HEKA


Episode 8 – Ankh Dalam Mantra
Sayf Muhammad Isa

Mata Ramesses menatap kosong kepada wajah yang kelam itu, wajah Bakhoum Fanoush. Selama beberapa detik mereka hanya saling menatap dan diam. Segala kenangan pahit di masa lalu seolah berputar di bola mata mereka, dan tidak menyisakan apa-apa melainkan kebencian. Tetapi malam itu adalah malam yang baru, telah muncul musuh bersama yang sangat kuat, dan kenyataan itu membuat mereka, mau tidak mau, bersatu kembali. Segala dendam dan kebencian di dalam hati mereka mesti disingkirkan, dan dengan harmonis, mereka mesti melangkah seiring sejalan. Jika hal itu tidak terjadi, maka pastilah Musa akan menang, dan itu artinya keruntuhan bagi kekuasaan seorang Fir’aun. Ramesses ngeri sekali membayangkan hal itu.

Ramesses pun melangkah pelan dengan tetap memandang pada wajah Menkheperesseneb. Dengan ringan dia memeluk tubuh Bakhoum, erat, tetapi Bakhoum tetap diam seolah membatu. Seolah dirinya hanyalah wadah yang kosong dan tidak bernyawa.

Haman melirik kepada Bakhoum dan dia merasa tidak aneh lagi dengan keadaan itu. sepanjang jalan dia menyaksikan fenomena itu terjadi pada diri sang Menkheperesseneb.

“Kau banyak berubah, Bakhoum,” kata Ramesses sambil menangkup wajah Bakhoum dengan kedua belah tangannya. “Tampangmu semakin jelek saja.”

Mendapatkan perkataan seperti itu, seolah kesadaran Bakhoum kembali. Dia mengedikkan matanya dan balas menatap tajam kepada Ramesses. Namun bibirnya tetaplah terkatup rapat.

“Aku tidak tahu apa saja yang telah kau lakukan selama sepuluh tahun ini,” lanjut Ramesses. “Tetapi sepertinya segalanya itu sangat berbekas pada wajahmu.”

Haman yang berdiri khidmat bersama para pembesar istana merasakan gemuruh di perutnya. Dia menahan tawa, karena dia paham bahwa kata-kata Ramesses adalah ejekan terselubung bagi Bakhoum. Dan Haman susah-payah melakukannya.

Ramesses belum akan berhenti, “Dulu kau tampan sekali, sampai-sampai aku khawatir kalah tampan darimu. Tetapi lihatlah sekarang, kenapa wajahmu jadi berbentuk trapesium seperti ini?”

“Apakah malam ini kita hanya akan membicarakan wajahku, atau musuh kita?” Jelas saja Bakhoum sewot. “Jika kedatanganku kemari hanya untuk dikatai, lebih baik aku pergi saja!”

“Janganlah begitu, Saudaraku, kau adalah penyelamatku. Kedatanganmu membawa keselamatan besar untukku dan seluruh negeri Mesir. Marilah, kau pasti lelah setelah perjalanan yang panjang.”

Tangan kanan Ramesses merangkul bahu Bakhoum. Tinggi badan mereka hampir sama, dan pembicaraan malam itu akan menjadi sebuah pembicaraan penting. Ramesses membawa Bakhoum ke ruangan di sebelah ruang singgasana, yang ternyata adalah ruang makan. Sebuah meja panjang telah terhampar di dalamnya, dan di atas meja itu segala macam makanan terhidang. Sungguh rapi dan anggun sekali penataannya dan aroma lezat memenuhi seluruh ruangan.

Ramesses mengambil tempatnya pada kursi di ujung meja, tak lupa dia mempersilakan Bakhoum duduk di kursi yang terdekat dengannya. Para pejabat istana, termasuk Haman, mengikuti, dan duduk pada kursi di sepanjang meja makan itu. digelarlah sebuah jamuan makan malam yang megah untuk menyambut hadirnya kembali sang Menkheperesseneb.

Semua orang makan dengan lahap, dan Ramesses adalah yang paling rakus. Piring dan gelasnya yang paling besar, dan hampir seluruh jenis makanan yang terhidang di atas meja, ada pada piringnya. Ramesses makan dengan kedua belah tangannya, kanan dan kiri, seperti orang kesetanan. Remah-remah makanan menempel di hidung dan mulutnya persis seperti anak kecil. Dan ketika semua orang di dalam ruangan itu menyantap hidangan, ada satu orang yang tetap diam, tidak tertarik sedikit pun dengan hidangan yang lezat-lezat itu, orang itu adalah Bakhoum.

“Aku tahu, kau tidak akan menyentuh hidangan ini, Bakhoum,” kata Ramesses dengan terengah-engah. Makan sambil bicara memang menyusahkan. “Tapi aku sengaja membawamu ke dalam perjamuan agung ini untuk melihat wajahmu yang ngiler menatap makanan. Aku tahu kau sangat ingin mencicipi makanan yang enak-enak ini, tetapi ilmu Heka melarangmu! Kau hanya dibolehkan memakan hal-hal yang aneh: bola mata kodok, telur telur ayam setengah jadi, usus kadal, dan limpa bayi. Kau tidak boleh lagi memakan makanan orang normal.”

Bakhoum tetap diam, kembali terpaku seolah jiwanya hilang. Cerocosan Ramesses pun makin tak terbendung. Dia meledak Bakhoum seakan tanpa penghalang. Ancaman Bakhoum yang akan pergi lagi meninggalkannya kalau dia terus meledek seperti itu tidak diacuhkan. Jamuan makan yang gegap gempita itu pun berakhir. Semua pesta pasti berakhir.

000

Pandangan mata Ramesses yang tajam menatap ke kejauhan, kepada kegelapan malam. Di sisinya berdirilah Bakhoum Fanoush sang Menkheperesseneb. Kelap-kelip cahaya pelita di rumah-rumah orang Mesir menari-nari di kejauhan. Kelap-kelip itu tersebar di mana-mana, seolah kunang-kunang yang berusaha mengusir gelap. Ramesses melipat tangannya di depan dada, sementara kesombongan kembali merajai hatinya. Segala hal yang terjadi di bumi Mesir tidak ada yang berakibat baik baginya, semua hanya menambah kesombongannya. Dia merasa bahwa semua kesejahteraan dan keagungan itu di bawah kendali dirinya. Sungai Nil yang panjang itu mengalir di bawah telapak kakinya, dan hal itu seakan makin mengesahkan kekuasaannya.

Dari tempat peristirahatan di istana Fir’aun yang tinggi, Ramesses dan Bakhoum berdiri bersisian. Cahaya malam yang redup membuaikan angan kepada kebesaran. Saat itulah, sang Fir’aun melakukan sesuatu yang hampir tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya, meminta maaf.

“Aku mohon maaf, dan aku ucapkan terima kasih kepadamu, Bakhoum,” katanya. “Aku takut sekali, karena muncul orang seperti Musa.”

Bakhoum tetap diam dan berkedip sekali. Lalu dia menoleh pada Ramesses. “Semua ini salahmu sendiri. Kau tidak mau mendengar kata-kataku. Sejak dulu sudah aku sampaikan peringatan kepadamu bahwa Asiyah akan membawa bencana, tetapi kau tetap juga menikah dengan dia. Ketika Musa dipungutnya dari sungai, aku juga memberitahu padamu bahwa dia akan memelihara bencana. Tetapi kau tetap tidak mau mendengar. Maka sekarang kau harus merasakan semua akibatnya. Kalau saja kau mau mendengar kata-kataku, apa yang kau alami sekarang ini tidak akan pernah kau alami.”

“Jangan marahi aku,” gumam Ramesses lalu mengembuskan napas kecewa. “Aku mengakui semua kesalahanku, dan sekarang aku meminta bantuanmu untuk menyingkirkan Musa dan membuatnya malu di depan semua orang.”

“Bukan cuma itu, aku akan membunuhnya.”

“Jangan dulu, Bakhoum,” Ramesses membelalak kepada Bakhoum. “Permalukan dulu dia, iris-iris tubuhnya, dan kuliti dia dengan Heka. Kematian terlalu mudah baginya.”

Bakhoum mengangguk pelan. “Kalau itu yang kaumau.”

Kesunyian malam yang menggantikan semua kata ketika mereka berdua terdiam. Ramesses masih melipat kedua belah tangannya di tepian tempat peristirahatan istana. Di tempat yang tinggi itu mereka menikmati cakrawala yang luas. Bakhoum kemudian memecah keheningan untuk mengungkapkan keresahan yang mengganggu batinnya.

“Seperti apa Musa sekarang?” Tanyanya.

“Dia seorang pemuda yang tegap. Kuakui, aku terpaku dan terbelalak saat dia datang padaku sebulan yang lalu. Dia memperlihatkan padaku sesuatu yang luar biasa.”

“Luar biasa?” Bakhoum mengungkapkan rasa penasarannya dengan datar.

“Ya, luar biasa!”

“Ceritakanlah! Untuk mengalahkan musuh kita, tentunya kita harus mengenalinya.”

Ramesses membelai janggutnya yang dikepang. “Heka yang dipakainya luar biasa. Aku sedikit tahu tentang Heka, tapi kurasa, yang dipakainya bukanlah Heka.”

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s