HEKA


Episode 9 – Ankh Dalam Raga
Sayf Muhammad Isa

Desir angin menyapu balok-balok tebal piramida Mesir yang kokoh dan angkuh. Bangunan itu menikmati balutan selendang mistis yang halus, tetapi kuat. Harta-harta para Firaun bertumpuk-tumpuk di dalamnya, seakan mengabarkan kepada dunia bahwa merekalah penguasa bumi dan langit. Persangkaan membubung tinggi, seakan harta-harta itu akan mensejahterakan mereka di negeri akhirat. Dan persangkaan akan tetap jadi persangkaan, selama tidak ada kabar dari langit yang membenarkannya.

Dalam suasana itu pulalah Ramesses berdiri di balkon istananya yang megah di Thebes. Setelah perjamuan makan yang suram bagi Menkheperesseneb, Bakhoum Fanoush, mereka kembali menatap langit malam yang suram, dan merasa bahwa mereka akan hidup selama-lamanya. Namun ada seseorang, yang membayangi semua impian mereka tentang keagungan dan keabadian. Dia adalah Musa.

“Seperti apa Musa?” Suara Bakhoum suram dan dalam. Gelap seperti malam. Pandangan matanya tetap ke depan dan kemuraman wajahnya tak teralihkan. Dia berdiri tegak di tepian balkon.

Ramesses berdiri di sisi Bakhoum namun lebih santai. Dia bertelekan kepada kedua belah tangannya yang mencengkeram pagar balkon dengan kuat. Sambil menikmati semilir angin, Ramesses menoleh kepada Bakhoum.

“Aku merasa apa yang diperlihatkan Musa bukanlah Heka. Dia sepertinya memperlihatkan sesuatu yang lain, yang lebih hebat daripada Heka.”

“Jangan mengambil kesimpulan jika kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Bakhoum dingin. “Ceritakan saja apa yang kau lihat, aku akan menilainya dengan semua ilmu yang aku miliki.”

Ramesses mendelik sinis kepada Bakhoum, jelas dia tersinggung. Setelah mendengus dan mencibir, dia kembali mendengus. “Kedua tangannya bisa mengeluarkan cahaya yang terang benderang.”

“Cuma itu?!”

“Tongkatnya bisa berubah menjadi ular besar saat dia melemparkannya.”

“Ada lagi?”

“Cuma itu yang aku lihat!”

“Mungkin dia menggunakan Heka Ular dan Heka Cahaya. Tetapi mungkin juga kemampuannya bukan hanya sampai di sana. Semuanya Heka-nya adalah tingkat tinggi, memang kita tidak boleh meremehkan musuh kita.”

“Tetapi jangan pula kita memandangnya terlalu agung,” sergah Ramesses. “Kita akan takut kepadanya dan akan mematahkan semangat kita. Ingat, kau adalah Menkheperesseneb, tak ada Hekau yang bisa mengalahkanmu.”

“Di dalam dunia Heka tidak ada yang tidak mungkin!”

“Apakah kau ragu dan merasa akan kalah?”

“Aku tidak ragu dan aku yakin memang!”

“Jadi itu sudah cukup. Aku setuju bahwa kita tidak boleh meremehkan musuh, tetapi jangan berlebihan.”

Bakhoum pun terdiam seakan tenggelam dalam hawa malam. Keheningan kemudian merebak di antara mereka berdua. Tak ada seorang pun yang bicara, hanya ada derik jangkrik, dekut burung-burung malam, diselingi kelip bintang yang misterius. Beberapa kali Ramesses mengubah posisi tubuhnya, beberapa langkah dilampauinya, terlihat sekali bahwa dia cemas terhadap apa yang telah dilihatnya beberapa waktu yang lalu.

Sementara itu sang Menkheperesseneb tetap diam. Tak bergerak sedikit pun, tak ubahnya spinx yang diam mengawal pintu menuju alam akhirat sebagaimana diyakini orang-orang Mesir. Tetapi akhirnya keheningan itu pecah juga, Bakhoum angkat bicara.

“Kemarilah, Ramesses, biar aku sampaikan apa yang aku ketahui.”

Sang Firaun yang sedari tadi mondar-mandir dengan gusar jadi terhenti langkahnya karena mendengar kata-kata Bakhoum. Dia menoleh dan melangkah dengan tenang menuju tempatnya semula, di sisi Bakhoum. Ramesses kembali menyandarkan tubuhnya kepada pembatas balkon istana. Dia siap mendengarkan.

“Menkheperesseneb adalah Hekau paling mulia dan paling dihormati,” Bakhoum memulai, “Dia menguasai rahasia Heka yang paling tinggi, dan hingga hari ini tidak ada yang sanggup mengalahkan Menkheperesseneb. Di bawah derajat itulah, para Hekau akan rela untuk saling membunuh agar bisa belajar Heka kepadanya. Seorang Menkheperesseneb harus mewariskan rahasia ilmu Heka tertinggi itu kepada seseorang, barulah dia bisa pergi meninggalkan dunia ini. Jika tidak begitu, dia akan hidup sangat lama, dan dalam penderitaan. Hampir setiap hari setan akan mendatanginya dalam berbagai rupa, dan dia akan berkata bahwa dia telah bosan menyertai seorang Menkheperesseneb. Maka ilmu yang suram itu mestilah diturunkan. Ketahuilah, kami, para Menkheperesseneb, adalah orang-orang yang sudah bosan menjalani hidup. Memang benar, kami akan mendapatkan segalanya, keagungan, kekuasaan, ketenaran, uang, perempuan, dan segala kenikmatan dunia, tetapi menjadi Menkheperesseneb tidaklah seindah yang dibayangkan banyak orang. Dan penipuan ini tetap harus diwariskan kepada orang selanjutnya.”

Ramesses mengembuskan napasnya dengan berat, lagi-lagi dia melirik kepada Bakhoum. Barulah saat itu dia menyaksikan ada seorang Menkheperesseneb mencurahkan isi hatinya kepada orang lain, dan itu cukup menggelikan. Tetapi Bakhoum yang tetap dingin sedingin batu, tak melihat ekspresi geli Ramesses, dia melanjutkan kata-katanya.

“Putra Anubis datang kepadaku berkali-kali dan memberi peringatan padaku agar jangan datang kemari. Tetapi aku tidak peduli. Untuk sekali ini, aku ingin hidup di bawah keputusan-keputusanku sendiri. Aku tidak sudi lagi hidup di bawah kendalinya. Dan pada akhirnya kau melihat aku di sini sekarang.”

Dengan kaku, seperti mumi yang dibalut kain perca, Bakhoum menoleh kepada Ramesses. “Kau tidak akan tahu apa yang diperingatkan Putra Anubis kepadaku! Hanyalah seorang Menkheperesseneb yang mengetahuinya. Tetapi malam ini akan kuberitahu kepadamu, apa yang berkali-kali dikatakan oleh Putra Anubis, dan berkali-kali pula dia melarangku kemari.”

Entah mengapa, jantung Ramesses jadi berdebar kencang. Dia merasa bahwa malam itu dia akan mengetahui satu rahasia besar yang dikandung kegelapan malam, dan dia harus mempersiapkan diri untuk mengetahuinya.

“Musa bukanlah Hekau!”

Mata Ramesses melotot sementara ribuan tanda tanya menimpa kepalanya yang botak. Kalau Musa bukan Hekau, lalu dia itu apa? Siapakah orang yang bisa melakukan hal-hal ajaib kalau dia bukan Hekau?! Mata Ramesses tak mungkin tertipu, dia benar-benar menyaksikan Musa memperlihatkan keajaiban di hadapannya.

“Kalau dia bukan Hekau, lantas dia itu apa?”

“Dia Utusan!”

“Utusan? Apa maksud Utusan itu? Utusan siapa? Jelas-jelas dia seorang Hekau,” Ramesses menjadi gusar, padahal sebelumnya dia sendiri yang meragukan bahwa Musa adalah Hekau. “Semua yang dilakukan Musa adalah Heka! Apalagi kalau bukan Heka?!!!”

Bakhoum kembali menatap kedalaman malam. Kekelamannya tiada putus-putusnya, kecuali dihela mentari pagi. “Aku sudah tahu, lama sekali, tentang keberadaan para utusan ini! Putra Anubis jarang sekali membicarakannya. Kitab-kitab Heka hanya menyebut tentangnya satu atau dua kali saja. Membahas keberadaannya adalah pantangan. Tetapi aku penasaran. Benar-benar penasaran!”

Kedua tangan Ramesses menggenggam pagar balkon sampai gemetar. Alisnya berkerut, dan emosi di dadanya meledak-ledak. Suara Bakhoum tetap penuh kemuraman saat dia bicara.

“Aku tahu, terlepas dari emosi dan amarah, kau amat penasaran. Sama seperti aku! Tak ada satu pun ilmu Heka maupun kitab-kitabnya yang menjelaskan siapa yang mengutus mereka. Namun, mereka memiliki kekuatan yang tidak terduga, seolah-olah seluruh keajaiban yang mereka perlihatkan bersumber dari pemilik seluruh keajaiban. Dan walaupun berkumpul seribu orang Menkheperesseneb, takkan pernah bisa mengalahkan seorang Utusan. Karena itulah Putra Anubis melarangku datang kemari.”

“KAU TIDAK AKAN KALAH!!” Ramesses menunjuk hidung Bakhoum. “Kau seorang Menkheperesseneb, KAU TIDAK AKAN KALAH!!! JANGAN BERKATA BAHWA KAU AKAN KALAH!!!”

Dengan gerakan yang kaku, lagi-lagi seperti mumi, tangan Bakhoum menghela telunjuk Ramesses yang hampir mencolok lubang hidungnya. Sambil menoleh dan menatap mata Ramesses yang sudah terbakar api angkara murka, tiba-tiba sebaris senyum yang dingin terentang di wajah Bakhoum.

“Kau tahu, Ramesses, aku pun ingin sekali mengetahuinya.”

Bersambung!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s