Pertamakali Jadi Orang Jakarta


Buswae

Buswae

Sudah beberapa bulan belakangan ini saya tinggal di Jakarta. Beberapa kawan bilang pada saya bahwa saya sudah jadi “orang Jakarta”. Padahal baru sekitar dua hari ini saya pertama kali merasakan jadi “orang Jakarta”. Lho kok bisa gitu? Sudah beberapa bulan tinggal di Jakarta, tapi baru kemaren merasa jadi orang Jakarta? Begini ceritanya (serem.com).

Saya tinggal di Jakarta sejak awal Maret 2014. Saya berkantor di kawasan Jakarta Barat pada sebuah label publishing yang sedang berkembang, dan saya menyewa tempat tinggal yang tidak begitu jauh dari kantor. Cukup jalan kaki sekitar 15 menit, saya sudah tiba di kantor. Cepat dan mudah. Selama beberapa bulan itu, saya hanya melihat saja kemacetan kesemrawutan kota Jakarta. Karena ke kantor cukup dengan jalan kaki, saya hampir tidak pernah merasakan kemacetan sama sekali.

Tapi beberapa hari yang lalu, saya pindah ke sebuah tempat tinggal yang agak jauh dari kantor. Tepatnya di kawasan Jakarta Timur. Sejak hari itulah saya baru benar-benar merasa jadi orang Jakarta. Hehehe…

Saya masuk kantor jam sembilan pagi. Karena saya belum punya kendaraan pribadi, maka saya memutuskan untuk naik buswae. Kawan-kawan pasti tahulah apa itu buswae. Itu lho, bis khusus di Jakarta yang kalau kita masuk ke lintasannya bisa kena tilang. Nah saya naik sarana transportasi massal ini. Dengan amat lugunya saya berpikir bahwa buswae tidak akan kena macet, karena dia punya lintasan sendiri, khusus untuk dia doang. Tapi saya tetap antisipasi, saya berangkat dari rumah sekitar jam 6 pagi.

Kemudian masuklah saya ke halte buswae di kawasan Jakarta Timur. Nunggunya itu, na’uzubillahi mindzalik, lamaaaa banget. Dan ternyata, walaupun udah punya lintasan sendiri, buswae tetep aja bisa kena macet juga. Saya pikir saya bisa tiba di kantor sekitar jam setengah 8 atau paling lambat jam 8 pagi, tapi karena maceeet di mana-mana, saya baru tiba di kantor jam 10 siang. Saya mengira berangkat jam 6 pagi itu sudah kepagian, tapi ternyata saya kesiangan. Untung saja ibu direktur dan bapak direkturnya baik dan tidak sombong, jadi mereka mengampuni saya dan tidak mem-PHK saya.

Hari pun menjelang sore. Jakarta diguyur “gerimis mengundang”. Setelah solat ashar saya pun pulang dengan menempuh cara yang sama seperti ketika berangkat. Saya disambut pemandangan yang ternyata lebih parah. Halte buswae penuh, membludak. Orang-orang pada ngantri panjang bener. Mau nggak mau, saya pun bergabung di sana. Setelah menunggu sangat lama, datanglah bisnya, dia berhenti tepat di depan pintu halte. Saya lihat dari kaca jendela, bis itu sudah terisi penuh, orang-orang pada berdiri rapat, dan masih ditambah lagi dengan penumpang baru dari halte. Semuanya jadi tambah rapat dan sesak. Saya berpikir, mungkin jam segini pasti ramai, karena jam orang pulang kantor. Karena saya tidak ngantri di depan, bis itu pun berlalu, saya harus menunggu lebih lama lagi. Menjelang magrib, baru saya bisa naik bis. Saya benar-benar jadi orang Jakarta kalau begini. Sepanjang jalan dari Jakarta Barat, Jakarta Pusat, sampai Jakarta Timur, macet. Saya baru sampai di rumah sekitar jam 10 malam.

Sepanjang jalan saya berpikir bahwa kemacetan di Jakarta sudah sampai pada taraf yang “mengerikan”. Kalau begitu terus, kita bisa jadi tua di jalan. Sangat tidak efektif dan membuang-buang waktu. Saya juga berpikir tentang apa sih sebab musabab dari kemacetan yang sudah menggejala ini? Kalau sesuatu sudah terjadi secara massal, meluas, massif, dan terus-menerus, maka pasti ada kekeliruan sistemik yang menyebabkannya. Saya terus bermain-main dengan alam pikiran saya, penyebab kemacetan itu mungkin sangat sederhana, “jumlah dan luas jalan sudah tidak kuat menampung jumlah kendaraan yang terus bertambah.” Jalanannya segitu-gitu doang dari dulu, tapi jumlah pengguna kendaraan bermotor terus bertambah, maka tidak heran kalau terjadi kemacetan.

Saya tetap asyik bermain dalam alam pikiran saya. Penggunaan sarana transportasi massal mungkin bisa sedikit mengurai masalah kemacetan ini. Sebab kalau semua orang maunya pakai kendaraan pribadi, kemungkinan besar bakalan macet. Hanya saja, kenapa banyak orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada sarana transportasi massal? Jawabannya, tentu saja karena pemerintah tidak menyediakan sarana transportasi massal yang aman, dan nyaman, serta terjangkau bagi semua kalangan. Sepertinya, sejak dulu, saat pemerintah berencana hendak membangun sarana transportasi massal, pasti ada saja ganjalannya (kasus monorail contohnya). Sepertinya ada sebuah kesengajaan di sini.

Indonesia adalah sebuah pasar yang besar untuk industri otomotif. Kalau pemerintah memperbaiki sarana transportasi massal, kemudian masyarakat lebih memilih menggunakan sarana transportasi massal itu, tentunya pangsa pasar perusahaan produsen otomotif itu jadi menurung dong!? Kemudian pengusaha otomotif dan pemerintah ini berkongkalingkong, sehingga pemerintah dengan sengaja membiarkan saja sarana transportasi massal di negeri ini berada dalam kondisi yang kacau, jorok, kumuh, berantakan, dan tidak aman. Dengan demikian masyarakat akan tetap lebih memilih pakai kendaraan pribadi yang mereka beli dari para pengusaha otomotif tadi. Kacau kan kalau begini. Tapi itu semua sekadar alam pikiran saya yang sedang asyik terombang-ambing di atas buswae.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s