Cuplikan Ghazi 2


Beriut adalah cuplikan novel The Chronicles of Ghazi 2, yang saya garap bersama Ust. Felix Siauw. Pastinya akan semakin bikin penasaran.

Dedaunan membeku, menghamburkan asa dan kerinduan kepada kehangatan. Musim dingin menyeruak di penghujung tahun, memeluk Hongaria erat-erat dengan kejamnya. Langit yang gelap menyembunyikan  butiran-butiran salju yang melayang ringan hingga menyentuh tanah. Batang-batang pohon meranggas, dan dari kejauhan terlihat tak ubahnya cakar-cakar Iblis yang menyeruak dari bawah tanah, dengan pongah ingin meraih langit. Rerumputan tak kelihatan, tanah dilapisi salju yang putih dan dingin. Kadang-kadang jejak  manusia dan kuda terpahat di sana. Yang menandakan bahwa di dalam hawa yang sekejam itu masih ada kehidupan.

Malam yang dingin dan sunyi itu berembus di Buda, ibukota Kerajaan Hongaria. Rumah-rumah yang mungil dan tenang tertata rapi di tiap sisi dan sudut kota itu.  Cahaya-cahaya berpijar melalui jendela, mengguratkan kenyamanan. Kadang-kadang angin bertiup pelan, yang sudah cukup untuk menusuk-nusuk tulang. Pada beberapa tempat masih ada orang-orang yang berkeliaran di luar. Mereka mengenakan mantel panjang dan tebal, dengan tudung kepala. Balutan syal melingkar ketat pada leher-leher mereka, beberapa di antaranya terbuat dari kulit serigala. Sarung tangan besar dan sepatu bot yang tinggi menjadi atribut penting mereka, agar mereka bisa tetap bergerak menembus dingin. Napas dari hidung mereka berasap. Padahal malam belum terlalu larut, namun kota Buda telah sunyi, tak ubahnya kota mati.

Di tengah-tengah kota Buda tegaklah sebuah kastil yang megah. Di sanalah Sigismund, Raja Hongaria, Raja Lombardia, Raja Bohemia, sang Kaisar Romawi Suci, berdiam. Dinding-dinding kastil yang tebal itu pun membeku. Bagian dalam kastil pun sunyi dan sepi. Tak banyak pelayan yang beraktifitas, kecuali para tukang masak dan para pengantar makanan, sebab di ruang makan kastil sedang digelar sebuah jamuan makan yang cukup meriah untuk sang raja.

Ruang makan kerajaan berbentuk persegi panjang dengan dinding batu yang kokoh. Lilin-lilin besar tertempel pada dinding, di dalam wadah-wadah lilin dari emas. Wadah-wadah lilin itu diukir indah sekali. Seolah-olah tanaman sulur yang asri melingkar-lingkar, berkait berkelindan menawan. Meja makan di tengah-tengah ruangan itu pun panjang sekali, sepuluh meter. Kursi-kursi dijajarkan pada kedua ujung dan kedua sisinya. Berbagai makanan yang menggugah selera telah terhidang di atas meja.

Sigismund duduk menghadap salah satu ujung meja. Dia sibuk menancapkan garpu pada makanannya, sementara tangan kanannya memegang pisau. Barbara Celje, perempuan bertopeng besi, duduk tepat di sisi Sigismund, diam saja seperti patung.

Walau pun Sigismund asyik menyantap makanannya, barbara tidak menyentuh hidangan itu sama sekali. Topeng besinya yang berkilauan terpasang erat di wajahnya.

Mereka tak hanya berdua. Pada sisi lain Sigismund, duduklah Jonas Hunyadi. Dialah jenderal besar Hongaria, sekaligus komandan Ordo Naga. Dia adalah seorang ahli strategi perang yang amat brillian. Bukan tanpa alasan dia hadir di meja makan raja malam itu. Ada urusan penting yang mesti dia bicarakan dengan Sigismund. Sebuah urusan besar yang menentukan masa depan Kristendom. Tentang Turki Ustmani.

“Kekalahan demi kekalahan terus menerus mendera kita,” kata Sigismund sambil mengunyah. Remah-remah makanan berjatuhan dari mulutnya. “Seakan-akan bintang terang telah pergi dari Kristendom.”

“Aku percaya bahwa kita pasti bisa bangkit lagi, Yang Mulia,” sahut Hunyadi dengan penuh keyakinan. “Aku percaya itu! Dengan pertolongan tuhan, kita akan bisa mengusir musuh-musuh kita dari Kristendom.”

“Memang tinggal keyakinan dan harapan saja yang kita punya,” tambah Sigismund.

“Mungkin memang benar kekalahan-kekalahan kita yang lalu telah menguras energi dan kekuatan kita, tapi aku yakin kita akan terus maju,” Hunyadi memancarkan sorot mata yang tajam kepada Sigismund. “Pasukan kita memang baru saja dipukul mundur dari Wallachia beberapa waktu yang lalu, amun aku membaca peluang kita tidaklah tertutup sama sekali. Kegagalan Vlasdislav merebut Wallachia itu karena nasib sial saja. Tiba-tiba mereka berpapasan dengan pasukan Turki, dan kalah. Tidak ada tanda-tanda apapun yang menunjukkan bahwa Turki menjalin kerjasama dengan Wallachia, sehingga peluang kita masih tetap besar untuk mengambil alih negeri itu.”

Sigismund meletakkan sepotong besar ayam ke dalam piring di hadapannya. Tatapannya penuh dengan cahaya kegelisahan. “Mungkin aku sudah berkali-kali bertanya tentang hal ini, tidakkah kita terlalu kejam kepada Alexandru dan Vlad jika kita mencoba merebut Wallachia dari mereka? Padahal mereka berjuang sekuat tenaga untuk tetap bersama-sama kita. Itu jugalah yang dilakukan mendiang Mircea hingga dia tewas dibunuh? Jasa-jasa mereka amatlah besar.”

“Yang Mulia jangan khawatir, Mircea tidak akan bangkit dari kubur untuk mengklaim apa-apa yang pernah dia kuasai. Apapun yang terjadi dia telah mati. Tindakan kita merebut Wallachia pun sebenarnya demi kebaikan Alexandru dan Vlad. Sebagian besar boyar di sana membenci mereka. Tinggal sedikit saja kalangan yang mendukung mereka. Kemarahan para boyar itu seperti api dalam sekam, mereka bisa meledak sewaktu-waktu. Dengan merebut Wallachia dari mereka justru kita akan menyelamatkan mereka dari petaka. Aku sudah perintahkan Vladislav agar menangkap Alexandru dan Vlad hidup-hidup. Lagipula gerakan ini rahasia, yang akan mereka ketahui adalah bahwa yang merebut Wallachia adalah Vladislav, bukan kita.”

Sigismund mengembuskan napas yang kental dengan aroma keresahan. Dia menunduk menatap mekanannya.

“Mohon percayalah dengan rencana ini, Yang Mulia,” kata Hunyadi. “Posisi Wallachia amatlah penting untuk kita kendalikan secara total. Dari sanalah pintu gerbang menuju negeri kita, keamanannya mesti kita jamin, dan Draculesti tidak akan mampu melaklukan hal itu dengan cara-cara yang selama ini kita tempuh.”

“Aku pun sepakat dengan pendapat Jenderal Hunyadi, Yang Mulia,” kali ini Barbara Celje angkat bicara. Suaranya terdengar sayup-sayup dari balik topeng besinya. “Berbagai informasi yang telah kuhimpun dari sumber-sumber kepercayaanku di Wallachia menyampaikan bahwa secara sembunyi-sembunyi seluruh boyar mendukung Vladislav yang didukung pasukan kita. Klan Draculesti memang terlalu arogan dan kejam.”

Topeng besi yang menutupi kecantikan itu berkilauan di bawah cahaya lilin. Sigismund memang seorang pendengar yang baik. Dia selalu bersedia mempertimbangkan pandangan-pandangan anak bawahannya.

Malam semakin larut. Udara dingin di luar semakin merawankan hati. Dan perjalanan hidup akan menyiratkan banyak arti. Suasana menjadi sunyi untuk beberapa lama, sampai-sampai suara lilin yang meretas dibakar api pun mendarat juga di lubang telinga. Sigismund akhirnya mengangguk.

“Jalankan semua rencana ini. Hanya saja aku ingin menekankan sesuatu,” Sigismund menatap Hunyadi lekat-lekat, “Keturunan Mircea harus tetap hidup. Setelah semuanya berakhir, asingkan mereka ke tempat yang jauh dan jamin kesejahteraan mereka.”

000

Gundah-gulana memenuhi hati Sultan Murad. Ia melangkah dengan cepat di selasar gedung kantor Wali Amasya. Bahkan setengah berlari. Jubahnya melambai-lambai pelan di belakangnya. Serbannya kokoh penuh wibawa. Tubuhnya yang berisi begitu tegap dan perkasa. Hanya saja ada awan mendung yang menggelantung di raut wajahnya.

Di belakang sultan Murad, Candarli Halil Pasha, Wazir Agung Turki Ustmani, mengikuti langkahnya. Ia turut merasakan kegalauan di hati sultan. Lengan kanannya mengepit sebuah buku untuk mencatat hal-hal penting yang mungkin saja terjadi di sepanjang tugas-tugasnya menemani sultan.

Sampailah sultan Murad di depan pintu kantor yang tertutup. Sultan melayangkan tangannya menuju daun pintu, dan tanpa mengucap salam sama sekali, ia menghambur masuk. Kekhawatiran yang menyesakkan hatinya begitu mengganggunya sampai-sampai sapa salam luput dari pikirannya.

Di dalam ruangan, matanya langsung menangkap imaji Mehmed yang sedang duduk di belakang meja sambil menulis. Di sisi Mehmed tegaklah Syekh Aaq Syamsuddin yang bijak. Mehmed dan Syekh Syamsuddin terkesima menatap Sultan Murad yang tiba-tiba muncul di ruangan itu.

“Alhamdulillah,” bisik Sultan. Seluruh rasa khawatir di hati sultan mendadak sirna ketika ia menatap wajah putranya yang tampan, Mehmed. Ia berjalan mendekati Mehmed.

Tanpa pikir panjang, Mehmed pun bangit dari kursinya dan menunduk di depan sultan yang tak lain adalah ayahnya sendiri itu. Ketika mereka telah berhadap-hadapan, Mehmed membungkuk rendah sekali sambil mencium tangan Sultan Murad.

“Semoga Sultan selalu dalam lindungan Allah azza wa jalla,” kata Mehmed dengan penuh hormat.

Sultan Murad tersenyum tipis. “Bangkitlah!”

Sultan Murad menyentuh dagu Mehmed dan menghadapkan wajah Mehmed ke wajahnya. Sinar mata ayah dan anak itu saling beradu.

“Semua putraku sudah mati, kecuali dirimu, Mehmed,” kata Sultan Murad. Kepedihan yang aneh menguar dari suara Sultan Murad. Kedua belah tangan sultan mencengkeram bahu Mehmed. “Aku titipkan janji Rasulullah ini kepadamu. Ini jugalah cita-citaku, dan cita-cita seluruh Sultan Ustmani. Taklukkanlah Konstantinopel! Kau akan ikut denganku berangkat ke Edirne. Kau akan menyertaiku memerintah.”

Keteguhan semakin terpancang di hati Mehmed, membuat tekadnya semakin membara. Ia tambahkan apa yang pernah disabdakan Rasulullah, bahwa Konstantinopel pasti akan ditaklukkan, dan dialah penakluknya.

000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s