Mengerikannya Demokrasi!


Hiiiiiyyyyyy!!!!

Hiiiiiyyyyyy!!!!

Semakin dekat saja rasanya perhelatan akbar demokrasi di negeri ini, Pemilihan Umum (pemilu). Pasti ada banyak pihak yang berdebar-debar karenanya. Terutama para anggota parpol, para caleg, dan para capres. Rakyat kebanyakan juga tentunya berdebar-debar, karena hasil dari pemilu ini ‘katanya’ akan memengaruhi apa yang akan terjadi pada bangsa ini untuk lima tahun ke depan. Karena hal ini pemilu menjadi begitu penting.

Sayangnya euforia demokrasi ini kemudian banyak menipu kita. sebab sebenarnya betapa mengerikannya demokrasi bagi rakyat dan negeri ini. Hal ini bisa kita lihat dari pemilu yang akan dilangsungkan saat ini, dan hal ini selalu saja berulang.

Dalam salah satu wawancaranya dengan tabloid Media Umat, Ichsanuddin Noorsy mengatakan bahwa setiap capres paling tidak membutuhkan sedikit 5 triliun untuk membiayai seluruh proses pemilihan hingga menjadi presiden.

“Jadi kalau Cuma 3 triliun itu terlalu sedikit. Saya duga dua kali lipat atau paling tidak 5 triliun,” tandasnya (Media Umat edisi 121, 7 – 20 Februari 2014). Dari sini, jika kita jeli, pasti kita akan melihat betapa mengerikannya demokrasi. Sistem ini menciptakan mekanisme suksesi kekuasaan dengan biaya yang amat mahal, dan ini fatal sekali akibatnya. Hal ini menjadi kan seluruh mekanisme pemilu itu hanya sebagai perhelatan penipuan besar terhadap rakyat. secara sederhana, mari kita perhatikan.

Untuk menduduki jabatan sebagai presiden memang membutuhkan biaya yang banyak. Agar bisa terpilih tentunya para capres harus mendongkrak popularitasnya di hadapan rakyat. untuk mendongkrak popularitas itu dibutuhkan biaya yang besar. Ichsanuddin Noorsy menjelaskan lebih lanjut bahwa biaya yang besar itu separuhnya akan dihabiskan untuk biaya iklan di tivi. Media tivi ini memang sangat efektif sekali untuk mendongkrak popularitas. Jaman sekarang yang nggak nonton tivi cuman manusia purba. Siapa orang yang nggak pernah nonton tivi? Untuk sekali pasang iklan di tivi saja dibutuhkan puluhan juta. Semakin sering tampang seorang capres nongol di tivi akan semakin banyak biaya yang dibutuhkan. Selain itu banyak juga biaya habis untuk kunjungan kesana-kemari, kegiatan sosial untuk meraih simpati rakyat, mengumpulkan massa, dan lain-lain. Sehingga tidak heran kalau ongkos menjadi presiden itu mahal sekali.

Tentu saja para capres tidak punya biaya sebanyak ini kalau diambil dari harta pribadinya. Lantas dari mana mereka mendapatkan kekurangannya? Ada banyak jalan, dan salah satu sumber dana yang paling potensial datangnya dari para cukong dan konglomerat asing. Para kapitalis dan perusahaan multinasional tidak segan-segan untuk menggelontorkan biaya untuk membiaya salah satu capres. Dan tentu saja tidak ada makan siang yang gratis. Para kapitalis itu bersedia mengeluarkan uang sekian banyak tentunya dengan kompensasi yang juga tidak kecil. Biasanya mereka akan minta tender proyek, atau keringanan pajak, perlindungan dari undang-undang atas usaha ilegal mereka, dan lain sebagainya. Dari sini akan terbentuk persekongkolan antara penguasa dan pengusaha. Ujung-ujungnya, semua yang dijanjikan oleh para capres itu selama masa kampanye tidak akan pernah terwujud. Sebab mereka sudah tersandera lebih dulu oleh para kapitalis. Rakyat lagi yang kemudian akan dikorbankan.

Dari sini terlihat sekali betapa mengeraikannya demokrasi. Sayangnya, kita rela untuk ditipu oleh demokrasi berulang kali. Penipuan ini terus saja berulang dan kita tetap saja berdiam diri. Sudah saatnya kita campakkan demokrasi dan jangan diterapkan lagi. Gantikan dengan penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. Sistem inilah yang akan membawa ridho Allah kepada kita semua. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s