The First Assassination, Karena Rebutan Cewek


Lukisan karya Jacopo Palma yang menggambarkan Qabil sedang menghabisi Habil. Dalam khazanah Yahudi, Qabil disebut Cain dan Habil disebut Abel.

Lukisan karya Jacopo Palma yang menggambarkan Qabil sedang menghabisi Habil. Dalam khazanah Yahudi, Qabil disebut Cain dan Habil disebut Abel.

Segala sesuatu, jika itu ‘untuk yang pertama kali’, pastilah amat berkesan. Contoh nyata untuk hal ini adalah apa yang disebut sebagai ‘malam pertama’ (hehehe). Di mana-mana, malam pertama pasti berkesan. Mana ada malam pertama yang nggak berkesan! Jika segala sesuatu ‘yang pertama’ itu amat berkesan, bagaimana jadinya dengan ‘pembunuhan pertama’? Jika ‘malam pertama’ amatlah berkesan, Pastinya ‘pembunuhan pertama’ menjadi sebuah peristiwa yang paling menyakitkan. Itulah apa yang terjadi pada Qabil dan Habil, anak-anak dari Nabi Adam ‘alaihissalam. Parahnya, pembunuhan pertama ini terjadi hanya karena rebutan cewek (hadeuh). Waspadalah, karena cewek bisa saja menjadi sebab pembunuhan!!!

Pasca diturunkannya Nabi Adam dan istrinya, Hawa, ke muka bumi, mereka menghasilkan keturunan-keturunan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa mereka dikaruniai anak-anak kembar sepasang, laki-laki dan perempuan. Pasangan anak kembar mereka yang pertama adalah Qabil dan Labuda atau, dalam beberapa sumber, Ludza. Pasangan anak kembar yang kedua adalah Habil dan Iqlima.

Nabi Adam dan Hawa tentunya mendidik anak-anak mereka untuk hanya mengabdikan diri kepada Allah swt., dengan menaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Semua pasangan kembar itu tumbuh menjadi figur-figur yang bertakwa dan taat kepada perintah Allah. Qabil mencari nafkah dengan bertani. Karakternya posesif dan agak keras kepala. Sementara Habil mencari nafkah dengan beternak. Dia seorang yang penyayang dan penyabar, cocok dengan profesi yang dipilihnya, sebagai penggembala.

Ketika Nabi Adam dan istrinya melihat anak-anak mereka sudah sampai usia matang untuk menikah, Allah mewahyukan agar mereka dinikahkan dengan bersilangan. Qabil dinikahkan dengan kembarannya Habil, Iqlima. Begitu juga sebaliknya, Habil dinikahkan dengan kembarannya Qabil, Labuda. Ketika Nabi Adam menyampaikan informasi dari Allah ini kepada putra-putrinya, ternyata terjadi penolakan. Mungkin Nabi Adam awalnya menyangka tidak akan terjadi penolakan, sebab dia telah merasa sukses mendidik putra-putrinya menjadi orang-orang saleh yang menaati semua perintah Allah. Ternyata Qabil tidak menyukai perintah ini dan dia menolaknya.

Qabil menyukai saudara kembarnya sendiri, Labuda, yang menurutnya lebih cantik. Sementara Iqlima, kembarannya Habil, dipandang kurang good looking gitu, dan nggak termasuk seleranya Qabil. Nabi Adam kemudian mengadukan urusan ini kepada Allah swt. Sang Khaliq kemudian memerintahkan agar Qabil dan Habil memberikan kurban dari hasil kerja mereka. Habil memberikan ternaknya yang terbaik, domba paling gemuk dan paling sehat serta dari varietas unggul. Dia mempersembahkan yang terbaik untuk Allah subhanahu wata’ala dalam mencari keridhoanNya. Sementara Qabil merasa tidak sudi memberikan kurban yang terbaik. Dia merasa bahwa macul ladang itu capek, menebar benih juga empot-empotan, sekarang pas hasilnya sudah mekar masa’ sih harus diserahkan kepada ‘pihak lain’? Maka dia memilihkan hasil tani yang biasa-biasa saja, bahkan bercampur dengan yang kurang baik, untuk dipersembahkan kepada Allah swt.

Dari mekanisme ini sebenarnya ingin dibuktikan siapa yang murni dan tulus dalam menaati perintah Allah swt., dan terlihatlah bahwa Habil lebih unggul. Maka Allah memilih kurban dari Habil daripada Qabil. Keputusan semula pun tidak berubah, Qabil akan dinikahkan dengan Iqlima, Habil akan dinikahkan dengan Labuda. Qabil pun geram dengan ini semua, dia mendatangi Habil dan mengancam akan membunuhnya agar dia bisa tetap menikah dengan Labuda. Habil mengingatkan Qabil agar takut dengan siksa Allah dan neraka yang panas membakar. Sayangnya, Qabil bergeming, dan akan tetap membunuh saudaranya. Habil berkata bahwa dia akan tetap bersabar dan tidak melawan walau apapun yang akan ditimpakan Qabil kepadanya. Habil tidak ingin menjadi orang-orang yang zhalim karena dia takut bermaksiat kepada Allah ‘azza wajalla. Maka Qabil pun menghantam Habil dengan sebongkah batu, dalam sumber lain dengan sepotong besi, hingga Habil tewas berlumuran darah. Maka terjadilah tragedi berdarah itu, pembunuhan yang pertama. Dan Qabil menjadi pembunuh pertama, bapak moyangnya para pembunuh.

Di dalam surah Al Maidah ayat 30 Allah mengisahkan, “Maka hawa nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang merugi.”

Tentang betapa menderitanya Qabil karena perbuatannya itu bisa kita lihat dari sabda Rasulullah ini, “Tidaklah seorang jiwa membunuh secara zhalim, melainkan anak Adam yang pertama –Qabil-, menanggung dosa darahnya. Karena dialah yang pertama kali mencontohkan pembunuhan” (Hadis sahih riwayat Jama’ah selain Abu Dawud). Abdullah bin ‘Amr pun mengungkapkan, “Sesungguhnya manusia paling sengsara adalah anak Adam yang membunuh saudaranya. Tidaklah ditumpahkannya setetes darah di muka bumi ini sejak dia membunuh saudaranya hingga hari kiamat nanti, melainkan dia berhak mendapatkan kejelekannya. Pasalnya, dialah yang pertama kali mencontohkan tindakan pembunuhan” (Qishotu min Nihayatiz Zholimin, oleh Hani al Hajj). Ngeri banget kan ya? Sudah berapa banyak orang yang dibunuh, semua dosanya tumpah kepada Qabil, na’udzhubillah. Semoga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang zhalim. Aamiin. [sayf]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s