HEKA


Episode 12 – Ankh Dalam Jatidiri (Tamat)
Sayf Muhammad Isa

Sebaris senyum yang indah dikulum oleh Tuthre Hasse, seolah kematian itu begitu manis, dan tak ada rasa nyeri sama sekali. Setidaknya itulah yang ada di kepala Bakhoum Fanoush. Dia tidak pernah menyaksikan itu di sepanjang kehidupannya yang kelam. Semua Hekau yang mati pasti mati dengan wajah masam dan seolah menanggung penderitaan yang tak terperi. Sekarang terhampar di hadapannya sebuah kematian yang mulia. Malam itu menjadi peristiwa paling mendebarkan, sekaligus menjadi peristiwa paling manis dalam hidupnya.

Untuk yang terakhir kali, Bakhoum memeluk jasad Tuthre, kemudian dibaringkannya pelan-pelan. Kerusuhan masih menggelora, dan Sang Menkheperesseneb mesti melanjutkan pekerjaannya melindungi Musa dan Harun. Dia mengerti bahwa Tuhan pasti mengutus barangsiapa yang Dia kehendaki, dan Musa dan Harun adalah dua orang yang Dia kehendaki. Bakhoum baru saja mengenal Tuhan, dan dia amat merindukan-Nya, dia pun mengerti bahwa melalui perantaraan Musa dan Harun, dia bisa mengenal Tuhan lebih dalam. Maka dia harus melindungi Musa dan Harun untuk segera melarikan diri dari tempat terkutuk itu. Kalau dia mati, maka dia mati dalam upaya melindungi utusan Tuhan. Kalau dia masih tetap hidup, maka dia bertekad untuk mengabdikan hidupnya demi membela utusan dan ajaran Tuhan.

Para Hekau itu membuat lingkaran pagar betis yang ketat. Semua prajurit Fir’aun yang mendekat segera dihalau oleh mereka. Bakhoum berada di barisan terdepan. Mereka segera berlari keluar dari stadion itu di bawah tembakan panah dan tombak. Satu persatu Hekau berjatuhan, dan Bakhoum menyaksikan bahwa senyum manis terpahat di wajah para mantan Hekau itu. Seolah Tuhan sendiri yang mengukirkan senyum itu pada wajah mereka. Bakhoum dan para mantan Hekau yang tersisa, berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Musa dan Harun. Para akhirnya, mereka berhasil melepaskan diri sepenuhnya dari jangkauan serangan prajurit Fir’aun.

000

Jauh dari ibukota, di pedalaman Mesir, ada sebuah oase besar, yang di sekitarnya rimbun pohon-pohon palem. Beberapa bidang tanahnya ditumbuhi rumput-rumput hijau, dan kolam air yang terhampar demikian jernih dan menawarkan kesegaran di tengah-tengah panas terik matahari. Para prajurit Fir’aun tidak mengejar sampai ke sana, dan di sanalah para pelarian itu berlindung.

Sisa-sisa para mantan Hekau itu tetap menyertai Musa dan Harun yang sedang beristirahat. Mereka tetap waspada dan mengawasi keadaan sekitar. Ada juga yang sedang menciduk air dengan kedua belah telapak tangannya, kemudian meminumnya.

Bakhoum duduk tak jauh dari Musa dan Harun. Sesekali dia melirik kepada dua bersaudara yang diangkat menjadi Nabi itu, dan dia tidak pernah menyangka nasib macam apa yang menerpanya.

“Ada apa?” Tanya Musa tiba-tiba sambil tersenyum kepada Bakhoum.

Bakhoum menggeleng pelan dan membalas senyum Musa. “Aku hanya tidak menyangka, baru beberapa jam yang lalu kita saling bermusuhan, sekarang kita berada di pihak yang sama.”

“Semua itu karena kuasa Allah,” kata Musa.

“Aku bahagia karena pada akhirnya aku mendapatkan petunjuk. Selama ini aku telah tersesat.”

“Mendapatkan petunjuk memang sulit,” Musa menjelaskan, “tetapi mengamalkan dan membela petunjuk itu jauh lebih sulit. Semuanya membutuhkan kekuatan hati dan keimanan kita.”

“Aku akan selalu menyertaimu, aku ingin mengenal Tuhanku lebih dalam lagi,” Bakhoum benar-benar telah berubah.

Musa dan Harun tersenyum kepada Bakhoum, dan tersambung tali persaudaraan di dalam hati mereka.

“Setelah ini apa yang akan kita lakukan?” Tanya Bakhoum.

“Membebaskan kaumku dari penindasan Ramesses,” sahut Musa.[]

 

Tamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s