Dari Dulu Itu Melulu!


Rame kampanye!

Rame kampanye!

Aktifitas kampanye para caleg sudah dimulai dan tadi pagi lewat di jalan kampung saya. Ramai dan meriah sekali. Ribut dan berisik. Kendaraan kampanye dari berbagai partai tersedia, dan semuanya melintasi jalan dengan riuh-rendah. Orang-orang kampung dengan antusias berjajar di pinggir jalan dan menyaksikan kemeriahan yang terjadi. Para peserta kampanye itu membagikan berbagai hal kepada orang-orang kampung. Ada yang membagikan kaos kepada para pemuda, ada juga yang membagikan kerudung kepada ibu-ibu. Anak-anak kecil dihibur dengan saweran duit cepekan, sementara jurkam (juru kampanye) berteriak-teriak di corong mikrofon agar orang-orang kampung memilih caleg yang dijagokan. Dari dulu memang selalu begitu.

Kalau kita perhatikan, apa yang selalu dijanjikan oleh parpol, para caleg, dan para capres pun kebanyakannya janji-janji yang basi. Dari dulu janjinya itu melulu, tetapi tidak pernah terwujud menjadi kenyataan. Kalau kita lihat iklan Partai Golkar, katanya mereka ingin mewujudkan pendidikan gratis mulai dari SD sampai lulus SMA. Kayaknya sejak bertahun-tahun yang lalu janji itu selalu saja didengungkan oleh banyak pihak, tetapi sampai sekarang tidak pernah terrealisasi. Maka janji yang sama pada hari ini dijanjikan lagi, dan untuk kesekian kalinya rakyat tertipu lagi. Malang benar nasib rakyat.

Salah satu kata yang paling sering digunakan oleh para juru kampanye adalah “saatnya.” Biasanya bunyinya begini, “saatnya kita menegakkan kedaulatan pangan”; “saatnya pendidikan gratis”; “saatnya meraih kesejahteraan rakyat”; “saatnya sumberdaya alam dikuasai kita sendiri”; “saatnya bla bla bla…” Dan kata “saatnya” itu sudah diucapkan dari dulu berkali-kali. Sekarang masih diucapkan juga, kalau begitu “saatnya” itu kapan?

Orang-orang yang memutuskan untuk tidak memilih (golput) seringkali disalahkan dan dituduh macam-macam. Katanya orang-orang seperti ini tidak mau peduli pada nasib bangsa; dibilang bodoh; dibilang malas; dibilang tidak mau berpikir dan apatis. Padalah boleh jadi orang-orang yang tidak mau memilih itu telah menyadari berbagai kerusakan yang ada di dalam tubuh demokrasi dan seluruh penyelenggaraannya. Karena dia memahami hal itu, maka dia tidak mau memilih. Kalau misalnya di hadapan kita disodorkan pilihan, yang kesemua pilihan itu adalah sampah, masa’ sih kita masih mau juga memilih? Lihat saja, pilihan apa saja yang disodorkan kepada kita? Partai sekular yang tidak akan pernah mau memerjuangkan penegakan Islam? Atau partai Islam yang telah menggadaikan Islam kemudian berubah menjadi partai sekular? Lalu apa lagi? Lantas kalau para peserta pemilu itu isinya hanya hal-hal macam begini, lantas kenapa kita mesti memilih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s