The Rise of Evil


Adolf Hitler, pemimpin besar Nazi Jerman dengan kumis Chaplin-nya yang lucu. Sayangnya, tindakannya tidak selucu tampangnya.

Adolf Hitler, pemimpin besar Nazi Jerman dengan kumis Chaplin-nya yang lucu. Sayangnya, tindakannya tidak selucu tampangnya.

Perang Dunia Kedua adalah sebuah peristiwa amat dahsyat yang telah memakan korban setidaknya 50 juta jiwa. Sebuah jumlah yang menurut saya gila-gilaan. Selama ini selalu saja Islam yang dituduh sebagai biang kerok perang dan pertumpahan darah, padahal pembunuhan massal yang terjadi di berbagai belahan dunia disebabkan ideologi-ideologi kufur yang bercokol di sana. Bukan karena Islam. Dalam artikel singkat yang saya terjemahkan dari wikipedia.org ini akan terungkap bagaimana sepak terjang Nazi Jerman dan Adolf Hitler bangkit kepada kekuasaan dan menebar teror pada jutaan manusia. Yuk kita simak!

Nazi Jerman atau Reich Ketiga (Jerman: Drittes Reich, Inggris: Third Reich) adalah penyebutan umum Inggris untuk periode sejarah Jerman dari tahun 1933 hingga 1945, sebuah kediktatoran di bawah kendali Adolf Hitler dan Partai Nazi (NSDAP). Di bawah peraturan Hitler, Jerman berubah menjadi negara totaliter fasis yang mengendalikan hampir seluruh aspek kehidupan. Nama resmi negera ini adalah Deutsches Reich (Reich Jerman) dari 1933 hingga 1943 dan Großdeutsches Reich (Reich Jerman Agung) dari 1943 hingga 1945. Eksistensi Nazi Jerman berakhir ketika pasukan sekutu mengalahkan Jerman pada Mei 1945, mengakhiri Perang Dunia Kedua di Eropa.

Hitler ditunjuk sebagai Kanselir Jerman oleh Presiden Republik Weimar Paul von Hindenburg pada 30 Januari 1933. Partai Nazi kemudian mulai memusnahkan seluruh lawan politik dan mengonsolidasikan kekuatannya. Hindenburg wafat pada 2 Agustus 1934, dan Hitler menjadi diktator Jerman dengan menggabungkan kekuasaan lembaga kepresidenan dan kanselir. Sebuah referendum nasional yang diadakan pada 19 Agustus 1934 menegaskan Hitler sebagai Führer (pemimpin tunggal) Jerman. Seluruh kekuasaan dipusatkan di tangan Hitler, dan kata-katanya berada di atas seluruh hukum. Pemerintahan Jerman bukan lagi sebuah badan yang berkoordinasi dengan baik satu sama lain, tetapi menjadi kumpulan faksi yang saling bersaing untuk mendapatkan kekuasaan dan ridho dari Hitler (bukan ridho Allah ya, hehehe). Di tengah-tengah periode Depresi Berat, Nazi mengembalikan kestabilan ekonomi dan mengakhiri pengangguran massal dengan menyerap tenaga kerja untuk kebutuhan militer dan sebentuk mekanisme ekonomi campuran. Proyek-proyek pembangunan sipil dengan skala luas dilakukan, termasuk pembangunan Autobahn (jalan raya cepat). Kembalinya kestabilan ekonomi mendongkrak popularitas rezim ini.

Rasisme, khususnya antisemitisme, adalah corak umum dari rezim ini. Rakyat Jerman (ras Nordik) dianggap sebagai yang paling murni dari ras Arya, sehingga kemudian dianggap sebagai ras yang berkuasa dan unggul. Jutaan kaum Yahudi dan ras lainnya yang dipandang tidak diinginkan kemudian dianiaya dan dibunuh di dalam Holocaust. Pihak-pihak yang menentang Hitler pun ditindas dengan keji. Anggota gerakan oposisi yang berhaluan liberalis, sosialis, dan komunis, dibunuhi, dipenjara, atau diasingkan. Gereja-gereja Kristen pun ditekan, dan banyak pemuka agamanya dipenjara. Pendidikan difokuskan pada Biologi Rasial, kebijakan populasi, dan meningkatkan keunggulan militer. Karir dan kesempatan pendidikan untuk perempuan pun dibatasi. Rekreasi dan pariwisata pun diatur melalui program Kraft durch Freude (Kekuatan Lewat Kegembiraan), dan Olimpiade Musim Panas 1936 memamerkan Reich Ketiga pada event internasional itu. Menteri Propaganda Joseph Goebbels menggunakan film, pawai massal, dan orasi-orasi Hitler yang menghipnotis dengan sangat efektif untuk mengendalikan opini publik. Pemerintah mengendalikan ekspresi seni, mengekspresikan bentuk-bentuk seni tertentu dan melarang bentuk-bentuk lainnya.

Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi Jerman yang dengan cerdik memanipulasi opini publik untuk mendukung kebijakan2 Hitler yang represif.

Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi Jerman yang dengan cerdik memanipulasi opini publik untuk mendukung kebijakan2 Hitler yang represif.

Kebutuhan Nazi Jerman akan teritorial sangatlah tinggi, berpotensi mengancam perang jika tidak terpenuhi. Ia merebut Austria dan Cekoslovakia pada 1938 dan 1939. Hitler membuat perjanjian dengan Joseph Stalin dan menginvasi Polandia pada September 1939, yang kemudian meletupkan Perang Dunia Kedua di Eropa. Dengan persekutuan bersama Italia dan dan kekuatan poros yang lebih kecil, Jerman menaklukkan sebagian besar Eropa pada 1940 dan mengancam Inggris Raya. Reichskommissariats mengambil kontrol atas area yang telah ditaklukkan, dan sebuah Administrasi Jerman didirikan pada apa yang tersisa dari Polandia. Kaum Yahudi dan mereka yang dipandang tidak diinginkan dijebloskan ke penjara dan dibunuh di Kamp Konsentrasi Nazi dan di kamp-kamp pemusnahan. Implementasi kebijakan rasial rezim ini berujung pada pembunuhan massal kaum Yahudi dan kaum minoritas lainnya pada peristiwa Holocaust. Mengikuti invasi Jerman atas Uni Sovyet pada 1941, gelombang pasang itu berbalik menyerang Third Reich, dan ia menderita kekalahan-kekalahan perang pada 1943. Pengeboman skala besar atas Jerman memuncak pada 1944, dan Nazi mengundurkan diri dari sebelah timur dan selatan Eropa. Mengikuti invasi pasukan sekutu atas Prancis, Jerman ditaklukkan oleh kekuatan Sovyet dari front timur dan dijepit oleh kekuatan sekutu lainnya dari sebelah barat dan setahun kemudian menyerah. Penolakan Hitler untuk mengumumkan penyerahan mengakibatkan penghancuran masif pada infrastruktur Jerman dan perang-perang susulan pada bulan-bulan terakhir di tahun itu. Pasukan sekutu yang menang perang memulai sebuah kebijakan denazification (denazifikasi, atau penghilangan pengaruh dan paham Nazi) dan memasukkan para pemimpin Nazi yang bertahan hidup ke dalam pengadilan penjahat perang pada Pengadilan Nuremberg (Nuremberg Trials).

Nama

Nama resmi negara ini adalah Deutsches Reich (Reich Jerman) sejak 1933 sampai 1943, dan Großdeutsches Reich (Reich Jerman Agung) sejak 1943 sampai 1945. Nama Deutsches Reich biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “German Empire” (Kekaisaran Jerman) atau “German Reich” (Reich Jerman). Orang Jerman modern biasa menyebut periode ini sebagai Zeit des Nationalsozialismus (Periode Nasional Sosialis), Nationalsozialistische Gewaltherrschaft (Tirani Nasional Sosialis), atau sederhananya das Dritte Reich (The Third Reich, atau Reich Ketiga).

Istilah Inggris umumnya adalah “Nazi Germany” dan “Third Reich”. Istilah yang terakhir ini, yang diadopsi oleh propaganda Nazi, pertama kali digunakan di buku karya Arthur Moeller van den Bruck yang terbit tahun 1923. Buku ini menghitung Kekaisaran Romawi Suci (962-1806), sebagai First Reich (Reich Pertama) dan Kekaisaran Jerman (1871-1918) sebagai yang kedua (Second Reich). Kaum Nazi menggunakan istilah Third Reich untuk melegitimasi rezim mereka sebagai penerus dari kekaisaran sebelumnya. Setelah mengambilalih kekuasaan, propaganda Nazi secara retroaktif (surut) menyebut Republik Weimar sebagai Zwischenreich (“Interim Reich”, atau Penguasa Sementara).

Berawal pada tahun 1980an, kritikus linguistik Jerman telah mempertanyakan adopsi istilah “Third Reich” yang hampir tidak bisa dikritik itu. Padah 1984, seorang ahli hukum Jerman Walter Mallaman menulis bahwa di dalam “sejarah konseptual tentang pemikiran politik, konstitusional, dan legal”, istilah itu “tidak bisa dipertahankan”. Pada 1989, Dieter Gunst lebih jauh mencatat bahwa penunjukan rezim Hitler sebagai Third Reich bukan hanya sebuah “revaluasi positif atas Sosialisme Nasional” tetapi juga sebuah kekeliruan penafsiran sejarah, dia menambahkan bahwa Hitler tidak mendirikan negara apapun ataupun sebuah “particular Reich”.

Sejarah

Latar Belakang

Perekonomian Jerman mengalami kemunduran yang sangat parah setelah Perang Dunia I berakhir, sebagiannya karena pembayaran pembangunan kembali berdasarkan Perjanjian Versailles tahun 1919. Pemerintah mencetak uang untuk memenuhi semua itu sekaligus utang perang; yang terjadi kemudian adalah hiperinflasi yang berujung pada harga yang terinflasi untuk kebutuhan-kebutuhan pokok, kekacauan ekonomi, dan penjarahan makanan. Ketika pemerintah gagal melakukan pembayaran pembangunan kembali pada Januari 1923, pasukan Prancis mencaplok wilayah industri Jerman di sepanjang Ruhr. Kerusuhan sipil yang meluas pun terjadi.

Partai Buruh Sosialisme Nasional Jerman (Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei) adalah partai yang pada awalnya bernama Partai Buruh Jerman (Deutsche Arbeiterpartei), didirikan pada 1919, adalah satu dari beberapa partai politik kanan-jauh yang aktif di Jerman pada masa itu. Beberapa dari kebijakan partai ini adalah: menyingkirkan Repunlik Weimar, menolak syarat-syarat Perjanjian Versailles, radikal antisemitisme, dan antibolshevisme. Mereka menjanjikan pemerintah pusat yang kuat, meningkatkan Lebensraum (tempat hidup) untuk kaum Jermanik, membentuk komunitas nasional berdasarkan ras, dan pembersihan rasial melalui tekanan aktif atas Yahudi, yang akan ditarik hak-hak kewarganegaraan dan hak-hak sipilnya. Partai Nazi mengajukan pembaharuan nasional dan kultural berdasarkan Gerakan Völkisch.

Ketika pasar saham di Amerika terguncang pada 24 Oktober 1929, imbasnya di Jerman buruk sekali. Jutaan orang kena PHK, dan beberapa bank besar bangkrut. Hitler dan NSDAP mempersiapkan diri untuk mengambil keuntungan dari keadaan darurat ini untuk partai mereka. Mereka berjanji untuk memperkuat ekonomi dan menyediakan lapangan pekerjaan. Banyak pemilih memutuskan bahwa NSDAP punya kemampuan untuk mengembalikan keadaan, menekan kerusuhan sipil, dan meningkatkan reputasi internasional Jerman. Setelah pemilu federal pada 1932, Nazi adalah partai terbesar di Reichstag (semacam DPR), dengan 230 kursi dan mengantongi 37,4% perolehan suara.

Nazi Menggenggam Kekuasaan

Walaupun Nazi memiliki perolehan terbesar dalam dua kali pemilu Reichstag pada 1932, mereka tidak meraih suara mayoritas, maka Hitler membangun pemerintahan koalisi yang berumur pendek antara NSDAP dengan Partai Rakyat Nasional Jerman (Deutschnationale Volkspartei). Di bawah tekanan para politisi, industrialis, dan komunitas bisnis, Presiden Paul von Hindenburg menunjuk Hitler sebagai Kanselir Jerman pada 30 Januari 1933. Event ini dikenal sebagai Machtergreifung (penggenggaman kekuasaan). Pada bulan-bulan berikutnya, NSDAP menggunakan Gleischaltung (koordinasi) bersyarat untuk secara cepat menghimpun segala aspek ke dalam kendali partai. Seluruh organisasi sipil, termasuk kelompok petani, organisasi sukarelawan, dan kelompok olahraga, pimpinannya digantikan dengan para simpatisan atau anggota Partai Nazi. Pada Juni 1933, organisasi yang tidak berada di bawah kendali NSDAP hanyalah angkatan bersenjata dan gereja.

Pada malam 27 Februari 1933, gedung Reichstag dibakar; Marinus van der Lubbe, seorang komunis Belanda, dinyatakan bersalah karena tindakan ini. Hitler menyatakan bahwa pembakaran itu menandai dimulainya pemberontakan komunis. Tekanan keras atas kaum komunis oleh Sturmabteilung (disingkat SA, artinya “Detasemen Badai”, adalah sayap paramiliter Nazi) dilakukan di seluruh wilayah, dan 4000 anggota Partai Komunis Jerman (Kommunistische Partei Deutschlands) dipenjara. Dekrit Pembakaran Reichstag, diberlakukan pada 28 Februari 1933, membatalkan sebagian besar kebebasan sipil Jerman, termasuk kebebasan berpendapat dan kebebasan pers. Dekrit ini pun mengizinkan polisi untuk menahan siapa pun tanpa ada proses peradilan dan penuntutan. Legislasi ini diiringi oleh sebuah propaganda cepat untuk mengarahkan dukungan publik atas tindakan ini.

Pada Maret 1933, Peraturan Pembolehan (Jerman: Ermächtigungsgesetz), sebuah amandemen atas Konstitusi Weimar, lolos dari Reichstag dengan voting, 444 suara berbanding 94. Amandemen ini membolehkan Hitler dan kabinetnya melangkahi hukum –walaupun kebijakannya bertentangan dengan konstitusi- walaupun tanpa izin dari presiden ataupun Reichstag. Karena sebuah peraturan membutuhkan dua pertiga dari suara mayoritas untuk bisa disahkan, Nazi menggunakan ketentuan dari Dekrit Pembakaran Reichstag untuk membuat beberapa perwakilan kalangan Sosial Demokrat tidak hadir dalam sidang; kaum komunis pun telah dilarang. Pada 10 Mei pemerintah mengambilalih aset-aset Sosial Demokrat; mereka dibekukan pada Juni. Partai politik yang tersisa pun dibubarkan, dan pada 14 Juli 1933, Jerman secara de facto menjadi negara berpartai tunggal ketika pendirian partai baru dinyatakan ilegal. Pemilu selanjutnya pada November 1933, 1936, dan 1938, secara keseluruhan dikendalikan Nazi dan hanya kaum Nazi yang terpilih dan beberapa utusan independen. Dewan perwakilan daerah dan Reichsrat (Dewan Federal Atas) dibubarkan pada Januari 1934.

Rezim Nazi menghapuskan lambang Republik Weimar, termasuk bendera hitam, merah, dan emas, dan mengadopsi simbolisme kekaisaran yang diperbaharui. Tiga warna kekaisaran sebelumnya, hitam, putih, dan merah, dikembalikan sebagai dua bendera kebangsaan Jerman. Bendera kebangsaan yang kedua adalah bendera swastika milik NSDAP, yang kemudian menjadi satu-satunya bendera nasional pada 1935. Hymne NSDAP “Horst-Wessel-Lied“ menjadi lagu kebangsaan nasional.

Pada periode ini, Jerman masih berada dalam kondisi ekonomi yang mengerikan: jutaan orang menganggur dan neraca defisit sangat menakutkan. Hitler mengetahui bahwa membangkitkan perekonomian sangatlah vital. Pada 1934, menggunakan deficit spending, proyek-proyek pekerjaan publik dilaksanakan. Total 1,7 juta rakyat Jerman dipekerjakan pada proyek tahun 1934 saja. Upah rata-rata baik perjam maupun perminggu mulai naik.

Tuntutan SA atas kekuasaan politik dan militer yang lebih besar menyebabkan kecemasan di tengah-tengah angkatan bersenjata, industri, dan pemimpin-pemimpin politik. Hitler menyingkirkan seluruh pemimpin SA pada Malam Pisau Panjang, yang terjadi sejak 30 Juni hingga 2 Juli 1934. Hitler mengincar Ernst Rohm dan pemimpin SA lainnya yang, bersama dengan sejumlah lawan politik Hitler (seperti Gregor Strasser dan mantan kanselir Kurt von Schleicher), dikumpulkan, ditahan, dan ditembak.

Pada 2 Agustus 1934, Presiden Paul von Hindenburg wafat. Hari sebelumnya, kabinet telah menetapkan “Hukum Berkaitan Lembaga Tinggi Reich“, yang menetapkan bahwa setelah kematian Hindenburg, lembaga kepresidenan akan ditiadakan dan kekuasaannya digabungkan dengan lembaga kanselir. Dengan demikian Hitler menjadi seorang kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Secara resmi dia mendapat gelar Führer und Reichskanzler (Pemimpin dan Kanselir Reich). Jerman menjadi sebuah negara totaliter dengan Hitler di atas pucuk pimpinannya. Sebagai kepala negara, Hitler menjadi komandan tertinggi angkata bersenjata. Hukum yang baru mengubah sumpah prajurit menjadi sumpah setia kepada Hitler saja, bukan lagi kepada lembaga angkatan bersenjata atau negara. Pada 19 Agustus, penggabungan lembaga kepresidenan dan lembaga kanselir disetujui oleh 90 persen pemilih dalam sebuah plebisit.

Sebagian besar rakyat Jerman merasa lega bahwa konflik dan pertempuran jalanan selama era Weimar telah berakhir. Mereka dininabobokan oleh propaganda Joseph Goebbels, yang berjanji akan diraihnya kedamaian dan banyak hal lainnya dalam persatuan, negara yang bebas dari Marxisme tanpa tekanan dari Perjanjian Versailles. Kamp Konsentrasi Nazi yang pertama, pada awalnya untuk tahanan politik, dibuka di Dachau pada 1933. Ratusan kamp dengan luas dan fungsi yang berbeda-beda dibuat pada akhir perang. Ketika meraih kekuasaan, Nazi melakukan tindakan represif pada lawan-lawan politik mereka dan dengan cepat memulai marginalisasi komprehensif atas mereka yang secara sosial dipandang tidak diinginkan. Di bawah kedok melawan laten komunis, kaum Sosialisme Nasional mengamankan kekuasaan yang amat besar. Lebih dari semua itu, kampanye mereka untuk melawan Yahudi yang tinggal di Jerman mendapatkan momentum.

Berawal pada April 1933, sejumlah kebijakan yang menentukan status dan hak-hak orang Yahudi dilembagakan di tingkat regional dan nasional. Berbagai inisiatif dan mandat legal atas orang Yahudi mencapai puncaknya dengan diresmikannya Hukum Nuremberg pada 1935, yang menelanjangi seluruh hak-hak dasar mereka. Kaum Nazi sah-sah saja mengambil kekayaan orang Yahudi, mengambil hak mereka untuk kawin dengan non-Yahudi, dan hak untuk menempati lapangan pekerjaan (seperti di bidang hukum, medis, dan bekerja sebagai guru). Pada akhirnya mereka ditetapkan tidak diingikan untuk tetap berada di tengah-tengah rakyat Jerman, yang kemudian berujung pada Holocaust. Etnis Jerman yang menolak mengucilkan orang Yahudi atau yang menunjukkan tanda-tanda penolakan pada propaganda Nazi akan ditempatkan dalam pengawasan oleh Gestapo, hak-haknya akan dilucuti, dan dikirim ke kamp konsentrasi. Apapun dan siapapun pasti akan dimata-matai di Nazi Jerman.

Kebijakan Luar Negeri Militeristik

Pada awal Februari 1933, Hitler mengumumkan bahwa persenjataan kembali angkatan perang akan dilakukan, walaupun pada awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sebab kebijakan ini akan menginjak-injak Perjanjian Versailles. Sehari kemudian, Hitler berkata pada para komandan militernya bahwa tahun 1942 akan menjadi target berkobarnya perang di timur. Hitler menarik Jerman dari Liga Bangsa-Bangsa pada 1933, mengklaim bahwa pelucutan senjata atas Jerman sangatlah tidak adil, karena hanya diberlakukan kepada Jerman. Wilayah Saarland, yang berada di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa selama 15 tahun sejak akhir Perang Dunia I, berdasarkan voting pada Januari 1935, menjadi bagian wilayah Jerman. Pada Maret 1935, Hitler mengumumkan bahwa Reichwehr akan ditingkatkan menjadi 550.000 personil dan akan didirikan sebuah angkatan udara. Inggris setuju bahwa Jerman diizinkan untuk mendirikan angkatan laut dengan penandatanganan Anglo-German Naval Agreement pada 18 Juni 1935.

Ketika invasi Italia atas Ethiopia hanya disikapi secara lembek oleh pemerintah Inggris dan Prancis, pada 7 Maret 1936 Hitler memerintahkan Reichwehr menggerakkan 3000 pasukan ke wilayah nonmiliter di Rhineland yang secara jelas mencederai Perjanjian Versailles; sementara pasukan tambahan sebanyak 30.000 prajurit sudah standby. Karena wilayah itu adalah wilayah Jerman sendiri, Inggris dan Prancis merasa bahwa penguatan kembali perjanjian yang telah retak itu bisa saja memicu perang. Pada pemilu partai tunggal yang diadakan pada 29 Maret, NSDAP meraih 98,8% dukungan. Pada 1936 Hitler menandatangani Perjanjian Anti-Commintern dengan Jepang dan perjanjian Non-Agresi dengan Fasis Italia di bawah pimpinan Bennito Mussolini, yang kemudian berkembang menjadi “Poros Roma-Berlin”.

Hitler mengirim pesawat udara dan kendaraan lapis baja untuk membantu Jenderal Francisco Franco dan kekuatan nasionalisnya pada Perang Sipil Spanyol, yang pecah pada Juli 1936. Uni Sovyet mengirim pasukan yang lebih kecil untuk membantu Pemerintah Republikan. Pasukan Nasionalis Franco meraih kemenangan pada 1939 dan menjadi sebuah aliansi nonformal dengan Nazi Jerman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s