HEKA

Episode 11 – Ankh Dalam Perlawanan
Sayf Muhammad Isa

Beberapa detik lamanya senyap merebak di seluruh tempat. Setiap sudut stadion itu terpana menyaksikan segala hal yang terjadi di tengah-tengah, di arena. Tuthre Hasse, sang Hekau tua mantan Menkheperesseneb, berlutut dengan penuh kepasrahan dan ketundukan di tengah-tengah arena. Raut wajahnya menunjukkan kepedihan yang sangat, yang seolah dipendamnya sekian lama, menunjukkan luka hatinya, mengapa baru sekarang dia menemukan Tuhan yang sejati. Semuanya terpaku dan terdiam.

Ramesses yang duduk di balkon Fir’aun sudah tak bisa duduk lagi. Matanya membulat dan membelalak lebar. Dia berlari ke tepian balkon seakan hendak melemparkan tubuhnya sendiri ke bawah, sebab betapa mengejutkannya segala hal yang dilihatnya di hadapannya. Hamman pun tak kalah terlonjak. Dia berdiri tepat di sisi Ramesses dan menghamburkan sumpah serapah yang membuat Ramesses menamparnya karena geram. Hamman terhempas di pagar balkon sambil mengusap-usap pipinya yang memerah, dan terlihat sekali jadi memerah, walaupun kulitnya gelap.

Semua penonton dan prajurit pun terdiam, seakan mereka semua berubah menjadi patung-patung batu yang hina karena kekafiran. Mereka benar-benar tidak menyangka, seorang Hekau tua yang pernah menjadi Hekau terkuat bisa melakukan semua itu, berlutut di hadapan Musa dan Harun, kemudian menyatakan di hadapan orang banyak bahwa dia beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun. Sebuah perkataan yang amat besar dan berat, yang sanggup mengantarkan pengucapnya pada kematian.

Continue reading HEKA

Advertisements