Cut Meutia dan Tiga Peluru (Bagian 1 dari 4)


Buku berjudul "Atjeh", karya Zentgraff.

Buku berjudul “Atjeh”, karya Zentgraff.

Arus globalisasi dan serangan budaya yang dilancarkan oleh Barat telah membuat generasi kita teralihkan perhatiannya dari memelajari riwayat hidup dan sepak terjang para pejuang. Sehingga yang kemudian tertinggal di dalam ingatan dan hati kita hanya nama-nama mereka saja. Ataukah mungkin nama-nama mereka pun tidak berbekas lagi di dalam diri kita sama sekali? Memprihatinkan.

Dalam artikel ini mari kita sama-sama berkisah tentang kisah hidup seorang wanita pejuang yang turut aktif dalam Perang Sabil di Aceh melawan Belanda. Nama beliau mungkin sudah cukup dikenal oleh generasi kita, hanya saja bagaimana sepak terjang beliau sedikit yang membicarakannya.

Beberapa sumber klasik yang ditulis oleh para pendahulu kita memuat banyak kisah tentang wanita perkasa ini. Beberapa di antaranya adalah buku-buku klasik karangan Teungku Ismail Yakub, Teungku Alibasjah Talsja, dan salah satu sumber Belanda yakni buku karya Zentgraff. Sekarang mari kita mulai saja kisah Cut Meutia yang besar ini.

Secantik Mutiara

Cut Meutia adalah seorang wanita yang amat cantik. Setidaknya begitulah yang digambarkan oleh seorang wartawan Belanda bernama Zentgraff di dalam bukunya yang berjudul Atjeh. Berikut saya kutip komentar Zentgraff tentang Cut Meutia. “Cut Meutia bukan saja amat cantik parasnya, tapi juga memiliki tubuh yang tampan dan menggairahkan. Dengan mengenakan pakaian adatnya yang indah-indah menurut kebiasaan wanita di daerahnya, dengan “silueueu” (seluar) Aceh sutera berwarna hitam, dengan baju yang dikancingi perhiasan-perhiasan emas di dadanya serta tertutup ketat, dengan rambutnya yang hitam pekat serta dihiasi “ulee ceumara” emas (sejenis perhiasan rambut), dengan gelang kakinya yang melingkari pergelangan lunglai, wanita itu benar-benar seorang bidadari yang memesonakan. Karenanya tidak heran pula jika sultan … jatuh hati kepadanya, akan tetapi pada suatu jarak yang jauh…” (Zentgraff, hal 151).

Saking cantiknya Cut Meutia, sultan pun jatuh hati kepadanya. Konon, “Meutia” bermakna “mutiara”. Kecantikan itu kemudian diimbangi dengan tekad yang kuat dan keteguhan untuk tidak menyerah kepada Belanda. Kecantikan dan keteguhan ini membuat Cut Meutia menjadi wanita yang disegani.

Bersambung

Follow @sayfghazi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s