Cut Meutia dan Tiga Peluru (Bagian 4-Habis)


Terbunuhnya Jenderal Kohler di depan Masjid Raya.

Terbunuhnya Jenderal Kohler di depan Masjid Raya.

Setelah menyatakan diri melapor kepada pemerintah Belanda di Lhokseumawe, pulanglah Teuku Cik Tunong dan Cut Meutia sekeluarga ke Keureutoe. Mereka semua tinggal kembali bersama Cut Nyak Asiah dan Teuku Syamsarif di Jrat Manyang. Karena adanya ketidakcocokan dengan tempat tinggal ini (mungkin karena memunculkan beberapa kenangan buruk yang lalu), maka Cik Tunong sekeluarga memutuskan untuk pindah saja ke Teupin Gajah, sekarang daerah Panton Labu.

Sebelum kepindahannya, Teuku Syamsarif dan Cut Nyak Asiah telah menasihati Cik Tunong sekeluarga agar tetap berada di Jrat Manyang, sehingga Teuku Syamsarif yang menjabat sebagai Uleebalang Keureutoe pada masa itu bisa melindungi Cik Tunong sekeluarga. Bisa dipahami pada masa itu perang masih saja berkecamuk dan beberapa pemimpin gerilya yang kuat masih bergerak di hutan-hutan, sehingga pemerintah Belanda belum tentu percaya dengan penyerahan diri Cik Tunong. Namun keputusan untuk pindah itu sudah bulat.

Pada awalnya, Cik Tunong sekeluarga tinggal dengan tenang dan damai di Teupin Gajah, Cik Tunong menggarap lahan sementara Cut Meutia mengurus rumah tangga, hingga terjadilah sebuah tragedi yang memilukan. Terjadi pembunuhan sebuah regu pasukan Marsose Belanda yang sedang menginap di dayah Meurandeh Paya. Cik Tunong dituduh terlibat dengan pembunuhan itu karena pembunuhnya diduga pernah berkunjung ke rumah Cik Tunong di Teupin Gajah sebelum melakukan pembunuhannya. Padahal hal itu tidaklah benar. Akhirnya Cik Tunong ditangkap kembali dan dipenjara di Lhokseumawe.

Ketika Cik Tunong ditangkap Belanda, Cut Meutia sedang hamil tua. Karena datangnya berita yang duka yang amat mengejutkan itu, Cut Meutia diungsikan ke rumah keluarganya di Pirak. Beliau melahirkan bayi kembar di sana yang langsung meninggal setelah dilahirkan. Pada saat melahirkan beliau kehilangan banyak darah dan beliau menjadi lumpuh dan sakit.

Cik Tunong akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan cara ditembak. Eksekusi dilakukan di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum beliau syahid di ujung pelor Belanda, beliau sempat menitipkan wasiat kepada rekan seperjuangan beliau, Pang Nanggroe. Beliau memerintahkan agar Pang Nanggroe menikah dengan istri beliau, Cut Meutia, dan melanjutkan perjuangan.

Menikahlah Pang Nanggroe dengan Cut Meutia di tengah-tengah hutan. Kemudian mereka melanjutkan kembali perjuangan melawan Belanda. Dalam sebuah penyergapan, Pang Nanggroe pun syahid karena ditembak. Pimpinan perang kemudian dialihkan kepada Cut Meutia.

Ketika menempuh perjalanan menuju Gayo, Cut Meutia dan rombongannya berhenti di tepi sebuah sungai yang dangkal. Beliau memerintahkan agar rombongannya beristirahat dan menanak nasi untuk makan siang. Tiba-tiba terkejutlah mereka dengan teriakan yang kencang sekali, yang menandakan bahwa kaphe Belanda datang. Suara tembakan mulai terdengar. Sebagian rombongan melarikan diri, sebagian yang lainnya turun berperang. Cut Meutia adalah salah satu orang yang tetap gigih melawan hingga tiga butir peluru menembus tubuhnya. Satu peluru di kepala, dan tiga peluru menembus dadanya. Innalillahi wa inna ilayhi roji’un. Seorang lagi pejuang telah berpulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s