Mendaki Kesabaran


Setiap kali Allah menyebutkan sebuah amalan yang utama di dalam Alquran, berikut dengan gajarannya, sebenarnya di sana terselip tantangan dan kesulitan untuk melaksanakannya. Di dalam Alquran, Allah memosisikan sikap sabar sebagai sebuah sikap yang amat utama. Bahkan Allah menempatkan para shabirin (orang yang sabar) sebagai kecintaanNya. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam juga pernah menyebutkan bahwa Allah amat mencintai orang-orang yang sabar. Betapa mulia dan luarbiasanya sikap sabar ini, maka melaksanakannya pun menjadi sulit dan berat. Untuk bisa bersabar, dibutuhkan semangat, kekuatan, dan tekad, dari dalam diri kita sendiri. Amat diperlukan pula ketahanan yang tinggi, agar kita bisa tetap menjaga kesabaran itu di dalam diri kita.

Bersabar itu seperti mendaki sebuah gunung yang tinggi, yang di puncaknya sudah dipersiapkan kemuliaan dan kejayaan bagi siapa saja yang sanggup tiba di sana. Namun rasa lelah, penat, capek, pegal, bosan, dan dorongan untuk kembali turun akan selalu mendera di sepanjang perjalanan. Tapi jika kita berhasil melawan itu semua, kemudian berhasil tiba di puncaknya, kita akan menempati posisi yang mulia.

Kalau kita suka nonton sinetron, kita pasti pernah ungkapan “kesabaran saya sudah habis”, atau “sampai kapan saya harus bersabar?” (sayangnya, saya jarang sekali nonton sinetron, hehe). Di dunia nyata pun ungkapan itu kerapkali terdengar. Karena kesabaran itu akan menempatkan kita pada posisi yang “seolah-olah kalah”, maka kita akan bertanya sampai kapan kita harus bersabar? Dan jika kita ingin menang, kita harus mengakhiri kesabaran itu, dengan berkata “kesabaran saya sudah habis”.

Tentang hal ini saya pernah ngobrol-ngobrol santai dengan Ustadz Felix Siauw, dan saya mendapatkan jawaban yang mencerahkan tentangnya. Sebuah jawaban yang sangat berat, sebenarnya, dan amat sulit. Bahwa sabar itu selama-lamanya. Bahwa sabar itu tidak boleh berakhir. Kesabaran itu sangatlah berat, dan kita harus tetap bertahan dalam keadaan seperti itu. Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa menetapi kesabaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s