Prihatin


Memang prihatin sekali hidup jaman sekarang. Istri saya mengeluh kepada saya. Dia belanja ke warung, habis uang sekian belas ribu Rupiah, tapi yang berhasil dia beli nggak seberapa. Innalillahi wa inna ilayhi roji’un, harga-harga berbagai kebutuhan semakin tidak terkendali. Tempo hari seorang kawan saya chatting via WA dengan saya. Dia mengeluhkan kondisi sekarang yang amat sangat berat. Saat istrinya melapor bahwa popok anaknya telah hampir habis, hal itu terdengar seperti sebuah teror (hiperbolis sekali). Itulah kenyataannya.

Pasca dinaikkannya harga bahan bakar minyak (BBM), otomatis harga-harga melambung tinggi. Bahkan ketika hal ini hanya baru sekadar isu saja, harga-harga sudah merangkak naik. Orang-orang yang kaya dan elit pastinya tidak akan terlalu merasakan dampak dari kebijakan ini. Tetapi bagaimana dengan rakyat kecil? Mereka tentunya tidak akan bisa bertahan menerima hantaman yang sangat keras seperti ini. Kondisi mereka yang telah rapuh akan semakin hancur dan tidak karuan. Mereka tidak akan bisa berbuata apa-apa lagi. Kasihan benar rakyat kecil!!!

Setelah semuanya ini terjadi, akibat selanjutnya adalah akan muncul banyak penjahat. Orang sudah hampir tidak peduli lagi pada tindak tanduknya. Orang sudah tidak peduli lagi pada halal atau haram. Mereka akan menabrak semua norma karena perut mereka lapar. Mereka punya keluarga yang harus dinafkahi, sementara harga-harga melambung tinggi. Mereka punya perut yang mesti diisi tetapi penghasilan mereka tidak mencukupi. Bahkan bisa jadi, mereka sudah tidak punya penghasilan sama sekali.

Rakyat Indonesia bukanlah orang-orang yang malas. Mereka rajin bekerja untuk mencari nafkah yang halal. Mereka akan melakukan apapun untuk memenuhi segala kebutuhan mereka dan keluarga mereka. Dan mereka tidaklah bersalah. Yang bersalah adalah, orang-orang yang menciptakan kondisi yang amat berat dan amat menekan ini, sehingga semua harga menjadi melambung tinggi. Yang bersalah adalah orang-orang yang menjual negeri ini dan segala sumber dayanya kepada korporat-korporat asing. Yang bersalah adalah orang-orang yang membuat undang-undang yang memungkinkan konglomerat asing menjajah negeri ini. Yang bersalah adalah mereka yang menghamba kepada Kapitalisme-sekular, yang karena penerapannya, yang diuntungkan hanyalah segelintir pemilik modal dan elit penguasa. Sementara rakyat tetap saja menderita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s