HEKA

Episode 6 – Ankh Dalam Heka
Sayf Muhammad Isa

“Dia utusan!”

Seolah dilahirkan oleh malam, sosok hitam itu berdiri di hadapan semua orang dengan pongah. Tak ada siapa pun yang mengenalnya, kecuali Menkheperesseneb. Rasa heran bersemayam di dalam hati, namun mulut tetap terkunci ketika peristiwa yang mistis itu terjadi: Bakhoum berhadapan dengan sosok bertudung dan berjubah hitam itu, yang kehadirannya samar-samar di tengah kegelapan malam. Dan seolah sudah saling mengenal, mereka membicarakan sesuatu yang tiada dimengerti seorang pun.

Bakhoum mengernyitkan alisnya yang tebal, yang hampir bersambung di atas hidungnya. Hal terakhir yang disampaikan si Hitam itu tidak dia mengerti.

“Utusan? Utusan siapa?”

“Utusan dari Dia yang memiliki kekuatan amat besar, dan kau takkan sanggup menandinginya.”

Bakhoum terkekeh. “Kita tidak akan tahu kalau belum dicoba.”

“Jangan main-main dengan Musa. Kalau kau menghadapinya, maka kehancuran bukan hanya milikmu, tetapi juga aku, dan kita semua.”

“Menyingkirlah!” Tatapan tajam Bakhoum seolah menembus jubah hitam itu.

“Aku berlepas diri darimu, Menkheperesseneb!”

Mundurlah si Hitam, selangkah demi selangkah, semua orang memerhatikan gerakannya. Tak lama kemudian kegelapan malam mengelilinginya lalu dia tak kelihatan lagi. Bakhoum berbalik perlahan menuju kudanya, mendaki pelana dan duduk di atas punggung kuda. Dia menoleh kepada Haman yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Kita akan berbelok sebentar di Hierakonpolis,” kata Bakhoum.

“Untuk apa, Yang Mulia,” sahut Haman agak gugup. “Kita harus segera tiba di Thebes sebelum Hari Raya Sed. Singgah di Hierakonpolis akan menunda kita cukup lama.”

“Aku harus menjemput seseorang, dan hal ini pun berhubungan erat dengan kemenangan kita melawan Musa. Jika kita mempercepat langkah kita, maka kita tidak akan terlambat! Aku yakin itu.”

Haman tak bisa bicara apa-apa lagi jika Menkheperesseneb sudah memutuskan sesuatu. Dia menoleh ke belakang, kepada seluruh pasukannya yang menunggu dengan jantung berdegup kencang setelah terjadinya peristiwa misterius tadi. Diayunkannya tangan kanannya untuk memerintahkan mereka segera bergerak. Rombongan pun melanjutkan perjalanan, walau malam semakin kelam.

“Mohon ampun, Yang Mulia, siapakah orang berpakaian hitam tadi?” Dengan berat, akhirnya Haman bertanya juga.

Pandangan Bakhoum tetap terarah ke depan, sementara tubuhnya naik-turun seiring gerakan hewan tunggangannya.

“Putra Anubis,” sahutnya pendek.

000

“Mohon ampun, Yang Mulia, apakah tujuan kita sebenarnya ke Hierakonpolis?” Haman terlihat segan dan gugup setiap kali mengajukan pertanyaan kepada Bakhoum. Seakan dia takut bahwa pertanyaan itu akan menyinggung sang Menkheperesseneb, dan kalau hal itu sudah terjadi, dikutuklah dia menjadi kodok atau kutu.

“Kita akan menemui seseorang,” kata Bakhoum, seperti biasa, tatapan matanya tetap lurus ke depan, sementara kedua tangannya menggenggam tali kekang kuda. Dia memang benar-benar jarang bicara. Jika tidak ada yang bertanya lebih dulu, maka dia tidak akan bicara seharian. Memang menyebalkan sekali dekat-dekat dengan orang seperti ini.

Tetapi itulah yang dirasakan Haman. Mau tak mau, dia harus selalu menyertai di sekitar Bakhoum, dan sikap Bakhoum yang kaku dan diam benar-benar menyiksanya. Di sisi lain, dia harus benar-benar hati-hati jika hendak mengajukan pertanyaan.

“Siapakah orang yang hendak kita temui ini, Yang Mulia?” Tanya Haman lagi.

Bakhoum tak langsung menjawabnya, tatapannya tetap lurus ke depan dan matanya tidak berkedip. Haman melirik ke wajah Bakhoum, dan berbagai dugaan berseliweran di hatinya. Dia merasa bahwa sang Menkheperesseneb sedang berada dalam keadaan trans karena tubuhnya diam dan kaku.

“Yang Mulia…!” Panggil Haman. “Yang Mulia!”

Tiba-tiba Bakhoum menoleh kepada Haman. “Kita akan ke tempat Tuthre Hasse.”

“Siapakah dia, Yang Mulia?” Rasa ingin tahu di hati Haman memang besar.

“Dia Menkheperesseneb sebelum aku.”

Ada rasa terkejut yang sunyi di hati Haman saat mendapati kata-kata Bakhoum barusan. Di dunia ini hanya boleh ada satu orang saja Menkheperesseneb, tidak boleh ada dua orang. Setiap Menkheperesseneb mesti mengangkat seorang murid dan harus benar-benar mengajarinya Heka, untuk pada akhirnya mereka berdua akan mengadu kemampuan Heka dan si murid harus mengalahkan gurunya. Dan taruhannya adalah nyawa.

“Berarti Menkheperesseneb yang sebelumnya belum mati, Yang Mulia?”

“Aku mengasihaninya,” sahut Bakhoum. “Aku tahu dia berjasa besar dalam hidupku, dan kemampuannya cukup hebat, dan aku tahu suatu saat dia pasti ada gunanya. Seperti sekarang ini!”

“Berarti kita menemuinya untuk memintanya bertempur bersama melawan Musa?”

“Itulah rencananya.”

“Apakah Musa sehebat itu, hingga harus dihadapi oleh dua orang Menkheperesseneb?”

“Sudah kubilang ini untuk jaga-jaga. Lebih baik kita benar-benar mempersiapkan diri daripada bertemu dengan kehancuran kita.”

“Itu jugalah yang dikatakan oleh orang berbaju hitam malam lalu,” ada serat ketakutan di dalam suara Haman. “Dia memperingatkan kita akan bahaya Musa.”

“Tidak ada Hekau yang lebih kuat dari aku di negeri Mesir ini,” mendeliklah Bakhoum kepada Haman. “Jangan kau ragukan itu! Orang-orang yang ragu akan mendapatkan ganjarannya.”

“Ampuni aku, Yang Mulia!” Haman menunduk ketakutan.

000

Malam kembali meremang ketika rombongan prajurit Mesir itu berada di hadapan sebuah gubug di Hierakonpolis. Seluruh prajurit mengepung gubug itu, sementara Haman dan Bakhoum berdiri tegak di depan pintunya yang sederhana. Pintu-pintu perlahan-lahan membuka dan menyembullah kepala seorang lelaki tua dari sela-selanya.

Lelaki tua itu melangkah keluar dan berdiri dengan gagah, walaupun bungkuk, di hadapan para pria yang tegap itu. Kepalanya botak dan keriput, dan keriput di wajahnya tak kalah dalamnya. Alis, kumis, dan janggutnya sudah memutih semua, dan dia terlihat ringkih sekali. Namun raut wajahnya sangat angkuh, seolah menyatakan kepada semua agar jangan sembarangan terhadapnya.

“Kalian semua jangan mengasihani orang tua ini,” kata Bakhoum tiba-tiba sambil menatap tajam ke arah lelaki tua itu. “Dia tidak selemah kelihatannya. Dia adalah ular berbisa yang licik dan penuh muslihat. Sudah banyak orang yang mati di bawah mantranya.”

“Apa yang kau inginkan, Bakhoum?” Lelaki tua itu akhirnya buka suara.

“Tentu saja aku datang untuk sesuatu yang amat kau sukai, Tuthre,” sahut Bakhoum.

“Kau sendiri tahu, aku sudah pensiun,” Tuthre menggeleng pelan.

“Selama dia masih hidup, tak ada kata pensiun bagi Menkheperesseneb.”

“Aku tidak pernah lagi melakukan Heka.”

“Jangan berdusta padaku.”

Hubungan guru dan murid itu sepertinya tidak akur. Haman bergantian menatap Bakhoum dan Tuthre yang saling melemparkan perkataan. Para prajurit tetap siaga di sekeliling mereka.

“Kau harus ikut aku ke Thebes,” kata Bakhoum dengan angkuh. “Karena kita harus menghadapi seorang Hekau bernama Musa.”

“Apa yang disampaikan putra Anubis padamu?” Seru Tuthre.

“Dia memberiku peringatan.”

“Apa yang dia katakan?” Ulang Tuthre.

“Dia memperingatkan aku tentang Musa.”

“Apa yang dia bilang tentang Musa?”

“Musa bukanlah Hekau, tetapi utusan.”

“Kalau putra Anubis berkata begitu, seharusnya jangan kauabaikan.”

Bakhoum menggeleng pelan. “Pembicaraan ini harus dihentikan. Kau harus ikut denganku, dan kita akan beradu ilmu Heka dengan Musa.”

“Kau dengar sendiri bahwa dia bukan Hekau. Dia adalah utusan.”

“Aku tidak peduli. Yang kutahu, dia memakai Heka ular dan cahaya.”

Tuthre tua terkekeh, dan seolah seluruh tubuhnya yang ringkih akan runtuh karena kekehnya itu. “Ternyata ilmumu memang belum ada apa-apanya, Bakhoum. Ternyata kau belum paham apa yang disampaikan putra Anubis.”

“Aku tidak butuh hal itu! Yang kutahu, kau harus ikut denganku ke Thebes dan kita akan melawan Musa.”

Tuhre terkekeh lagi. “Percayalah, aku akan ikut denganmu. Tetapi dengarlah kata-kataku, sebagaimana kau mendengarkannya dulu saat masih berguru kepadaku.”

Kesunyian yang menyusul kemudian membuat semua orang menunggu. Bahkan Bakhoum pun menatap tajam kepada Hekau tua itu dan memerhatikan.

“Ketahuilah ini, jika memang orang yang kausebut itu adalah utusan, maka tidak ada hekau yang bisa mengalahkan utusan. Aku memang belum pernah bertemu dengan seorang utusan, tetapi cukuplah aku percaya apa yang pernah dikatakan putra Anubis. Dia pernah berkata hal yang sama padaku, sekali.”

Kalimat terakhir Tuthre mengingatkan Bakhoum pada cerita Haman. Pada malam yang lalu, Haman berkata bahwa Musa melakukan segalanya itu tanpa merapalkan mantra sedikit pun. Bibirnya tidak terlihat komat-kamit, padahal semua Heka haruslah merapalkan mantra. Tuthre melanjutkan.

“Kau selalu tidak sudi mempelajari sejarah, Bakhoum. Kau malas belajar sejarah. Padahal untuk menjadi Hekau terkuat haruslah menggandeng sejarah. Sejarah amat penting agar kau bisa menggunakan Heka dengan tepat, agar kautahu siapa musuhmu dan tahu bagaimana cara mengalahkannya. Tetapi kau malas belajar sejarah, sehingga kau tak tahu apa-apa tentang para utusan. Kau takkan pernah bisa mengukur seberapa dalam kekuatan para utusan, sebab mereka bukanlah Hekau. Keberadaan para utusan memang tidak banyak disebut di dalam kitab-kitab Heka, tetapi mereka ada. Dan kita tidak boleh mengabaikannya. Aku bersedia ikut denganmu, lebih karena rasa penasaranku tentang seperti apakah seorang utusan itu. Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Bawalah aku!”

“Kau akan melihatnya, orang tua, siapakah yang terkuat, aku ataukah Musa!” Bakhoum menatap tajam Menkheperesseneb tua itu.