Matinya Letnan de Bruijn (Sebuah Kisah dari Perang Sabil)


Henri Pieter de Bruijn

Henri Pieter de Bruijn

Setelah tempo hari saya bercerita tentang Kapitein Webb, sekarang saya ingin berbagi cerita lagi tentang seorang perwira Belanda, dia adalah Letnan de Bruijn. Kisah peperangan de Bruijn melawan pejuang Aceh bisa dibilang cukup unik. Dia pun mendapatkan anugerah untuk dimakamkan di taman pekuburan Belanda Peucut Kerkhoff di Banda Aceh. Nisannya masih bisa kita saksikan sampai sekarang.

Henrie Pieter de Bruijn adalah seorang Letnan pada Koninklijke Nederland Indies Leger (KNIL). Dia dilahirkan di Surabaya pada tanggal 25 November 1874 (Perang Sabil pecah pada tahun 1873) dan merupakan keponakan dari Jenderal Heribert Cornelis Pieter de Bruijn, seorang petinggi militer Belanda. Pada tanggal 3 Agustus 1897 dia dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Dua ketika bertugas di India Timur. Dan pada tanggal 26 Oktober 1899 pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Satu. Pada saat itu dia mendapatkan luka di pertempuran Matang Kuli. Untuk jasa-jasanya yang luarbiasa pada pertempuran di Aceh tahun 1899, dia dianugerahi medali Militaire Willems-Orde kelas IV yang ditetapkan pada tanggal 13 Juli 1900. Sebuah medali yang amat bergengsi.

Pada tahun 1902, de Bruijn mendapat tugas untuk melakukan patroli bersama sebuah pasukan Marsose yang dipimpin oleh Komandan HJ Matthes. Mereka ditugaskan untuk mengejar Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem beserta pengikut-pengikutnya di kawasan Seunagan (Aceh Barat).

Ketika itu de Bruijn sebenarnya sedang menunggu hari pernikahannya dengan seorang putri dari Letnan Kolonel JP Meyer. Rencananya pernikahan itu akan disaksikan oleh Gubernur Sipil dan Militer di Aceh, Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz, dan akan dilaksanakan di istana sang Jendaral (sekarang pendopo Banda Aceh). Namun inilah apa yang saya sebut sebagai “nasib sial” atau “apes”.

Ketika sedang melintasi semak belukar dan hutan-hutan Seunagan, tiba-tiba de Bruijn dan pasukannya dihadang secara mendadak oleh para pejuang Aceh. Mereka harus menghadapi apa yang disebut oleh prajurit Belanda sebagai “Klewang aanval” (serangan klewang). Sebenarnya senjata yang lebih banyak digunakan oleh para pejuang Aceh ketika Perang Sabil bukanlah rencong, melainkan klewang. Para pejuang Aceh sangat piawai memainkan klewang. Prajurit-prajurit Belanda sudah hafal bagaimana sabetan klewang orang Aceh. Biasanya klewang diayunkan ke sisi leher sebelah kiri (klewangnya di tangan kanan) hingga membelah dada dan perut musuh dengan melintang ke kanan.

Di tengah-tengah serangan itu, seorang pejuang Aceh melemparkan sebatang tombak yang langsung mengenai perut de Bruijn. Sampai tembus ke punggungnya. Kondisi itu tidak disia-siakan para pejuang Aceh yang segera menghujani tubuh de Bruijn dengan sabetan klewang. De Bruijn langsung roboh bermandikan darah dan banyak sekali luka menganga di tubuhnya. Namun dia masih hidup.

Jenderal van Heutsz

Jenderal van Heutsz

Saat kecamuk perang sudah mereda, seorang dokter datang untuk mengobati luka-luka de Bruijn. Dia malah bilang begini kepada si dokter, “Dokter, laat mij maar liggen, ik ga toch dood. Help liever de arme marechaussee’s.” Yang artinya, “Dokter, udah saya mah biarin ajah. Lagian saya bakal mati juga. Tulungin aja tuh marsose-marsose yang lain.” Akhirnya si dokter menuruti permintaan de Bruijn. Ketika hal itu terjadi, salah seorang prajurit Marsose menyaksikannya. Prajurit itu kemudian mendekati de Briujn dan membisikkan sesuatu di telingannya. Dia bertanya apakah de Briujn punya pesan terakhir? Dengan susah payah de Bruijn bilang begini, “Zeg aan mijn moeder dat ik mijn plicht heb gedaan.” Yang artinya, “Bilang sama mamahku, bahwa aku telah menunaikan tugasku.” Cukup heroik juga.

Mayat de Bruijn dibawa ke Uleelheu dengan sebuah kapal Belanda berwarna putih. Ketika mayat itu tiba di Banda Aceh (orang Belanda menyebutnya “Kutaraja”), terjadilah kegegeran. Padahal persiapan sudah dilakukan, tapi mempelai pulang tinggal nama. Jenderal van Heutsz secara khusus datang kepada mempelai wanita, dia bilang begini, “Mijn kind, de Bruijn is gearriveerd, maar hij moet naar Peutjoet gebracht worden in plaats van naar jou.” Yang artinya, “Anakku, de Bruijn telah tiba, tetapi lebih penting dia ‘di-Peucut-kan’, daripada duduk bersanding denganmu.” Nasibnya de Bruijn memang apes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s