Tilawah Abdullah bin Mas’ud


Amal terbaik, yang nantinya akan diterima Allah Subhanahu wata’ala, tentunya harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Sebab apapun yang ditunjukkan oleh Rasulullah, pada hakikatnya adalah apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala. Mana yang baik menurut pandangan Allah, adalah apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Cukup sederhana, sebenarnya.

Banyak orang yang mengira telah melakukan perbuatan baik, padahal Allah belum tentu memandangnya baik pula. Semuanya mesti dikembalikan pada apa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam kepada kita. Apa yang terjadi pada Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu akan menjadi contoh menarik tentang hal ini.

Kita semua pasti mengetahui kalimah Isti’adzah, yakni a’udzubillahi minasyaithanirrajim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Kalimat ini harus dibaca ketika kita hendak membaca Quran. Pada sebuah kesempatan, Abdullah bin Mas’ud membaca Quran di hadapan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Untuk memulai, tentu saja, Abdullah bin Mas’ud membaca Kalimah Isti’adzah. Namun kalimah Isti’adzah Abdullah bin Mas’ud berbeda dengan kalimat yang kita kenal sekarang. Beliau membaca seperti ini: a’udzubillahisami’il ‘alimi minasy syaithonirrajim (aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk).

Sekilas mungkin kita akan terpesona dengan kalimah Isti’adzah Abdullah bin Mas’ud. Dalam kalimat itu, ia menyanjung Allah sebagai yang Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar. Tetapi ternyata Rasulullah meluruskan bacaan itu.

Rasulullah bersabda: “Wahai Ibnu Ummu ‘Abd, ucapkanlah a’udzubillahi minasyaithonirrajim, karena demikianlah Jibril membacakannya kepadaku dari Qalam dari Lauh Mahfudz.”

Maka Abdullah bin Mas’ud segera memperbaharui bacaannya, seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Dan seperti itulah kita mengenal kalimah Isti’adzah sebagaimana adanya sekarang.

Kita bisa saja mengira sudah melakukan hal baik, padahal belum tentu Allah memandang hal yang sama. Di sanalah pentingnya, kita selalu merujukkan perbuatan kita kepada apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam (syariat Islam). Itulah satu-satunya acara untuk mengetahui, apakah perbuatan yang kita lakukan disukai Allah ataukah tidak.

(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Zamaskhsyari, Imam Ibnu Hajar, dll. Hingga ke sahabat Abdullah bin Mas’ud).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s