HEKA


Episode 4 – Ankh Dalam Diri
oleh Sayf Muhammad Isa

https://i2.wp.com/cdn.history.com/sites/2/2014/01/sphinx.jpgSeolah hanya malam yang suram yang mengelilingi hidup seorang Menkheperesseneb. Tak ada siang sama sekali, tak ada cahaya, tak ada canda dan bahagia, hanya misteri dan hawa muram. Dia harus selalu tersembunyi dari mata manusia, tetapi tidak di mata setan. Makhluk-makhluk terkutuk itu amat mengenal dirinya dan dia seringkali meminta bantuan kepada setan. Mereka memang sudah bergandengan tangan.

Seorang Menkheperesseneb memang harus begitu, dialah penguasa Heka tertinggi di seluruh negeri Mesir. Dialah orang kedua setelah Fir’aun sendiri. Menkheperesseneb harus selalu menyertai sang raja, dan menopang tiraninya. Separuh kekuasaan seorang Fir’aun bisa saja runtuh, jika tidak ada seorang Menkheperesseneb di sisinya. Dan menghilangnya Menkheperesseneb adalah sebuah guncangan besar bagi Ramesses dan seluruh Mesir.

Nama aslinya Bakhoum Fanoush. Dialah Hekau terhebat yang menjadi kepercayaan Ramesses, dia seorang Menkheperesseneb. Dialah penyihir paling mahir dalam derajat yang paling dimuliakan. Seharusnya dia selalu menyertai Ramesses, dan berdiamnya dia di tepian Sungai Nil yang sunyi, bukanlah tanpa alasan.

Bakhoum adalah seorang lelaki yang gagah. Tubuhnya kekar dalam balutan kulit cokelat khas orang Qibthi. Wajahnya tampan, pada awalnya, tetapi setiap ritual Heka yang dilakukannya sejak sekian lama selalu menuntut pengorbanan. Maka wajahnya yang tampan tinggallah impian, yang tersisa hanyalah mata yang membelalak besar di bawah alis yang tebal. Hidungnya sekadar mencuat dan bengkok dengan bulu hidung yang gondrong, melanggar garis batas di lubang hidungnya. Bibirnya yang besar dan monyong dibingkai garis wajah yang keras berbentuk trapesium. Tak ada sehelai pun kumis atau janggut pada wajah yang amat tidak karuan itu, yang ada hanya bulu hidung, yang kalau tertiup semilir angin dia melambai-lambai.

Sang Hekau berdiri tegang di depan pintu gubugnya. Dia menengadah ke langit malam, sementara tangannya mencekik leher seekor anak kambing hitam kuat-kuat. Saat matanya terbeliak ke arah bintang, cengkeraman tangannya pada leher anak kambing yang malam itu semakin kuat, sementara tangannya yang lain menggenggam moncong anak kambing itu agar tidak mengembik. Bibir Bakhoum mulai bergerak-gerak, merapalkan mantra yang dianggapnya suci, sementara tangannya yang mencengkeram terlihat gemetar saking kuatnya.

Leher anak kambing yang malang itu pun patah, nyawanya telah pupus. Tetapi kemudian Bakhoum mengangkat bangkai anak kambing itu ke wajahnya, lalu dia gigit leher anak kambing itu dengan beringas. Seperti seekor serigala gurun yang sedang mencabik-cabik mangsanya. Darah pun berhamburan di mana, mengucur dari lubang di leher anak kambing itu. Bakhoum pun melangkah mundur, sambil membiarkan darah yang mengucur itu membasahi tanah di sekitar gubugnya. Dia sedang membuat garis darah di sekeliling gubugnya. Ritual itulah yang membuatnya tidak pernah ditemukan selama sepuluh tahun. Asalkan dia berada di dalam lingkaran darah itu, dia akan aman. Hanyalah orang-orang yang diinginkannya saja yang bisa menemuinya. Namun dia tidak akan bisa menghindarkan diri dari datangnya suatu hari yang akan membuatnya terkejut setengah mati.

000

Tak banyak kata yang keluar dari mulut Bakhoum. Seorang Menkheperesseneb memang ditakdirkan hidup di dunia yang sunyi. Dia hampir tidak mengenali bahasa manusia lagi, hanya bahasa setan. Ketika dia masih berada di sisi Ramesses pun dia tidak banyak bicara, tidak pula banyak muncul di tengah orang-orang, dan dia terus hidup di belakang bayang-bayang. Dia hanya muncul ketika diperlukan.

Bakhoum sedang duduk bersila di hadapan perapian dalam gubugnya. Kedua tangannya terletak di atas pahanya, dan pakaian putih panjang itu masih dikenakannya. Dia menatap ke dalam api yang menggelora itu seakan-akan bicara dengannya. Pendar-pendar api menari-nari di bola matanya, menyiratkan kesesatan yang suram. Tiba-tiba dia tersenyum, dan senyum itu penuh dengan rahasia. Apakah ada sesosok setan yang sedang bicara padanya? Tetapi tiba-tiba alisnya yang tebal melengkung dan dahinya berkerut. Sikap itu diikuti gelengan pelan, seolah ada sesuatu yang dikatakan setan itu yang tidak bisa diterimanya.

“Tidak mungkin ada yang bisa mengalahkan aku,” gumamnya pelan. “Siapakah hekau di Mesir ini yang lebih kuat dari aku?”

Keheningan kembali merajalela, yang ada hanya retih-retih di perapian. Tampang Bakhoum makin tidak enak dilihat, raut yang penuh tanda tanya tadi kini telah berubah menjadi air wajah yang kesal dan tidak terima.

Tiba-tiba Bakhoum bangkit dengan gusar dan menjungkirbalikkan meja di dekatnya. Meja itu penuh dengan barang-barang dan benda-benda sihir. Gubug yang sudah berantakan itu kini menjadi makin porak-poranda.

“TIDAK ADA HEKAU YANG LEBIH KUAT DARIKU!!!” Pekik Bakhoum. “TIDAK ADA!!!”

Telunjuk Bakhoum teracung lurus kepada perapian, padahal dia hanya sendirian di dalam gubug itu. Jika tidak ada orang di sana, maka kata-katanya ditujukan kepada setan. Dan setan itu, mungkin saja, hadir di perapian.

“AKAN AKU MUSNAHKAN DIA!” Bakhoum berkacak pinggang. “AKAN AKU BUNUH DIA DENGAN HEKA TERKUAT. AKU TIDAK PEDULI SIAPA PUN DIA!!!”

Meletuplah perapian itu, seolah ada seseorang yang meniupnya. Namun Bakhoum tidak gentar, dia tetapi berdiri gagah di depan perapian. Lagi-lagi dia menuding-nuding kobaran api.

“JANGAN PERNAH KAU HALANGI AKU!!! TUGASMU ADALAH MENDUKUNG AKU SEPENUHNYA! SAMPAIKAN KEPADA ANUBIS BAHWA AKU BERTEKUK LUTUT PADANYA, MEMOHON PERLINDUNGANNYA!”

Kesunyian pun meremang, merayapi permukaan kembali. Bakhoum terdiam, detak kayu bakar yang dimakan api seakan kalimat-kalimat setan. Air wajah Bakhoum makin kecut, tiba-tiba dia membelalak dan suaranya mengguntur memenuhi ruangan itu.

“TIDAKKAH KAU BISA BERHENTI?!!! JANGAN TAHAN AKU LAGI! TIDAK ADA HEKAU YANG LEBIH KUAT DARI AKU!”

Entah apa yang sebenarnya terjadi antara Bakhoum dan perapian itu, tetapi tiba-tiba sebuah senyum terkembang dari bibirnya yang hitam dan keras, dan terdengar pintu gubug itu digedor dari luar. Bakhoum menoleh ke arah pintu dan menghampirinya. Tangannya terarah kepada gagang pintu dan dibukanya.

Tepat di ambang pintu ada sekelompok prajurit berkuda yang menatap tajam kepada Bakhoum. Ahli heka itu berdiri gagah di hadapan mereka seolah mengetahui siapa mereka semua. Turunlah salah seorang dari mereka dari kudanya dan menghadap Bakhoum.

“Akhirnya kami berhasil menemukan Anda, Yang Mulia Menkheperesseneb,”

“Bagaimana kabarmu, Haman?” Tanya Bakhoum.

“Kami berjuang mati-matian untuk menemukan Anda, dan kami bersusah-payah melakukannya. Leher kami taruhannya jika tidak menemukan Anda.” Haman berlutut di hadapan Bakhoum dan semua prajurit turun dari kudanya, kemudian melakukan hal yang sama.

“Ada orang yang datang mengacau di Thebes?” Kata Bakhoum.

“Benar, Yang Mulia,” sahut Haman.

“Namanya Musa.”

“Benar, Yang Mulia.” Rasa kagum kembali bersemi di dalam hati Haman. Dia belum sama sekali menyampaikan apa tujuan kedatangan mereka, tetapi Bakhoum sudah tahu. Menkheperesseneb memang luar biasa.

“Aku cukup penasaran, kalian bisa menemukan aku, tetapi kalian tidak perlu mengatakannya kepadaku,” Bakhoum mengangkat tangan kirinya, dan semua orang menyaksikan apa yang dia lakukan.

Tangan kanan Bakhoum pun terangkat, diarahkannya ke dadanya dan ditekannya di sana. Mendadak pecah suara jeritan yang muram dari tengah-tengah prajurit Mesir itu. Semuanya terlonjak kaget. Suara jerit itu kemudian silih berganti dengan suara muntah yang mengerikan, seakan seisi perut keluar dari kerongkongan. Keluarlah seseorang yang melangkah tergopoh-gopoh dan membungkuk sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Di depan barisan prajurit, orang itu ambruk dengan memuntahkan darah. Bukan cuma darah, tetapi juga berbagai hal menjijikkan lainnya, isi perutnya, berikut cacing-cacing dan belatung. Dan orang itu tak asing lagi.

“Yang… Mulia… aaaahhkkk!”

“Aku percaya padamu, Ramzi, tapi kau mengkhianatiku. Inilah ganjaran untukmu.”

Haman terbelalak melihat apa yang terjadi pada Ramzi Yassa. “Dialah orang yang memberitahu keberadaan Anda!”

“Aku tahu!” Sahut Bakhoum sambil mendelik kepada Haman.

Dan jawaban pendek itu menancapkan kengerian di hati Haman, bahwa lelaki di hadapannya adalah Hekau terbesar yang pernah dimiliki Mesir. Pastilah Musa takkan kuat melawan Hekau terhebat ini!

Tetapi bahkan setan pun tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Takkan ada yang menyangka, keputusan apa yang akan diambil oleh Hekau terbesar itu.[]

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s