Muhammad al Fatih Punya Nama Pena?


Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Bulan April hingga Mei adalah bulan-bulan penaklukan Konstantinopel. Asyik sekali jika kita bicarakan pernak-pernik tentang sang Penakluk Agung dalam Islam, Muhammad al Fatih. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari jejak kehidupan dan sepak terjang beliau. Yang pertama, tentang Muhammad al Fatih dan nama pena-nya.

Ada sebuah kemiripan yang biasanya terdapat pada diri orang-orang yang sukses dan besar, biasanya mereka gemar membaca dan menulis. Memang benar membaca dan menulis tidak akan serta-merta membuat orang menjadi besar dan sukses. Tapi, orang-orang yang besar dan sukses pastilah gemar membaca dan menulis. Salah satu wujud dari hal ini adalah, biasanya mereka memiliki perpustakaan pribadi dengan berbagai koleksi buku.

Ketika saya berkunjung ke kediaman mas Felix Siauw, hal menarik yang saya temukan pertama kali di sana adalah rak buku yang menjulang sampai ke langit-langit yang dipenuhi dengan buku-buku. Hal yang sama saya temukan di rumah pak Salman Iskandar. Bertumpuk-tumpuk dan berjajar-jajar buku ditata dengan rapi di sana. Pak Salman juga mengisahkan kepada saya bahwa Prof. Ahmad Mansur Suryanegera, salah satu sejarawan yang amat berpengaruh di negeri ini, memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi buku-buku kuno yang langka. Seperti itulah apa yang akan kita temukan di dalam kediaman orang-orang besar dan sukses, buku menjadi sahabat mereka.

Hal ini menandakan bahwa mereka paham benar bahwa membaca adalah sebuah aktifitas yang amat penting dalam kehidupan ini. Dalam salah satu tulisannya, mas Felix mengatakan bahwa ia “lebih baik tidak makan daripada tidak membeli buku.” Buku memang gudang ilmu dan kebijaksanaan, dan membaca adalah satu-satunya kunci untuk mengakses gudang itu. Karena sedemikian pentingnya membaca, Allah Tuhan seru sekalian alam menurunkan ayat pertama dari kitabNya yang besar itu dengan memuat perintah membaca, iqro.

Selain membaca, orang-orang besar dan sukses biasanya memiliki kebiasaan menulis. Walaupun mereka tidak berprofesi sebagai penulis, mereka biasanya selalu menyibukkan diri mereka dengan aktifitas menulis. Sebagai seorang pemimpin dan penakluk besar, Fetih Sultan Mehmet pun amat memahami seberapa pentingnya kedua aktifitas ini. Mari kita mengintip beberapa koleksi buku yang ada di perpustakaan pribadi Fetih Sultan Mehmet.

Di dalam istananya, beliau memiliki seorang astronom kenamaan yang bernama Ali Kusci. Dalam perjalanannya dari Tabriz ke Istanbul, Ali Kusci menulis buku matematika setebal 194 halaman yang kemudian dijuduli Muhammadiye dan dipersembahkan kepada Mehmet. Tahun berikutnya, Ali memberikan bukunya yang membahas tema astronomi yang berjudul Risala al Fathiya (Kitab Penaklukan). Kedua buku ini masih terpelihara dengan baik, dijilid menjadi satu, dan masih tersimpan sampai sekarang di Perpustakaan Aya Sofya. Di dalam istananya, Topkapi Sarayi, Fetih Sultan Mehmet pun memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi-koleksi bukunya tersendiri. Domenico Hierosolimitano, dokter pribadi Mehmet, melaporkan bahwa di perpustakaan pribadinya itu ia mengoleksi karya-karya Yunani dan Bizantium sebanyak 120 manuskrip yang dulunya milik Konstantin Agung. Di dalam koleksinya ditemukan pula buku berjudul Deigesis yang mengisahkan tentang sejarah Aya Sofya. Hal ini menandakan bahwa ia sangat tertarik dengan sejarah kota yang ditaklukkannya. Ada juga buku kuno karya Homer, Iliad, yang disalin oleh seorang cendekiawan Bizantium bernama Dokeianos. Minat Mehmet yang amat besar terhadap geografi dibuktikan dengan tersedianya buku geografi berjudul Liber Insularum Archipelagi, yang diterbitkan tahun 1420 dan ditulis oleh ahli geografi Florentine, Cristoforo Buondelmonti. Karya-karya lainnya yang tersedia di dalam koleksi buku Sang Penakluk antara lain: Theogony karya Hesiod; Helieutika karya Oppian; Miscellany karya Planudes; Olympiaka, karya Pindar; dan Lexicon karya Eudemos Rhetor.

Di sela-sela kesibukannya, Fetih Sultan Mehmet selalu menyediakan waktu untuk menulis. Walaupun menguasai bahasa Persia dan Arab, beliau menulis dalam bahasa Turki sehari-hari. Nama pena beliau adalah Avni. Salah satu karya beliau adalah kumpulan puisi dalam bahasa Turki yang disebut Divan.

Jelaslah, membaca dan menulis adalah aktifitas besar yang juga dilakukan oleh orang-orang besar. Dan selama ribuan tahun kedua aktifitas ini begitu membudaya di tengah-tengah kaum muslim. Adalah sangat aneh jika pada jaman sekarang generasi Islam lebih senang berjingkrak di depan panggung daripada membaca dan menulis. [sayf]

2 responses to “Muhammad al Fatih Punya Nama Pena?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s