Menengok Sejarah Perang Sabil Aceh [Tanah Jihad]


Naskah asli Hikayat Prang Sabi yang sangat ditakuti Belanda.

Naskah asli Hikayat Prang Sabi yang sangat ditakuti Belanda.

Suku Shonna di Afrika mengatakan bahwa tanah Afrika berwarna merah karena darah para penakluk yang telah tertumpah di atasnya. Saya belum pernah ke Aceh, dan jika ada umur serta rizki saya berziarah ke sana, mungkin saya akan menemukan pula bahwa tanah Aceh berwarna merah, sebab Aceh adalah tanah jihad. Ah, itu cuma khayalan saya saja, tanoh Aceh pun berwarna cokelat, sama dengan tanah-tanah yang lain. Namun jika saya sebut Aceh adalah tanah jihad, saya tidak main-main.

Saya tidak tahu banyak tentang Aceh, namun saya ingin sekali berbagi sesuatu yang saya tahu. Suatu kali saya ngobrol-ngobrol dengan guru menulis saya, beliau sekaligus seorang sejarawan. Kata beliau, dulu ketika sultan Shalahuddin al Ayubi menggalang jihad akbar untuk membebaskan jerussalem dari tangan kaum Kristen bangsa Frank, salah satu kalangan muslim yang pertama-tama menjawab seruan itu adalah muslim Aceh. Saya ternganga. Aceh dengan posisi geopolitiknya yang strategis, dan kekayaan sumber daya alamnya, telah membuat berbagai bangsa bernafsu untuk menguasainya. Islam diterima orang-orang Aceh dengan sukarela, dipeluk, diamalkan, dan dipertahankan mati-matian. Dengan Islam itu pulalah Kesultanan Aceh tumbuh menjadi kesultanan yang kuat. Aceh pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Khilafah Islamiyah.

Berbagai serangan kaum kafir datang bertubi-tubi menggempur Aceh. Ketika sultan Alaiddin Riayat Syah al Kahhar berkuasa, pada abab ke-16 M, Aceh diserang oleh portugis. Jihad pun berkobar, menyuntikkan kekuatan yang teramat besar. Pada paruh kedua abad ke-19 M, tanggal 1 April 1873, kafir Belanda mendeklarasikan perang secara resmi terhadap Aceh. Seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda bernama Niuwenhujzen membawakan lembar pernyataan perang itu setelah beberapa hari berkirim-kiriman surat dengan sultan Aceh dari atas kapal Citadel van Antwerpen yang nongkrong di hadapan Pantai Ceureumen. Sejak itu, perjuangan jihad yang panjang dimulai. Berpuluh-puluh tahun lamanya muslim Aceh berperang mempertahankan amanah Allah, negeri Aceh, dari jarahan kaphe beulanda. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semuanya turun berperang. Dan apapun yang terjadi, walaupun Masjid Raya Baiturrahman terbakar habis dibom Belanda, walaupun istana Darud Dunya hancur lebur, walaupun van Daalen membunuh ratusan orang, walaupun Snouck Hurgronje memerintahkan agar membantai para ulama, walaupun para pahlawan berguguran, muslim Aceh tak pernah kalah, sebab mereka tak pernah menyerah. Lebih baik mati berkalang debu tapi mulia, daripada hidup tapi terhina sebab terjajah. Selalulah ceritakan kisah mulia itu. Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk meneladaninya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s