Perang Uhud dan Lelaki Yang Diseruduk Kambing (Bagian 4)


Ilustrasi kuno tentang pasukan Arab.

Ilustrasi kuno tentang pasukan Arab.

Menjelang pecahnya Perang Uhud, Abu Sufyan sebagai komandan pasukan Quraisy, mengirim utusan kepada pasukan Muslim dari kalangan Anshar. Seperti yang dikisahkan Imam Al-Maqrizi: “Biarkanlah kami dengan anak paman kami sehingga kami pun akan membiarkan kalian. Kami tidak memiliki kepentingan berperang dengan kalian.”

Utusan itu menyatakan bahwa pasukan Quraisy tidak punya urusan dan dendam apa-apa kepada kaum Anshar, melainkan urusan mereka adalah dengan orang-orang Muhajirin yang mereka sebut ‘anak paman kami’. Jelas sekali seruan ini dilontarkan untuk memecah belah barisan pasukan Muslim. Kaum Anshar dengan tegas dan gagah menolak seruan ini.

Saat kedua pasukan berhadap-hadapan, majulah seorang kesatria kafir Quraisy bernama Thalhah bin Utsman. Dialah komandan yang memegang bendera Quraisy. Dengan pedang terhunus, Thalhah petantang-petenteng dan berkoar-koar: “Wahai pengikut Muhammad, kalian mengira bahwa Allah akan menyegerakan kami ke neraka dengan pedang-pedang kalian dan menyegerakan kalian ke surga dengan pedang-pedang kami? Apakah ada di antara kalian orang yang ingin mengegerakanku pergi ke neraka dengan pedangnya, atau aku yang mengegerakan dia ke surga dengan pedangku ini?”

Seorang kesatria Muslim pun maju untuk berhadapan dengan Thalhah, ia adalah Ali bin Abi Thalib. Ali ra. berkata: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak akan meninggalkanmu sampai Allah menyegerakanmu ke neraka dengan pedangku ini atau Dia menyegerakanku ke surga dengan pedangmu.”

Kedua kesatria itu pun berduel di tengah-tengah pasukan yang sedang berhadap-hadapan itu. Pedang mereka beradu dan saling berdentang. Terlihatlah bahwa Ali bin Abi Thalib ra. lebih unggul daripada Thalhah bin Utsman. Ali ra. menebas kedua kaki Thalhah sampai putus, Thalhah terguling tak berdaya dan auratnya terbuka. Dia pun merengek mengemis hidup.

“Wahai anak pamanku, aku memohon kepadamu atas nama Allah dan hubungan kerabat,” katanya. Ali ra. kemudian meninggalkannya dan tidak jadi membunuhnya.

Sebagian sahabat bertanya kepada Ali ra. tentang mengapa ia tidak jadi membunuh Thalhah. Ali menjawab: “Anak pamanku itu memintaku atas nama hubungan kerabat ketika auratnya terbuka, maka aku menjadi malu karenanya,” (Sirah Nabawiyah, Prof. Ali Ash-Sholabi, hal. 649).

Rasulullah saw. pun memekikkan takbir dan pasukan Muslim pun bergerak menyerang pasukan Quraisy. Pertempuran pun berkecamuk besar. Rasulullah saw. menguatkan semangat dan kegigihan para sahabat. Beliau mengambil sebilah pedang dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Siapa yang mau mengambil pedang ini?” Serunya.

Para sahabat dengan riuh mengacungkan tangannya dan berseru: “Aku… Aku…”

Rasulullah kemudian bersabda: “Siapa yang mau mengambilnya kemudian memenuhi hak-haknya?” Para sahabat pun terdiam, mereka khawatir tidak sanggup.

Datanglah seorang sahabat bernama Simak bin Kharasyah Abu Dujanah. Ia menyanyakan apa hak-haknya pedang itu? Rasulullah pun bersabda: “Engkau menyerang musuh dengan pedang ini hingga pedang ini bengkok.”

“Aku mengambilnya dengan hak-haknya,” kata Abu Dujanah.

Rasulullah pun menyerahkan pedang itu kepada Abu Dujanah. Di tengah-tengah medan perang itu, Abu Dujanah berjalan dengan gaya petantang-petenteng dan sombong, saat melihat gaya berjalannya Abu Dujanah itu, Rasulullah bersabda: “Itu adalah gaya berjalan yang dibenci Allah, kecuali di tempat seperti ini,” (HR. Muslim).

Dalam Perang Uhud, Abu Dujanah melihat ada seorang yang habis-habisan menyemangati pasukan musyrik. Ia bergerak cepat menghampiri orang itu dan segera menghunuskan pedangnya untuk membunuh musuhnya tadi. Ketika ia mengetahui bahwa orang itu adalah Hindun binti Utbah, ia mengurungkan niatnya. Ia tidak jadi membunuh Hindun untuk menghormati pedang pemberian Rasulullah.

Dengan kegigihan pasukan Muslim dan pertolongan dari Allah, tanda-tanda kemenangan pun mulai nampak. Pasukan Muslim terus menekan pasukan Quraisy hingga mereka lari tunggang-langgang dan pasukan Muslim berhasil menguasai kemah-kemah pasukan Quraisy. Pada momen inilah kemenangan yang telah di depan mata, akhirnya musnah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s