Listrik Yang Meneror

Pesan kematian sang kakek

Ada rasa prihatin yang besar sekali di dalam hati saya. Seorang kakek di Grobogan gantung diri, dan dari inskripsi yang ditinggalkannya, terungkap bahwa aksi nekatnya itu karena sudah tidak sanggup lagi bayar listrik. Sebenernya saya nggak ngerti bahasa Jawa, tapi kira-kira inilah pesan yang ditorehkan sang kakek yang malang itu di dinding, ”sing rukun ojo do tukaran. Bapak wes ora kuat nyambut gawe. Aku wes ora bisa bayar listrik. Yen bayar listrik separo edang. Ambenku malah parah”. Ini berita lengkapnya http://www.grobogantoday.com/2017/02/sebelum-gantung-diriini-pesan-untuk.html .

Tarif listrik yang memprihatinkan

Sekarang ini tarif listrik memang gila-gilaan. Naiknya berkali-kali lipat, dan penaikannya tidak terdeteksi. Tahu-tahu naik! Saya masih ngontrak, dan model listrik yang dipakai adalah token. Kenaikan tarif listrik terasa sekali ketika meteran listrik sudah berbunyi. Perasaan belum lama ini baru ngisi token listrik, tapi kok sekarang sudah habis lagi?! Setelah dicek, ternyata jumlah kwh yang didapat makin dikurangi. Kira-kira seperti gambar disamping ini.

Naiknya tarif listrik berkali-kali dengan persentase yang fantastis ini pasti menimbulkan kekecewaan dan pertanyaan di tengah-tengah rakyat. Apa sebabnya semua ini bisa terjadi? Kebanyakan rakyat, termasuk saya, tidak mendapatkan jawabannya. Apalagi penaikan tarifnya pun terkesan dilakukan dengan diam-diam, dengan kata lain, dilakukan dengan seenaknya. Padahal, bukankah listrik itu adalah milik rakyat, yang sudah seharusnya dikembalikan kepada rakyat? Parahnya, sebagian orang sudah benar-benar tidak sanggup membayar listrik, dan lebih memilih mati gantung diri. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana pemerintah harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah tentang semua ini!

 

Advertisements

HEKA

Episode 12 – Ankh Dalam Jatidiri (Tamat)
Sayf Muhammad Isa

Sebaris senyum yang indah dikulum oleh Tuthre Hasse, seolah kematian itu begitu manis, dan tak ada rasa nyeri sama sekali. Setidaknya itulah yang ada di kepala Bakhoum Fanoush. Dia tidak pernah menyaksikan itu di sepanjang kehidupannya yang kelam. Semua Hekau yang mati pasti mati dengan wajah masam dan seolah menanggung penderitaan yang tak terperi. Sekarang terhampar di hadapannya sebuah kematian yang mulia. Malam itu menjadi peristiwa paling mendebarkan, sekaligus menjadi peristiwa paling manis dalam hidupnya.

Untuk yang terakhir kali, Bakhoum memeluk jasad Tuthre, kemudian dibaringkannya pelan-pelan. Kerusuhan masih menggelora, dan Sang Menkheperesseneb mesti melanjutkan pekerjaannya melindungi Musa dan Harun. Dia mengerti bahwa Tuhan pasti mengutus barangsiapa yang Dia kehendaki, dan Musa dan Harun adalah dua orang yang Dia kehendaki. Bakhoum baru saja mengenal Tuhan, dan dia amat merindukan-Nya, dia pun mengerti bahwa melalui perantaraan Musa dan Harun, dia bisa mengenal Tuhan lebih dalam. Maka dia harus melindungi Musa dan Harun untuk segera melarikan diri dari tempat terkutuk itu. Kalau dia mati, maka dia mati dalam upaya melindungi utusan Tuhan. Kalau dia masih tetap hidup, maka dia bertekad untuk mengabdikan hidupnya demi membela utusan dan ajaran Tuhan.

Continue reading HEKA