Takut Neraka


Neraka lebih mengerikan dari gambar ini.

Neraka lebih mengerikan dari gambar ini.

Kadar keimanan setiap orang tentunya berbeda-beda. Maksud ‘kadar keimanan berbede-beda’ di sini bukan berarti ada orang yang percaya penuh kepada Allah Swt. dan yang lainnya percaya setengah-setengah saja, bukan begitu maksudnya. Tetapi maksudnya adalah, boleh jadi, semua orang yang mengaku beriman itu meyakini secara penuh bahwa Allah itu Tuhan seru sekalian alam; mereka juga percaya keberadaan para malaikat; kitab-kitabNya; rasul-rasulNya; hari kiamat; dan qadha serta qadar itu datangnya dari Allah Swt., tetapi yang berbeda-beda itu adalah, seberapa besar seseorang sanggup untuk membuat keimanannya tadi berpengaruh dalam setiap aspek kehidupannya! Seberapa besar seseorang sanggup membuat keimanannya kepada hal-hal yang gaib tadi sebagai kendali dalam hidupnya. Pada titik inilah perbedaannya.

Kalau kita berlabuh sejenak pada kisah-kisah para salafus shalih dari generasi terbaik umat ini, kita akan melihat bahwa keimanan mereka kepada hal-hal yang gaib tadi telah sedemikian besarnya, hingga pada titik di mana keimanan itu menciptakan visualisasi di hadapan mereka. Kita mengimani hal-hal gaib yang sama dengan yang diimani oleh para salafus shalih itu, sayangnya, keimanan kita seolah tidak sanggup menggerakkan kita. Keimanan kita seolah tidak menghadirkan visualisasi apa-apa. Mari kita bandingkan!

Para salafus shalih terdahulu, jika ingat pada neraka, mereka bisa tidak tidur semalaman karena ketakutan. Ada juga yang menangis haru ketika tak sengaja mendengar ayat yang berkisah tentang neraka. Yang lainnya bisa jatuh sakit dan bahkan pingsan saat terkenang kepada neraka. Mari kita kutip beberapa kisah dari kitab at-Takhwif minan Nar bi Hal Darul Bawar karya Imam Ibnu Rajab.

Dhamrah meriwayatkan dari Hafsah binti Umar, dia berkata: al Hasan menangis, lantas dia ditanya: “Apa yang membuat anda menangis?” Dia menjawab, “Aku khawatir kalau Allah akan melemparkan aku ke dalam neraka. Dan Dia tidak lagi peduli kepadaku.” Seorang pria yang sudah dinobatkan oleh Rasulullah Saw. sebagai penghulu para pemuda di surga ternyata menangis karena ingat kepada neraka. Subhanallah wabihamdihi.

Ini pula yang terjadi pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ibnu Abu Dzi’b berkata: “Aku diberitahu oleh orang yang telah menyaksikan Umar bin Abdul Aziz, ketika itu ada seorang lelaki yang membacakan ayat di sampingnya: ‘Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan’ (al-Furqan: 13). Umar bin Abdul Aziz menangis tersedu-sedu dengan suara yang keras. Dia akhirnya berdiri dari majelis dan masuk ke dalam rumah serta meninggalkan hadirin.

Kobaran api pun memiliki pengaruh besar pada diri para salafus shalih. Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari Sa’d bin al Akhram yang berkata, “Aku telah berjalan bersama Ibnu Mas’ud (namanya Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah Saw.) melewati orang-orang yang meniup api dengan ubupan (semacam alat peniup api) milik pandai besi. Lantas Ibnu Mas’ud berdiri melihatnya sambil memangis.”

Uwais al Qarni bahkan sampai jatuh pingsan karena melihat kobaran api milik pandai besi. Seorang shalih bernama Atha’ as-Sulami bahkan mendadak pingsan ketika istrinya menyalakan api. Saat mendekatkan kedua tangannya kepada api, Khalifah Umar bin Khaththab berkata kepada dirinya sendiri: “Wahai Ibnul Khaththab, apakah engkau bisa sabar menahan panas api ini?” Padahal Rasulullah Saw. menyampaikan bahwa api neraka jauh lebih panas 70 kali lipat daripada api dunia.

Demikianlah, para salafus shalih berhasil menguatkan iman mereka sehingga mereka berhasil menghadirkan visualisasi yang juga kuat. Hal itulah yang kemudian mendorong mereka untuk gigih beribadah dan meninggalkan segala pantangan yang sudah digariskan oleh Allah dan RasulNya. Sangat berbeda dengan kita! Kita mengimani hal gaib yang sama dengan apa yang mereka imani, tetapi kita seringkali gagal menguatkan iman kita dan gagal pula menguatkan visualisasi atas segala kabar gaib dari Allah dan RasulNya. Mungkin karena itulah sebabnya kita beriman tetapi masih bermaksiat. Mungkin itu pulalah sebabnya, kita telah beriman, tetapi masih senang bermalas-malasan, padahal neraka begitu mengerikan.[sayf]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s