Fenomena Pengkhianatan

Sejarah-Paham-DemokrasiPada perhelatan Pemilu saat ini semakin kelihatan saja pengkhiatan partai-partai Islam. Dahulu ketika masa-masa kampanye sedang berlangsung, mereka menyeru umat agar jangan golput, nanti yang menang adalah kaum kafir dan kalangan sekular. Padahal tidak jarang mereka sendirilah yang memasang caleg-caleg kafir, bahkan pendeta. Pasca Pemilu Legislatif dan menjelang Pemilu Presiden pun terlihat bahwa mereka sekarang malah berkoalisi dengan partai-partai sekular untuk menaikkan pemimpin sekular. Ini jelas-jelas sebuah kemunafikan dan pengkhianatan.

Apakah partai-partai Islam itu berharap mereka akan mendapatkan kemenangan dengan bertindak seperti ini? Tentu saja tidak. Mereka tidak akan mendapatkan kemenangan. Bahkan sebenarnya mereka telah mengalami kekalahan sejak awal. Ketika mereka membuang ideologi Islam sebagai asas dan cita-cita perjuangan, dan lebih memilih pragmatisme politik, saat itulah mereka telah kalah. Jika kita melihat sepak-terjang partai-partai Islam yang ada saat ini, memang sudah tidak ada lagi partai Islam yang bisa diandalkan. Semuanya mengecewakan. Demokrasi memang telah menjadi sebuah jebakan besar bagi partai Islam.

Yang kita cari saat ini adalah sebuah partai yang mau memperjuangkan syariat Islam secara total dan menyeluruh. Sebab hanya dengan syariat Islam itulah, rakyat akan bisa diperbaiki nasibnya. Hanya dengan penerapan syariat Islam itulah kemuliaan dan kemenangan akan bisa diraih kembali dengan pertolongan dan ridho Allah subhanahu wata’ala. Penerapan syariat Islam secara total dalam naungan Khilafah Islamiyah. Jika kita masih tetap betah menggunakan demokrasi, maka sampai hari kiamat kita tidak akan pernah menang. Kita hanya akan menang jika teguh menggenggam syariat Islam.

Karya Besar

jalan-dakwahTidak ada yang mengingkari betapa besarnya karya Imam Bukhari, Al Jami’ as Shahih, atau yang biasa disebut Shahih Bukhari. Sebuah kitab hadits yang bahkan dinyatakan paling otentik setelah Al-Quran. Dan tentunya di balik sebuah karya besar terdapat kisah perjuangan yang besar pula dalam upaya penulisannya.

Sebelum berhasil menulis Al Jami’ as Shahih, Imam Bukhari harus berkeliling beberapa bagian dunia untuk menuntut ilmu dan mengumpulkan hadits. Beliau pun menghapal ratusan ribu hadits. Dalam pengantar kitab Adabul Mufrad, Imam Bukhari mengatakan, “Saya meriwayatkan hadits dari seribu syekh bahkan lebih, tidak satu pun hadits yang saya riwayatkan kecuali saya sebutkan sanadnya.” Subhanallah.

Ketika berusia 18 tahun, Imam Bukhari menyusun kitabnya yang berjudul At Tarikhul Kabir. Tentang kitab ini ia berkata, “Setiap nama orang yang tercantum dalam kitan ini saya tahu riwayat hidupnya, hanya saja saya tidak suka memperpanjang penulisannya.” Kitab Al Jami’ as Shahih sendiri berisi enam ratus ribu hadits yang telah disaring dan dipisahkan dari hadits yang lemah dan palsu. Tentang penulisan kitab ini, Imam Bukhari berkata, “Setiap hadits yang akan aku tulis dalam Al Jami’ ini, aku mandi dan solat dua rakaat sebelumnya.” Subhanallah. Tidak heran jika kitab ini baru rampung setelah memakan waktu penulisan selama 18 tahun. Sebuah karya besar yang akan selalu dibaca, dikaji, dan dikenang.

Di dalam Khilafah Islamiyah akan tumbuh dan berkembang orang-orang yang luar biasa seperti Imam Bukhari. Sebab sistem Islam yang diterapkan di sana akan menciptakan lingkungan yang terbaik dan masyarakat yang ideal untuk terbentuknya orang-orang mulia seperti Imam Bukhari secara massal. Sudah saatnya!!!