HEKA

Episode 9 – Ankh Dalam Raga
Sayf Muhammad Isa

Desir angin menyapu balok-balok tebal piramida Mesir yang kokoh dan angkuh. Bangunan itu menikmati balutan selendang mistis yang halus, tetapi kuat. Harta-harta para Firaun bertumpuk-tumpuk di dalamnya, seakan mengabarkan kepada dunia bahwa merekalah penguasa bumi dan langit. Persangkaan membubung tinggi, seakan harta-harta itu akan mensejahterakan mereka di negeri akhirat. Dan persangkaan akan tetap jadi persangkaan, selama tidak ada kabar dari langit yang membenarkannya.

Dalam suasana itu pulalah Ramesses berdiri di balkon istananya yang megah di Thebes. Setelah perjamuan makan yang suram bagi Menkheperesseneb, Bakhoum Fanoush, mereka kembali menatap langit malam yang suram, dan merasa bahwa mereka akan hidup selama-lamanya. Namun ada seseorang, yang membayangi semua impian mereka tentang keagungan dan keabadian. Dia adalah Musa.

“Seperti apa Musa?” Suara Bakhoum suram dan dalam. Gelap seperti malam. Pandangan matanya tetap ke depan dan kemuraman wajahnya tak teralihkan. Dia berdiri tegak di tepian balkon.

Ramesses berdiri di sisi Bakhoum namun lebih santai. Dia bertelekan kepada kedua belah tangannya yang mencengkeram pagar balkon dengan kuat. Sambil menikmati semilir angin, Ramesses menoleh kepada Bakhoum.

“Aku merasa apa yang diperlihatkan Musa bukanlah Heka. Dia sepertinya memperlihatkan sesuatu yang lain, yang lebih hebat daripada Heka.”

Continue reading

HEKA

Episode 8 – Ankh Dalam Mantra
Sayf Muhammad Isa

Mata Ramesses menatap kosong kepada wajah yang kelam itu, wajah Bakhoum Fanoush. Selama beberapa detik mereka hanya saling menatap dan diam. Segala kenangan pahit di masa lalu seolah berputar di bola mata mereka, dan tidak menyisakan apa-apa melainkan kebencian. Tetapi malam itu adalah malam yang baru, telah muncul musuh bersama yang sangat kuat, dan kenyataan itu membuat mereka, mau tidak mau, bersatu kembali. Segala dendam dan kebencian di dalam hati mereka mesti disingkirkan, dan dengan harmonis, mereka mesti melangkah seiring sejalan. Jika hal itu tidak terjadi, maka pastilah Musa akan menang, dan itu artinya keruntuhan bagi kekuasaan seorang Fir’aun. Ramesses ngeri sekali membayangkan hal itu.

Ramesses pun melangkah pelan dengan tetap memandang pada wajah Menkheperesseneb. Dengan ringan dia memeluk tubuh Bakhoum, erat, tetapi Bakhoum tetap diam seolah membatu. Seolah dirinya hanyalah wadah yang kosong dan tidak bernyawa.

Haman melirik kepada Bakhoum dan dia merasa tidak aneh lagi dengan keadaan itu. sepanjang jalan dia menyaksikan fenomena itu terjadi pada diri sang Menkheperesseneb.

Continue reading

HEKA

Episode 7 – Ankh Yang Retak
Sayf Muhammad Isa

Belum pernah terjadi, Thebes didatangi oleh para Hekau sebanyak itu. Alis Bakhoum mengernyit saat menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Dia dan rombongannya tiba juga di Thebes, ibukota negeri Mesir, tepat tiga hari sebelum Hari Raya Sed. Dia terpana dengan para Hekau yang berkeliaran di jalan-jalan. Ada yang membawa ular berbisa; ada yang mengalungkan daun telinga di lehernya; ada juga yang berkulit hitam legam tetapi bersarung sutra putih; Ada juga yang lehernya panjang dan kurus, tetapi leher ringkih itu digelantungi banyak sekali kalung manik-manik. Bermacam ragam penampilan para Hekau itu.

Setiap Hekau yang melihat rombongan Bakhoum melintas, maka mereka akan berlutut dengan penuh pemujaan. Mereka paham seberapa mulianya derajat Hekau yang ada di hadapan mereka, walaupun hampir semuanya belum pernah melihat Bakhoum sebelumnya. Entah bagaimana caranya, seorang Menkheperesseneb pasti akan langsung dikenali seorang Hekau, walau mereka belum pernah bertemu. Maka, pada hari itu, jalan-jalan di Thebes dipenuhi oleh para Hekau dari penjuru Mesir, dan di jalan-jalan yang dilintasi oleh rombongan Bakhoum, para ahli sihir itu berlutut di pinggir-pinggir jalan.

Continue reading

HEKA

oleh Sayf Muhammad Isa
Episode 3-Ankh Dalam Api

https://aos.iacpublishinglabs.com/question/aq/700px-394px/physical-characteristics-egypt_9713c68fcb06b2c8.jpg?domain=cx.aos.ask.comLelaki berpakaian putih yang basah kuyup itu berdiri di hadapan perapian yang hangat dan terang, tepat di hadapan lelaki bertampang merengut. Sang Hekau tegak membelakangi tamunya. Jelas saja pakaian basah yang membalut tubuhnya mendaratkan dingin pada kulitnya, namun pancaran hangat dari perapian sedikit mengobati rasa dingin itu. Kedua tangannya yang kokoh terangkat pelan-pelan, tatapan matanya terpaku dengan khidmat kepada Patung Amun yang dipandangnya suci itu.

Berbagai tali dan serabut yang bergelantungan di langit-langit membuat suasana semakin seram. Lelaki bertampang merengut sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi tak lama lagi. Simbol-simbol Heka dari akar, batang, dan dedaunan menguarkan kemisteriusan.

“Letakkan persembahannya,” kata Sang Hekau tanpa menoleh sedikit pun.

Continue reading

HEKA

Oleh Sayf Muhammad Isa
Episode 1 – Menkheperreseneb

Peristiwa menghadapnya nabiyullah Musa dan Harun kepada Fir’aun adalah sebuah peristiwa besar dalam sejarah. Peristiwa ini disusul oleh pertemuran sihir yang amat sengit antara para penyihir Fir’aun dengan mukjizat Nabi Musa. Fase sejarah ini menjadi inspirasi bagi saya untuk menggarap serial “Heka” ini, dan serial ini pernah dimuat di Majalah Remaja Islam D’Rise. Inilah dia, fiksi-historis “Heka”. Selamat menikmati gejolak hikmahnya.[]

 

000

 

preview-4511Bulan purnama melayang pada samudera hitam, di atas bumi Mesir yang subur dan makmur. Riak tenang Sungai Nil dibuai gelapnya malam, menebarkan kehidupan dan kesejahteraan kepada semua orang. Pada sisi lain, Sungai Nil itu adalah titik puncak kesombongan manusia, yang menyangka bahwa dia berkuasa atas segala sesuatu selama Nil mengalir di bawah kakinya.

Perahu-perahu orang Qibthi[1] tertambat di tepian-tepian sungai. Berayun pelan dan manja, kemudian menggandeng dayungnya agar tidak lepas dibuai aliran air. Ketika siang hari, Sungai Nil ramai oleh perahu-perahu itu, memperlihatkan semangat hidup dan kerja keras. Sayangnya, semua itu ditujukan untuk kekeliruan. Mereka menyembah tuhan lain, bukan Tuhan yang sejati. Angin pun berembus, bermain dengan hawa dingin, melenakan orang-orang pada ranjangnya.

Rumah-rumah sudah mulai gulita. Pelita-pelita telah dipadamkan untuk kenyamanan dan keamanan. Tinggallah obor-obor yang masih berkobar di tepi-tepi jalan rumah orang-orang Mesir yang berbentuk kubus-kubus dari tanah liat.

Continue reading