Talk About Jahiliyyah


Ilustrasi klasik tentang Ka'bah.

Ilustrasi klasik tentang Ka’bah.

Zaman yang satu ini tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita semua, Zaman Jahiliyyah. Anak kecil juga tahu, bahwa Zaman Jahiliyah adalah zaman ketika Islam belum diturunkan dan Rasulullah Muhammad shalallahu’alaihi wasallam belum diutus. Para sejarawan menjelaskan bahwa pada periode ini terjadi apa yang disebut sebagai periode fatrah, yakni periode kekosongan kenabian. Orang-orang menjalani kehidupannya tanpa arah dan tanpa petunjuk. Kebanyakan mereka tersesat dan hidup dengan seenak udelnya sendiri. Sisanya membuat-buat aturan dan sistem berdasarkan hawa nafsu. Ada juga yang masih berpegang pada syariat nabi-nabi terdahulu yang tentu saja sudah tidak murni lagi.

Periode kelam ini disebut “Zaman Jahiliyyah” bukan dikarang-karang oleh para sejarawan, tetapi memang Alquran sendiri yang menamai periode tadi sebagai Zaman Jahiliyyah. Dengan kata lain, ketika orang-orang pada suatu zaman menjalani hidup dengan tidak dipandu oleh syariat dan wahyu dari Allah, saat itulah mereka memasuki Zaman Jahiliyyah. Mari sedikit kita bahas tentang apa yang disampaikan Alquran tentang Zaman Jahiliyyah.

Ada empat tempat di dalam Alquran yang membahas tentang tema Jahiliyyah ini, dan pada keempat tempat ini dibahas bentuk-bentuk kejahiliyahan yang berbeda-beda. Tempat pertama adalah di surah Ali Imran ayat 154. Allah swt. berfirman: “… mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkaan jahiliyyah.” Bentuk kejahiliyyahan yang pertama tentu saja dalam hal akidah. Orang jahiliyyah sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. pada menyembah berhala, dan berkata bahwa berhala-berhala itu adalah perantara mereka dengan Allah. Ada juga yang berkata bahwa berhala-berhala itu adalah anak perempuan Allah (so funny). Pada zaman ini, ketika kita melihat masih ada orang yang bersimpuh pada pohon besar atau besar, maka bisa dipastikan bahwa orang itu masih berkubang di zaman jahiliyyah.

Bentuk kejahiliyyahan yang kedua dijelaskan di dalam Alquran di surah Al-Maidah ayat 50. Allah swt. berfirman: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” Bentuk kejahiliyyahan yang kedua adalah dalam hal hukum dan aturan. Pada masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. berlaku berbagai hukum yang amat menggelikan dan itu sudah dianggap lumrah. Misalnya, pada zaman itu dikenal beberapa hukum nikah, bukan cuma seperti hukum nikah yang kita kenal sekarang. Salah satu hukum nikah aneh yang berlaku pada zaman itu adalah ketika sepasang suami-istri belum juga memiliki anak, maka sang suami boleh meminta istrinya untuk ‘bermalam’ bersama temannya, dan ketika nanti istrinya hamil, maka anaknya akan menjadi milik mereka. Hukum nikah seperti ini kan gila. Sama saja dengan apa yang terjadi saat ini. Kita lebih memilih menggunakan demokrasi dengan meninggalkan syariat Islam, maka kita masih berkubang dalam kejahiliyyahan.

Bentuk ketiga dari kejahiliyyahan dijelaskan dalam Alquran pada surah Al-Ahzab ayat 33. Allah swt. berfirman: “… dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyyah dahulu.” Ayat ini menjelaskan tentang penampilan, khususnya bagi wanita, dilarang untuk berpenampilan dengan menampakkan aurat dan bertabarruj (berhias) untuk menghimpun perhatian kaum pria. Berhias dan memperlihatkan aurat adalah citarasa jahiliyyah. Semakin minim pakaian seorang perempuan, maka semakin jahiliyyah pula dirinya. Islam telah mengajarkan bagaimana cara berpakaian yang sopan dan syar’i secara detil dan jelas, yakni dengan memakai kerudung dan jilbab.

Yang keempat dan terakhir tentang bentuk kejahiliyyahan yang dibahas oleh Alquran adalah pada surah Al-Fath ayat 26. Allah swt. berfirman: “Ketika orang-orang kafir menanamkan kesombongan di dalam hati mereka, yaitu kesombongan jahiliyyah…” Para ulama menjelaskan bahwa maksud dari kesombongan jahiliyyah di sini adalah fanatisme ‘ashobiyah. Fanatisme terhadap suku, kabilah, kelompok, partai, nasionalisme, dan segala hal yang dijadikan pengikat selain akidah Islam. Ikatan-ikatan parsial dan kontrovesial itu sudah dihapus semuanya, dan digantikan dengan ikatan akidah Islam. Ketika saat ini kita masih saja mengagung-agungkan kesombongan jahiliyyah seperti itu, maka tandanya kita masih berkubang dalam alam jahiliyyah. Semoga kita semua terhindar dari semua itu. Aamiin…[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s