HEKA


Episode 7 – Ankh Yang Retak
Sayf Muhammad Isa

Belum pernah terjadi, Thebes didatangi oleh para Hekau sebanyak itu. Alis Bakhoum mengernyit saat menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Dia dan rombongannya tiba juga di Thebes, ibukota negeri Mesir, tepat tiga hari sebelum Hari Raya Sed. Dia terpana dengan para Hekau yang berkeliaran di jalan-jalan. Ada yang membawa ular berbisa; ada yang mengalungkan daun telinga di lehernya; ada juga yang berkulit hitam legam tetapi bersarung sutra putih; Ada juga yang lehernya panjang dan kurus, tetapi leher ringkih itu digelantungi banyak sekali kalung manik-manik. Bermacam ragam penampilan para Hekau itu.

Setiap Hekau yang melihat rombongan Bakhoum melintas, maka mereka akan berlutut dengan penuh pemujaan. Mereka paham seberapa mulianya derajat Hekau yang ada di hadapan mereka, walaupun hampir semuanya belum pernah melihat Bakhoum sebelumnya. Entah bagaimana caranya, seorang Menkheperesseneb pasti akan langsung dikenali seorang Hekau, walau mereka belum pernah bertemu. Maka, pada hari itu, jalan-jalan di Thebes dipenuhi oleh para Hekau dari penjuru Mesir, dan di jalan-jalan yang dilintasi oleh rombongan Bakhoum, para ahli sihir itu berlutut di pinggir-pinggir jalan.

Haman terheran saat memerhatikan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Sedari tadi tatapan matanya menyapu orang-orang yang sedang bersujud di tepian jalan itu. Sesekali dia melirik kepada Bakhoum yang tetap gagah dan menatap lurus ke depan, seolah orang-orang yang bersujud itu tak ada saja. Kenyataan ini lagi-lagi mendorong Haman untuk melemparkan pertanyaan yang sebenarnya masih banyak bersemayam di batinnya.

“Yang Mulia, ada beberapa hal yang hendak aku tanyakan.”

Bakhoum hanya mengangguk sambil tetap menatap ke depan.

“Jika Yang Mulia berkenan menceritakan, apakah alasan Yang Mulia pergi dari Thebes sepuluh tahun yang lalu?”

Tentu saja Bakhoum tidak langsung menjawab. Dia tetap membatu dengan tatapan kosong ke depan. Haman menjadi ragu, apakah tadi Bakhoum mendengar kata-katanya? Tetapi Haman tetap diam. Dia tidak mengulangi pertanyaannya. Jika dia mendapatkan jawaban, maka mujur baginya. Jika dia tidak mendapat jawaban apa-apa, tidak ada ruginya.

Satu hal yang cukup sering disaksikan Haman adalah Bakhoum yang selalu diam, seolah membeku. Kejadian itu berulang berkali-kali, hingga Haman menyadari bahwa sikap itu sudah menjadi bagian dari diri sang Menkheperesseneb. Banyak bergaul dengan setan tentunya akan mempengaruhi kondisi jiwa dan raga, itulan konsekuensi yang harus diterima seluruh Hekau.

Perlahan kembali Bakhoum menoleh kepada Haman yang berkuda di sisinya. Dia selalu begitu ketika dia hendak bicara kepada Haman. “Aku dan Ramesses berbeda pendapat.”

“Maaf, Yang Mulia, berbeda pendapat?” Alis Haman mengernyit.

Bakhoum mengangguk pelan. “Kami berbeda pendapat dan aku tidak bisa menerimanya.”

“Kalau boleh tahu, berbeda pendapat tentang apa, Yang Mulia?”

“Ramesses tidak mau mendengar kata-kataku tentang Asiyah.”

Haman tertunduk sambil membelalak. Dia tidak tahu sama sekali tentang apa alasan perginya Menkheperesseneb sepuluh tahun yang lalu. Bahkan semua orang pun tidak tahu, sebab tiba-tiba saja peristiwa itu terjadi dan alasannya hanya diketahui Ramesses. Dan sekarang, dia akan mendapatkan sebuah kehormatan besar untuk menjadi orang pertama, dari semua orang di Mesir, yang akan mengetahui alasan sebenarnya tentang menghilangnya Menkheperesseneb. Bakhoum melanjutkan.

“Berkali-kali sudah aku katakan padanya, Asiyah akan jadi bencana pada pemerintahan dan kekuasaannya. Tapi Ramesses tidak mau mendengar. Dia tergila-gila pada Asiyah, padahal putra Anubis berbisik bahwa Asiyah akan menyemaikan kekacauan.”

“Dan ramalan itu benar-benar terjadi, Yang Mulia,” kata Haman sambil menerawang. “Asiyahlah yang menemukan bayi itu di dalam sebuah peti di Sungai Nil, dan Asiyah pulalah yang membujuk Yang Mulia Fir’aun untuk memelihara bayi itu karena sudah sedemikian lama mereka tidak dikaruniai anak. Bayi itu pun tumbuh besar, dan sekarang dia datang hendak mengacaukan segalanya. Dialah Musa.”

“Sekarang aku yang diperintahkan untuk membereskan semua kekacauan ini?! Dari dulu Ramesses memang begitu, selalu aku yang tertimpa masalah karena dia.”

Naik-turun pelan tubuh Bakhoum dibuaikan angin pagi. Punggung kuda yang kokoh menopangnya di atas pelana, jajaran orang-orang yang bersujud kepada Bakhoum masih sangat panjang.

“Aku pun memberi peringatan kepada Ramesses tentang bayi itu,” kata Bakhoum. “Tetapi, lagi-lagi, dia tidak mau mendengarnya. Dia seperti binatang ternak yang sedang dibawa ke tukang jagal, dan Asiyah yang menuntunnya kepada kematiannya. Lalu apa gunanya kehadiranku kalau kata-kataku tidak didengar?”

Haman mengangguk pelan dan mengembuskan napas perlahan. Dia merasakan keprihatinan yang dalam. Orang-orang masih saja berjajar dalam sujud kepada Menkheperesseneb.

 

000

 

Istana Fir’aun di Thebes terang-benderang. Ratusan lilin dan obor mengusir kegelapan di sana dan menguarkan keagungan. Dinding-dindingnya yang kokoh dengan emas dan pualam menyempurnakan kemegahan seorang Fir’aun, Ramesses. Dia duduk di tas singgasananya yang mentereng di ruang singgasana luas. Pada sisi kanan dan kiri singgasana itu ada budak-budak yang memegang kipas-kipas besar, mengembuskan hawa sejuk kepada Ramesses. Kipas-kipas itu bergagang panjang, terbuat dari bulu-bulu burung merak.

Ramesses bertopang dagu pada lengan kursi singgasana. Memang benar bahwa dia bisa duduk dengan nyaman di sana, tetapi kenyamanan kursi singgasana itu tidak bisa menyamankan hatinya yang bergemuruh. Seluruh bagian kursi singgasana itu terbuat dari emas. Besar dan megah, yang dipercantik dengan kristal-kristal dan batu berlian. Bunga-bunga yang indah menghias setiap sisinya, dan bunga-bunga itu diganti setiap hari oleh para pelayan istana. Tetapi, sekali lagi, kemewahan itu tidak bisa menyelamatkannya dari segala kekhawatiran.

Ramesses tetap bertopang dagu dalam diam. Matanya menatap kosong ke kejauhan, kepada sesuatu yang tidak kelihatan, masa depan. Dia bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi setelah malam pertaruhannya dengan Musa? Dialah yang menantang Musa untuk beradu ilmu Heka, dan dia tidak bisa lari darinya. Dia mengetahui bahwa ibukotanya telah dipenuhi oleh para Hekau, tetapi tetap saja hatinya waswas. Sebuah kesadaran hinggap dalam hatinya bahwa Musa bukanlah orang sembarangan. Dalam diam itu pulalah Ramesses memperhitungkan berbagai kemungkinan.

Kalau ribuan penyihir yang dipanggilnya ke Thebes itu bisa mengalahkan Musa, berarti tak ada masalah. Ramesses tidak pernah peduli bagaimana caranya memenangkan sesuatu, apakah adil atau tidak adil, dia tidak pernah pertimbangkan hal itu. Yang penting dia menang. Yang jadi masalah adalah, bagaimana jadinya kalau ternyata dia kalah? Sudah pasti kemuliaannya akan hancur, dan kekalahan itu akan membuat semua orang melihat bahwa kekuatan dan kekuasaannya tak ada apa-apanya, sebab Musa seorang diri saja sanggup mengalahkannya. Dan kenyataan bahwa dia akan kalah itulah yang membuatnya duduk dalam gundah di singgasananya yang mentereng.

Tiba-tiba lamunan Ramesses terpecah karena seorang prajurit datang menghadap sambil bersujud kepadanya.

“Yang Mulia, rombongan Haman telah datang, dan Menkheperesseneb ada bersamanya.”

“Kalau begitu cepatlah bawa mereka menghadapku.”[]

bersambung

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s