Age of Empires


Age of Empires

Age of Empires

Sama sekali bukan niat saya untuk mempromosikan game Age of Empirse. Hanya saja sekitar dua hari ini saya main game Age of Empires ini untuk rehat sejenak setelah menyelesaikan sebuah karya (walau ada kawan sekantor yang akan langsung komplain untuk persoalan main game ini, hehehe).

Saya pastilah orang yang ketinggalan jaman banget, saya mengakui hal itu. Sebab saya baru mengetahui asyik dan serunya main game Age of Empires. Kita pasti tahu game macam apa itu Age of Empires. Di dalam game itu seolah-olah kita menjadi seorang pemimpin yang harus mengatur pembangunan sebuah negeri. Kita harus mengetahui berbagai fungsi bangunan yang hendak kita buat. Kita juga harus bisa mengalokasikan pekerja-pekerja yang akan menyelesaikan pembangunan itu. Harus dipertimbangkan pula di mana letak-letak yang tepat untuk pembangunannya.

Setiap bangunan punya fungsi yang berbeda-beda. Ada yang fungsinya menghasilkan tentara, ada yang bertugas menghasilkan pekerja, ada yang bertugas menghasilkan kavaleri, ada juga yang bertugas menghasilkan meriam-meriam artileri. Kita juga harus bisa mengatur pemasukan bagi ‘negara’ yang kita pimpin dari berbagai lahan yang kita kuasai. Yang paling memusingkan adalah ketika musuh datang menyerang. Tahu-tahu pasukan musuh sudah berbaris rapi menuju wilayah kita untuk membombardir kita. Kalau sudah begitu, wah kita pasti gelagapan.

Dari Age of Empire ini saya jadi makin mengerti bahwa menjadi pemimpin itu berat sekali. Jadi pemimpin di dalam game saja bisa bikin kita pusing kepala, terlebih lagi kalau musuh sudah menyerang. Nah apalagi kalau jadi pemimpin di dunia nyata, apalagi kalau memimpin negara yang penduduknya lebih dari 200 juta jiwa! Padahal kepemimpinan pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak, dan pastinya itu akan berat sekali. Anehnya, di dalam sistem demokrasi ini, orang-orang pada bernafsu menjadi pemimpin. Malah harus keluar duit miliyaran Rupiah, dan harus mengumbar berbagai janji manis yang pasti akan ditanya di akhirat kelak. Tetapi begitulah demokrasi, yang nantinya akan menanggung semua sengsaranya adalah kita, rakyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s