HEKA


oleh Sayf Muhammad Isa
Episode 2-Ankh Dalam Dada

Setelah sekian lama tidak posting di blog saya ini (sampai blog-nya bulukan, hehe), berikut lanjutan dari serial HEKA. Insya Allah serial ini akan memperlihatkan bagaimana Nabi Musa dan Harun menghadapi para penyihir Fir’aun.

000

la-tut-jpg-20150717Kegelapan malam kembali merajai dunia. Memang waktu silih berganti, namun keindahan malam tiada terperi. Hawa dingin menjadi sedemikian pilu ketika setan-setan keluar dari sarangnya dan bergentayangan di muka bumi. Manusia hidup pada dua sisi wajah malam, pada keelokan dan ketenangannya, yang di sana manusia merasakan kebahagiaan, dan pada kesuraman dan kengerian, yang di sana manusia berlindung darinya. Betapa tenang dan nyamannya malam itu menyelubungi bumi Mesir, namun di dalamnya terselip hitam yang mencekam, dan kematian.

Ada seorang lelaki berwajah senang yang amat dihormati di Mesir. Dia seorang pedagang besar yang tinggal di Thebes, namanya Abdamelek Acheri. Perawakannya akan mendeklarasikan kepada siapa saja bahwa dia adalah seorang saudagar besar. Abdamelek berbadan tambun dan gendut. Kepalanya botak, tak ada rambut sehelai pun di sana. Bahkan tak ada alis dan bulu mata sejumput pun pada wajahnya. Kulitnya putih, bagi orang-orang Qibthi dia amat putih. Matanya yang sipit membuat dia terlihat seperti orang Cina dan bukan orang Qibthi. Dia begitu baik kepada keluarganya, hanya saja tak ada yang tahu, malam itu ada dendam yang mengambang di udara hendak merenggut nyawanya.

Sebuah jamuan makan sedang digelar di kediaman Abdemelek yang megah. Ada meja panjang di ruang makan yang sudah penuh dengan hidangan. Berbagai masakan sudah tersedia, dikelilingi oleh seluruh keluarganya. Abdemelek sendiri dengan sumringah duduk di ujung meja, dan setelah beramah-tamah sejenak dengan anak-anaknya yang masih belia, perjamuan makan itu pun dimulailah. Semuanya makan dengan lahap, irisan-irisan dagingnya menggugah selera, dan helaian-helaian sayur-mayurnya membangkitkan rasa lapar.

Semuanya sibuk mengunyah, menyuap, memotong, dan mengiris. Mereka tenggelam dalam hindangan yang enak-enak, sementara ada banyak orang di Mesir yang hampir mati kelaparan. Jurang antara yang kaya dan miskin menganga lebar dan hampir tidak bisa lagi diseberangi.

Abdemelek menyuap daging panggang itu dengan tangan kirinya. Tanpa mengenal adab dan kesopanan, dia makan dengan tangan kirinya. Dia tersenyum saja sedari tadi sambil memandang seluruh anggota keluarganya yang mengelilingi meja, kemudian menyuapkan lagi irisan daging panggang itu ke mulutnya, hingga dia merasa ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya.

Napas Abdemelek seketika terputus, seolah ada bongkahan batu sebesar kepalan tangan yang menyumbat tenggorokannya. Dia ambruk dari kursinya dan terjengkang ke belakang. Tubuhnya menggelepar hebat karena paru-parunya mencari-cari udara. Matanya membelalak lebar dan memperlihatkan dengan jelas pembuluh darah di mata itu terpecah, membuat matanya merah suram. Semua orang terperanjat, geger.

Dengan amat tergesa dan terburu-buru, semua anggota keluar Abdemelek di meja makan itu melompat dan berhamburan ke sekitar Abdemelek yang sedang sekarat. Tubuh tambun itu terus saja menggelepar seperti seekor ayam yang meregang nyawa. Mulutnya menganga lebar sekali, seakan hendak menelan sepuruh kepalanya yang botak. Tak ada orang yang berani menyentuhnya, melihat Abdemelek seperti melihat kematian. Tiba-tiba terjadilah sesuatu yang lebih aneh lagi.

Perut Abdemelek yang sudah buncit terlihat semakin buncit. Perut itu terus mengembang, membesar, dan membesar, seolah ada sesuatu yang hendak mendesak keluar. Semua orang bergidig ngeri. Tiba-tiba perut Abdemelek meletus, dengan memuncratkan darah ke segala arah. Tak ada seorang pun yang menyangka hal itu akan terjadi, hanyalah percikan darah merah yang melumuri wajah-wajah mereka yang penuh tanda tanya suram.

Tubuh Andemelek pun terdiam dan kaku. Perutnya meletus, menyisakan lubang besar menganga yang berwana merah, darah berlumuran di mana-mana, dan semua mata menyaksikan ada paku-paku besi berkarat di perut Abdemelek. Seakan-akan setiap jantung di dalam ruangan itu berhenti berdetak karena ditikam tanda tanya. Semua mata membelalak lebar dan dicekam kengerian. Suara ratap yang muram pun terdengar!

“Heka… Heka…”

“Ini Heka!”

“Abdemelek kena Heka…”

“Heka…!”

Namun sekeras apapun mereka meratap, Abdemelek sudah tidak bisa mendengar.

000

Pada tempat yang jauh, jauh dari Thebes, di sebuah desa bernama Meroe di pedalaman Nubia dan di tepi Sungai Nil, sebuah peristiwa yang hitam terjadi. Malam membelai permukaan Sungai Nil yang agung, yang untuk membuatnya terus mengalir, nyawa dan darah mesti selalu dikorbankan. Terkadang ada pengorbanan hasil panen, kadang hewan ternak, dan bahkan kadang gadis perawan.

Ada sebuah rumah yang tegak di tepi Sungai Nil. Rumah itu amat sederhana dan tenggelam dalam kegelapan malam. Tak ada penerangan sama sekali di bagian luar rumah itu, hanya cahaya bulan yang keperakan. Tetapi dari sela-sela jendelanya terlihat pucuk-pucuk cahaya, yang menandakan ada kehidupan di dalam sana.

Di bagian atap rumah itu ada sebuah cerobong asap sederhana yang dilumuri jelaga. Asap tipis mengepul dari sana, dan segera menyatu dengan keremangan malam. Pada bagian dalam rumah itu hadirlah seorang lelaki bertampang merengut. Dia duduk di atas sebuah dipan sederhana. Dia menatap kobaran api yang meretih-retih, tepat di hadapannya.

Ada dua pintu di rumah itu, pintu belakang yang menghadapi ke Sungai Nil, dan pintu depan. Rumah itu mungil, namun padat dan sesak. Barang-barang yang sebagian besarnya tak masuk akal dan mengerikan memenuhi rumah itu. Seluruh bagian lantainya dilapisi tikar dari jerami, dan bagian rumah itu yang paling melegakan adalah perapian batu di dinding.

Perapian yang hitam itu menebarkan kehangatan pada malam yang dingin. Tepat di hadapan perapian itu ada sebuah dipan yang rapat ke dinding di seberang ruangan. Di sanalah lelaki bertampang merengut itu duduk. Hanya ada satu ruangan di dalam rumah itu, tak ada lagi kamar atau yang semacamnya. Di seluruh dindingnya tertempel rak-rak buku kumal yang dipenuhi buku-buku tebal dan berat. Buku-buku itu disusun dengan sembarangan, sekadar ditumpuk, dan debu-debu tebal sudah menghuni permukaannya entah sejak kapan. Meja-meja dan rak-rak pun berjajar di tepi ruangan, yang di atasnya tersimpan berbagai gerabah dari tanah liat. Semua gerabah kecil itu tidak tertutup dan isinya menyembul keluar. Beberapa di antaranya berisi daun-daun misterius, ada juga benda-benda kenyal yang tak jelas. Tumpukan-tumpukan kulit yang kering pun tersedia di atas meja. Semua bahan yang entah untuk apa itu terletak dengan menakutkan. Sulur-sulur, tali, dan simpul-simpul menjulur dari langit-langit yang sederhana. Ada tulang-tulang yang terikat dan tergantung di situ, ada juga simbol-simbol Heka yang rumit. Sebuah patung Dewa Amun pun hadir tepat di atas perapian.

Suasana hening, lelaki bertampang merengut tetap duduk di tempatnya, hampir tanpa bergerak. Pandangan matanya tertuju kepada gejolak api di perapian. Mengapa tampangnya seburuk itu pastilah karena suatu alasan, dan untuk alasan itulah dia hadir di tempat yang amat tidak menyenangkan itu. Kobaran api dari perapian menari di wajahnya,  makin menambahkan kesuraman pada matanya yang hitam. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.

Sebuah suara daun pintu membuka, ketika lelaki bertampang merengut itu menoleh ke pintu, muncullah seorang lelaki yang tak kalah anehnya. Lelaki itu mengenakan pakaian putih panjang, dan basah kuyup. Tetes-tetes air berhamburan di kakinya yang telanjang, dan matanya yang menyeramkan menatap kepada lelaki bertampang merengut. Rambut lelaki aneh itu panjang hingga ke bahu, basah kuyup, seakan dia baru saja menceburkan dirinya ke Sungai Nil pada malam yang sedingin itu, di waktu-waktu yang tidak masuk akal bagi seseorang untuk mandi di sungai. Atau mungkin dia benar-benar baru saja mandi di Sungai Nil?

“Kalau bukan karena tujuanmu juga amat penting bagiku, pasti aku takkan mau melakukan semua ini,” kata lelaki aneh di ambang pintu. Dia melangkah pelan dengan menggigil ke tengah ruangan. Tangannya terlihat gemetar karena kedinginan, memang tidak masuk akal berendam di Sungai Nil pada waktu-waktu seperti itu. “Air Sungai Nil dingin sekali, tetapi jika tidak membersihkan diri, ritual Heka takkan bisa dijalankan.”

“Terima kasih banyak, Hekau[1], aku akan membayar banyak untuk bantuanmu,” kata lelaki bertampang merengut.

“Ada hal lain yang lebih berharga daripada uang,” sahut sang Hekau.

“Apakah itu? Aku akan memenuhinya.”

“Nyawa,” Mata Hekau mendelik, memantulkan nyala api yang kejam.[]

[1] Hekau adalah bahasa Mesir Kuno untuk Shaman atau penyihir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s