklijke Nederland Indies Leger (KNIL). Pada tahun berikutnya dia dikirim bertugas ke India.

monumen untuk webb di peucut, masih ada sampai sekarang.

monumen untuk webb di peucut, masih ada sampai sekarang.

Di tahun 1887 dia ditugaskan di Aceh di dalam Batalion Infanteri ke-12. Pada tanggal 12 Oktober 1887 di pertempuran dekat Kuta Rajabedil (Kuta Pohama) dia menunjukkan keberanian yang luarbiasa yang memuaskan pimpinannya. Karena prestasi dan keberaniannya di setiap pertempuran dia dianugerahi medali Gouden Kroon (Mahkota Emas). Pada pertempuran di Samalanga dia pun menunjukkan prestasi yang luarbiasa sehingga pada tanggal 23 Oktober 1901 dianugerahkanlah medali Militaire Willems-Orde kelas IV kepadanya, oleh Jenderal Johannes Benedictus van Heustz. Medali ini adalah medali paling bergengsi di kerajaan Belanda dan tidak diberikan kepada sembarang orang. Webb kemudian ditunjuk sebagai komandan Divisi Ketiga Marsose dan kepala administrasi sipil di Lamnyong. Kapitein Webb memang bukan orang sembarangan. Namun sehebat apapun Kapitein Webb, dia harus bertekuk lutut di hadapan kegigihan dan keberanian pejuang Aceh.

Pada bulan Januari 1902, Kapitein Webb memimpin langsung pasukan Marsose dalam pengejaran terhadap Panglima Polem dan pasukannya di kawasan Leubeue Minyeuk (Lhok Sukon). Ketika melintasi hutan yang amat lebat dan rapat itu, tiba-tiba sebatang kayu besar terayun dengan deras dari atas, dan menghantam kepala Kapitein Webb serta beberapa orang anak buahnya. Kepalanya hancur lebur dan otaknya tercerai-berai. Dia tewas seketika. Jebakan batang kayu itu telah diasiapkan oleh para pejuang Aceh. Karena saking mengerikannya kondisi jenazah Webb, istrinya sendiri tidak diperbolehkan untuk melihatnya. Pada nisan Webb terukirlah sejarah bisu, betapa gigih dan kuatnya perlawanan kaum muslim Aceh terhadap invasi kaum kaphe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s