Not The End of Ghazi


Stories of Ghazi

Stories of Ghazi

Menyelami sepak terjang dan derap langkah para Ghazi memang pengalaman yang luar biasa. Luar biasa yang saya maksud di sini memang benar-benar luar biasa. Ada banyak sekali hal yang dipandang orang sekarang sebagai keajaiban. Saya menyelami obsesi dan kegigihan yang mencengangkan, yang mungkin akan banyak dipandang orang sekarang sebagai ‘kegilaan’. Ada banyak orang yang bertanya-tanya, dari mana datangnya obsesi dan kegigihan yang begitu besar? Hingga semua itu sanggup menjungkirbalikkan dunia, dan mewujudkan sesuatu yang selama ribuan tahun dianggap mustahil. Semua itu terlihat pada diri para Ghazi yang bergerak di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad al-Fatih, pemimpin para Ghazi.

Ratusan tahun sebelum masa mereka, hal ini pun pernah terjadi. Ketika di bawah kepemimpinan para Khalifah Rasyidah, tentara Islam merontokkan singgasana dua adidaya yang selama ratusan tahun menguasai dunia, Persia dan Romawi. Saking mengejutkannya peristiwa itu, seorang pendeta Kristen, John Bar Pankaye, bertanya-tanya: “Bagaimana caranya orang-orang Arab yang terbelakang itu bisa menaklukkan peradaban maju seperti Persia dan Romawi. Padahal mereka bertempur tanpa baju zirah, hanya mengandalkan pedang dan kuda-kuda mereka.” (The Great Arab Conquest, by Hugh Kennedy).

Ada sebuah rahasia di sini yang mesti diungkap. Sebuah rahasia kemenangan abadi yang membuat kemenangan selalu di tangan. Generasi Islam awal memahami benar rahasia ini, dan karena itulah mereka menang. Muhammad al-Fatih dan para Ghazi pun memahami benar rahasia ini, dan karena itu pulalah mereka menang. Rahasia itu adalah ketaatan kepada Allah ‘azza wajalla Qadhi Robbul Jalil.

Mereka memahami bahwa hanya dengan taat kepada Allah sajalah maka kemenangan akan datang. Sebab kemenangan murni sebagai sebuah keputusan Allah, bukan yang lain. Jika Dia berkehendak, maka apapun yang terjadi, tidak ada yang sanggup menghalangi kemenangan tadi.

Saat menggarap serial Ghazi bersama Mas Ustadz Felix Siauw, maka pendalaman terhadap sepak terjang para Ghazi menjadi tidak bisa dipungkiri. Dan saat itulah rasa kagum memuncak di dalam diri saya. Para Ghazi bukan sembarang kesatria yang menjalani latihan yang berat dan intensif, tetapi mereka juga para ulama dan penghafal Quran. Para Ghazi bukan cuma sangar di medan perang, tetapi juga santun dan lembut kepada rakyat dan orang-orang yang lemah. Bukan Cuma tubuh mereka yang kuat dan tangkas, hati dan emosi mereka pun selalu dituntun oleh wahyu. Mereka bukan Cuma pandai mengasah pedang, tetapi juga mengasah sanubari mereka dengan zikrullah. Maka tak heran jika janji Rasulullah shalallahu ‘alayhiwasallam berhasil dieksekusi dengan pasukan seperti ini.

Berapa helai halaman akan cukup untuk menuangkan kisah para Ghazi? Novel Ghazi diproyeksikan menjadi tetralogi (empat seri), tetapi mau tak mau harus diperpanjang menjadi pentalogi (lima seri) karena tetralogi ternyata belum cukup untuk menampung keseluruhan kisahnya. Bahkan sebenarnya pentalogi pun belum cukup, sebab akan selalu kita temukan banyak hal menakjubkan di setiap sepak terjang mereka, yang amat layak dituangkan ke dalam tulisan.

Pada 28 September 2015 keseluruhan kisah Ghazi berhasil kami rampungkan seluruhnya. Setelah terbitnya Ghazi seri tiga, insya Allah akan disusul dengan terbitnya Ghazi seri empat dan lima. Seluruh naskahnya sudah selesai dan sedang memasuki tahap perancangan sampul, ilustrasi, dan tata letak. Momen penaklukan Konstantinopel menjadi klimaks dari derap langkah para Ghazi, namun penaklukan itu bukanlah akhir, melainkan awal bagi kemenangan-kemenangan Islam selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s