“Kalau Tidak Suka Demokrasi, Keluar Dari Indonesia”

Ungkapan seperti judul di atas pasti akan selalu jadi lontaran pamungkas yang ditujukan kepada orang-orang yang menolak demokrasi. Karena Indonesia ini negara demokrasi, jadi kalau tidak suka dengan demokrasi ya jangan tinggal di Indonesia, keluar saja dari Indonesia terus transmigrasi ke Arab Saudi.

Lontaran seperti ini terdengar benar, jadi orang-orang yang tinggal di Indonesia sini tidak punya pilihan lain selain menerima demokrasi, karena Indonesia sendiri adalah negera demokrasi. Sehingga orang-orang yang menolak demokrasi harus keluar dari Indonesia.

Tapi kalau kita pakai otak kita buat mikir, kita pasti akan memahami betapa absurd-nya ungkapan itu. Dulu Soekarno tidak suka kepada pemerintah Hindia-Belanda yang ketika itu menguasai pulau Jawa, tapi beliau tidak pernah berencana untuk keluar dari wilayah Hindia-Belanda. Dulu juga Rasulullah saw. tidak suka dengan masyarakat jahiliyah di kota tempat beliau tinggal, Mekah, tapi beliau tetap bertahan untuk tinggal di sana dan terus menyerukan kebaikan Islam. Dengan kata lain, kalau kita menolak demokrasi, bukan berarti kita harus keluar dari Indonesia karena Indonesia adalah negara demokrasi. Tapi tetaplah ada di Indonesia sambil berjuang untuk menghancurkan demokrasi yang diterapkan di negeri ini.

Saya jadi ingin menyampaikan ungkapan yang telak juga untuk lontaran absurd di atas. “Kalau tidak menyukai Islam dan penerapan syariat Islam, keluar saja dari bumi Allah. Cari bumi yang lain yang bukan ciptaan Allah.”

follow @sayfmuhammadisa

Advertisements

MUHAMMAD AL FATIH dan VLAD DRACULA

Sultan Muhammad al Fatih.
Sultan Muhammad al Fatih.

Kedua tokoh ini memang sama-sama orang besar pada masanya. Mereka hidup sezaman, usia mereka hanya terpaut setahun (Fetih lahir tahun 1432, Dracula lahir tahun 1431), dan ada kemungkinan mereka pernah saling bertatap muka serta saling bicara. Hanya saja sejarah mencatat bahwa kedua tokoh ini adalah musuh bebuyutan yang selalu siap menghunuskan pedang satu sama lain.

Fetih adalah gelar bagi Sultan Mehmed II, Sultan Ustmani ketujuh, penakluk Konstantinopel. Fetih sendiri bermakna penakluk, sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab ‘Fatih’, yang kemudian berubah menjadi Fetih di lidah orang-orang Turki (sebagaimana nama Muhammad dalam bahasa Arab kemudian berubah menjadi Mehmed dalam bahasa Turki). Sejak kecil Sultan Mehmed memang sudah dididik untuk menjadi penakluk dan komandan terbaik seperti yang pernah diberitakan Rasulullah dalam hadisnya yang masyhur. Ulama-ulama besar seperti Syekh Ahmad al Qurani dan syekh Aaq Syamsuddin menjadi guru yang membimbing pertumbuhan dan perkembangan beliau. Sejak kecil beliau telah diajari berbagai disiplin ilmu, bukan hanya kemampuan militer dan kepemiminan, tetapi juga berbagai ilmu syariah, sejarah, dan bahasa. Beliau mampu bicara dalam tujuh bahasa.

Vlad Dracula
Vlad Dracula

Sementara Dracula adalah gelar bagi Vlad III. Dia adalah seorang Voivode (pangeran/penguasa) sebuah negeri di daratan Balkan (Eropa Timur) yang bernama Wallachia. Gelar Dracula ini diturunkan dari ayahnya, Vlad II, yang bergelar Dracul (artinya Sang Naga dalam bahasa Romania). Awalnya, gelar ini adalah Draculea, di mana akhiran ‘ulea’ dalam bahasa Romania bermakna ‘putra dari’. Dengan demikian Draculea berarti ‘putra sang naga’. Pada perkembangan selanjutnya, Draculea berubah menjadi Dracula atau Draculya. Dia dikenal sebagai seorang tiran yang kejamnya tidak terperi.  Dia gemar menyiksa orang dengan cara dipancang, ditusukkan tiang runcing dari tubuh bagian bawah sampai tembus ke bagian atas, kemudian tiang itu ditanam, sehingga membuat mayat itu berkibar-kibar mengerikan. Bahkan sejarah mencatat bahwa dia pernah melakukan pemancangan pada sekitar 20.000 prajurit Utsmani, sehingga membuat Tirgoviste (ibukota Wallachia) menjadi hutan pancang dengan bau busuk yang memuakkan.

Dalam sejarah, Dracula pernah dijadikan sebagai tawanan dan harus tinggal di bawah pengawasan Ustmani. Walaupun berposisi sebagai tawanan, Ustmani memperlakukannya dengan baik dan mengajarinya berbagai macam ilmu. Sayangnya kelicikannya malah menjadi bencana besar bagi Ustmani. Dalam sebuah pertempuran malam di Wallachia, Dracula pernah hampir saja membunuh sultan Mehmed. Peristiwa tersebut dikenal sebagai The Night Attack. Untuk merespons kebengisan Dracula, Sultan Mehmed pernah memimpin langsung pasukannya untuk menyerang Wallachia, namun ketika dia baru saja memasuki gerbang kota itu, bau busuk yang kuat langsung menguar dan menggedor penciuman. Begitu menyaksikan kengerian yang ada di hadapannya, hutan pancang yang penuh dengan mayat-mayat yang tersangkut pada tiang dan membusuk, Sultan Mehmed muntah-muntah dan langsung memerintahkan pasukannya untuk mundur sementara.

Berbagai kontak dan pertempuran antara Fetih dan Dracula itulah yang menjadi inspirasi untuk serial novel THE CHRONICLES OF DRACULESTI ini. Inspirasi sejarah yang demikian membuat novel ini memiliki alur yang cepat dan keras. Di dalamnya dikisahkan dengan begitu dramatis bagaimana kemuliaan dan kegungan Islam (yang diwakili oleh Fetih Sultan Mehmed), dan bagaimana kebengisan kaum kafir (yang diwakili oleh Dracula). Aroma jihad fi sabilillah dan perjuangan mempertahankan kemuliaan Islam merebak dengan sangat kuat di dalam novel ini. THE CHRONICLES OF DRACULESTI direncanakan akan terbit 10 seri. Saat ini sedang dipersiapkan penerbitan jilid ke-4.

Cut Meutia dan Tiga Peluru (2)

Marechaussee, atau Marsose, adalah kesatuan elit yang dibuat khusus untuk memadamkan perlawanan rakyat Aceh.
Marechaussee, atau Marsose, adalah kesatuan elit yang dibuat khusus untuk memadamkan perlawanan rakyat Aceh.

Kenegerian Keureutoe di kawasan Pasai adalah sebuah wilayah yang luas, kaya, dan padat penduduknya. Sejak jaman dahulu kala, wilayah ini telah menjadi tempat orang-orang dari berbagai negeri menuntut ilmu. Ketika Belanda menyerbu Aceh, wilayah Keureutoe ini dipimpin oleh Uleebalang seorang wanita, bernama Cut Nyak Asiah. Wanita ini selain arif dan bijaksana juga amat disegani bahkan sampai keluar wilayah kekuasaannya.

Suami Cut Nyak Asiah adalah Teuku Cik Muda Ali. Dari pernikahan mereka, Cut Nyak Asiah memiliki dua orang anak, yang lelaki adalah Teuku Raja Badai, dan yang perempuan adalah Cut Inong. Sayangnya, kedua anak beliau wafat ketika masih amat muda. Cut Nyak Asiah memiliki seorang saudara laki-laki, bergelar Teuku Bentara Jeumaloi (Teuku Ben Beurgang). Saudara lelaki Cut Nyak Asiah ini memiliki dua orang putra, yakni Teuku Syamsarif dan Teuku Cut Muhammad. Cut Nyak Asiah amat menyayangi kedua keponakannya ini seperti anaknya sendiri. Kedua lelaki inilah yang kelak memiliki kisah yang panjang dengan Cut Meutia.

Anak Seorang Pemimpin

Cut Meutia adalah putri dari Teuku Ben Daud, Uleebalang Peureulak. Sejak kecil pendidikan agama selalu menjadi santapannya. Karena itulah, sebagaimana dituliskan oleh para sejarahwan, perangai beliau elok dan suka menolong, selain cantik dan lembut tutur katanya. Beliau adalah anak perempuan satu-satunya dari Teuku Ben Daud.

Ketika kawasan Keureutoe, Peureulak, dan sekitarnya berhasil dikuasai oleh Belanda, Teuku Ben Daud melanjutkan perlawanan dan memindahkan pusat pemerintahannya ke kedalaman hutan.

Cut Meutia kemudian dinikahkan dengan Teuku Syamsarif yang kemudian bergelar Teuku Cik Bentara. Sepeningggal Cut Nyak Asiah, naiklah Teuku Cik Bentara menjadi uleebalang Keureutoe. Teuku Cik Bentara ini kurang populer di tengah-tengah masyarakat jika dibandingkan dengan Teuku Cut Muhammad. Naiknya Teuku Cik Bentara ke tampuk pimpinan uleebalang bukan karena dukungan rakyat, melainkan karena didudukkan oleh Belanda. Seperti biasa, Belanda hanya mau menaikkan orang-orang yang bisa dengan mudah mereka kendalikan. Sementara Teuku Cut Muhammad adalah seorang pejuang yang terkenal gigih menentang Belanda dan turut terlibat aktif dalam pergerakan untuk mengusir Belanda dari tanah Aceh.

Cut Meutia merasa amat kecewa dengan suaminya. Ia mengira bahwa suaminya adalah seorang yang gagah perwira yang siap memimpin rakyatnya melawan Belanda. Ternyata Teuku Cik Bentara hanyalah seorang antek Belanda. Sementara Cut Meutia sendiri hati dan pikirannya telah terpaut pada perjuangan semenjak lama. Ia lebih suka hidup di bawah denting senjata dan deru derap peperangan mengusir kaphe penjajah, daripada hidup nyaman dan mewah tetapi bertekuk lutut di bawah lars penjajah.

Dengan menguatkan hati dan jiwa, Cut Meutia menggugat cerai kepada Teuku Cik Bentara. Akhirnya bercerailah kedua pasangan itu. Selanjutnya menikahlah Cut Meutia dengan saudara Teuku Cik Bentara sendiri, yakni Teuku Cut Muhammad yang terkenal dengan kegigihannya melawan Belanda. Inilah dia pasangan serasi.

Teuku Cut Muhammad langsung memboyong istrinya yang jelita itu ke hutan untuk menyusun rencana menyerang Belanda. Bersama-sama, mereka menjalin cinta yang suci dan terus bergerak untuk mengusir penjajah dari halaman rumah nanggroe Aceh.

Sultan Aceh kemudian mengangkat Teuku Cut Muhammad sebagai Uleebalang Keureutoe. Terjadilah dualisme kepemimpinan di Keureutoe, antara Teuku Cut Muhammad dengan Teuku Cik Bentara. Pada akhirnya wilayah Keureutoe terbelah menjadi dua. Teuku Cik Bentara memerintah wilayah hilir Keureutoe, kemudian mendapat gelar Teuku Cik Baroh. Sementara Teuku Cut Muhammad memerintah wilayah hulu Keureutoe, kemudian mendapat gelar Teuku Cik Tunong.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Cut Meutia dan Tiga Peluru (1)

Pejuang Muslimin Aceh zaman Perang Sabil.
Pejuang Muslimin Aceh zaman Perang Sabil.

Arus globalisasi dan serangan budaya yang dilancarkan oleh Barat telah membuat generasi kita teralihkan perhatiannya dari memelajari riwayat hidup dan sepak terjang para pejuang. Sehingga yang kemudian tertinggal di dalam ingatan dan hati kita hanya nama-nama mereka saja. Ataukah mungkin nama-nama mereka pun tidak berbekas lagi di dalam diri kita sama sekali? Memprihatinkan.

Dalam artikel ini mari kita sama-sama berkisah tentang kisah hidup seorang wanita pejuang yang turut aktif dalam Perang Sabil di Aceh melawan Belanda. Nama beliau mungkin sudah cukup dikenal oleh generasi kita, hanya saja bagaimana sepak terjang beliau sedikit yang membicarakannya.

Beberapa sumber klasik yang ditulis oleh para pendahulu kita memuat banyak kisah tentang wanita perkasa ini. Beberapa di antaranya adalah buku-buku klasik karangan Teungku Ismail Yakub, Teungku Alibasjah Talsja, dan salah satu sumber Belanda yakni buku karya Zentgraff. Sekarang mari kita mulai saja kisah Cut Meutia yang besar ini.

Secantik Mutiara

Cut Meutia adalah seorang wanita yang amat cantik. Setidaknya begitulah yang digambarkan oleh seorang wartawan Belanda bernama Zentgraff di dalam bukunya yang berjudul Atjeh. Berikut saya kutip komentar Zentgraff tentang Cut Meutia. “Cut Meutia bukan saja amat cantik parasnya, tapi juga memiliki tubuh yang tampan dan menggairahkan. Dengan mengenakan pakaian adatnya yang indah-indah menurut kebiasaan wanita di daerahnya, dengan “silueueu” (seluar) Aceh sutera berwarna hitam, dengan baju yang dikancingi perhiasan-perhiasan emas di dadanya serta tertutup ketat, dengan rambutnya yang hitam pekat serta dihiasi “ulee ceumara” emas (sejenis perhiasan rambut), dengan gelang kakinya yang melingkari pergelangan lunglai, wanita itu benar-benar seorang bidadari yang memesonakan. Karenanya tidak heran pula jika sultan … jatuh hati kepadanya, akan tetapi pada suatu jarak yang jauh…” (Zentgraff, hal 151).

Saking cantiknya Cut Meutia, sultan pun jatuh hati kepadanya. Konon, “Meutia” bermakna “mutiara”. Kecantikan itu kemudian diimbangi dengan tekad yang kuat dan keteguhan untuk tidak menyerah kepada Belanda. Kecantikan dan keteguhan ini membuat Cut Meutia menjadi wanita yang disegani.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Wawancara Dengan Teuku Lutan Puteh (3)

Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman

Berlanjutlah perjalanan Teuku Lutan Puteh untuk bertemu dengan Sultan Aceh. Keinginan yang kuat untuk bertemu dengan Sultan Aceh telah bersemayam di hati beliau sejak dulu. Kini Sultan sendiri telah berada di daerah Pasai, kapan lagi kiranya pertemuan itu harus terjadi kalau bukan saat itu juga. Karena itulah walau pun harus berjalan kaki melintasi berbilang sungai, harus keluar-masuk hutan, menempuh perjalanan yang jauh, semua itu dilakukan juga.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, barulah sampai di daerah Peutoe. Beliau bertemu dengan Uleebalang Peuteo, yang disebut Hakim Jaba. Awalnya Hakim Jaba melarang Teuku Lutan Puteh untuk bertemu dengan Sultan. Namun beliau bersikeras karena sudah sedemikian besarnya upaya yang dikerahkan dan tenaga yang dialirkan untuk berjalan sedemikian jauh demi menemui Sultan. Jangan sampai sia-sia semua yang sudah dikerjakan itu. Beliau hendak mempersembahkan senapan yang beliau bawa. Pada akhirnya Hakim Jaba mengizinkannya juga.

Pada tengah hari, sampailah beliau di daerah Cot Giriek. Untuk menemui Sultan beliau harus melewati tujuh lapis penjagaan yang ketat, yang dilakukan oleh para pejuang Muslimin. Setiap kali melewati penjagaan, beliau ditanya siapa namanya, dari mana asalnya, apa tujuannya bertemu dengan Sultan, dan beberapa hal lainnya. Kalau lulus dengan semua pertanyaan itu, barulah diizinkan bertemu dengan Sultan. Kalau tidak lulus, maka disuruh pulang kembali. Beliau berhasil menjawab semua pertanyaan.

Ketika tiba di hadapan Sultan, Teuku Lutan Puteh dipersilakan untuk menyampaikan hormat dan sembah (maksudnya bukan menyembah seperti beribadah, tetapi menyampaikan penghormatan yang takzim) ke hadapan Sultan. Beliau mendengar Sultan memanggil menterinya, Tuk Keujreun Krueng Kala, untuk menyambut tamunya dengan baik. Waktu itu Teuku Lutan Puteh tidak sendirian ketika hendak menghormat kepada Sultan, melainkan sudah berlima dengan orang-orang lain. Caranya menyampaikan sembah kepada Sultan adalah dengan duduk bersimpuh merangkak ke bumi. Lalu melahirkan takzim dan hormat ke hadapan Yang Mulia Sultan. Rencong yang tadinya di pinggang hendaklah dicampakkan ke belakang masing-masing. Tujuh kali banyaknya mengangkat daulat dan sembah, setelah itu merangkak menemui lutut dan tapak kaki sultan. Ratusan yang orang yang berada di sana tidak ada seorang pun yang berbicara. Semuanya diam, tak ada terdengar satu bisikan pun. Semuanya hanyut dalam sikap taat yang takzim.

Pada malam hari Sultan kembali ke tempat persemayamannya (sebuah istana sederhana yang dibuat darurat di tengah hutan). Sementara para bawahannya kembali ke tempat tugasnya masing-masing. Teuku Lutan Puteh bergabung dengan barisan pengawal Sultan.

Seminggu kemudian Sultan berangkat ke Krueng Rubiek, hendak menemui seorang alim dan pejuang yang terkenal, Teungku Tapa, yang berasal dari Gayo. Setelah Sultan kembali lagi ke Cot Giriek, Teuku Lutan Puteh menghaturkan sembah dan mengatakan hendak kembali lagi ke Mulieng, kampung asalnya.

Selesai

Follow @sayfmuhammadisa

Wawancara Dengan Teuku Lutan Puteh (2)

Sultan Aceh, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, mendatangi pembesar Belanda di Banda Aceh (dulu Kutaraja), dan kemudian dikatakan "menyerah".
Sultan Aceh, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, mendatangi pembesar Belanda di Banda Aceh (dulu Kutaraja), dan kemudian dikatakan “menyerah”.

Wawancara ini dilakukan oleh Teungku Ismail Yakub, seorang cendekiawan sekaligus sejarahwan Aceh yang masyhur. Wawancara ini beliau lakukan pada sekitar tahun 1939. Teuku Lutan Puteh adalah seorang pejuang sekaligus pengawal Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah. Beliau menyertai Sultan keluar-masuk hutan dalam rangka menggerakkan perlawanan terhadap kaphe Belanda. Ketika wawancara ini dilakukan, usia Teuku Lutan Puteh sudah lebih dari 70 tahun. Namun beliau masih memiliki ingatan yang tajam dan tidak pikun. Mata beliau juga masih terang, beliau masih bisa memekik keras dan kuat berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya.

Ketika Teungku Ismail Yakub mengutarakan niatnya untuk melakukan wawancara, Teuku Lutan Puteh berkata, “Jangan, nanti Teungku ditangkap kaphe.”

Namun setelah diyakinkan kembali, akhirnya Teuku Lutan Puteh bersedia untuk menceritakan pengalaman hidupnya, sementara Teungku Ismail Yakub mencatatnya. Walau pun mungkin Belanda akan melarang penerbitannya, asalkan kisah itu jangan sampai hilang dengan perginya orang tua-tua, nanti bisa diterbitkan oleh generasi selanjutnya.

Teuku Lutan Puteh bercerita dengan mata bercahaya dan bersemangat sekali, terpancar kembali gairah hidup yang besar saat kisah-kisah itu berhamburan dari mulutnya. Padahal sehari-harinya, Teungku Ismail Yakub mengenali beliau sebagai seorang tua yang pendiam dan kurang bersemangat, sebagaimana lazimnya orang tua-tua.

Berceritalah Teuku Lutan Puteh.

Kaum Kaphe membuat jalan di Mulieng, yang kemudian diserang oleh orang Muslimin (orang Aceh menyebut para pejuang dengan sebutan “Muslimin”). Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Simpang Mulieng. Tempat  Teuku  Lutan  Puteh  berada  itu, tidak  berapa  jauh  dari Simpang  Mulieng.  Lalu  beliau  menyingkir  ke  tempat  yang  lebih jauh  lagi.  Maka  datanglah  berlari-larian  seorang  muslimin,  dengan sepucuk  senapan  di  tangannya,  yang  direbutnya  dari  pertempuran tadi.  Orang  itu  mencampakkan  senjata  tadi  dan  terus  melarikan diri. Teuku  Lutan  Puteh  lalu  mengambil  senjata  itu  dan  terus  menyingkir  menuju  ke  daerah  sungai  Keureutoe.  Dan  menyeberang sungai  itu,  menuju  Kampung  Lapang.  Pada  malamnya  turun  hujan lebat  dan  beliau  terus  berjalan,  dalam  keadaan  basah  kuyup,  dengan  tujuan  yang  belum  tentu.  Hanya  saja  terus  berjalan,  untuk menyembunyikan  diri.  Jangan  bertemu  dengan  kaphe.

Waktu tengah malam, sampailah beliau di rumah Uleebalang Matang Ubi, yang bernama Bintara Muda. Di sanalah beliau baru mendapatkan pakaian kering dan nasi. Setelah beristirahat sejenak, beliau kembali melanjutkan perjalanan. Beliau mendapat kabar bahwa Sultan Aceh telah berada di sebuah wilayah tak jauh dari sana. Yakni di daerah Petoe.

Ketika beliau ditanya pada tahun berapa terjadinya peristiwa ini, beliau menjawab bahwa waktu itu tidak ada catatan. Akan tetapi beberapa tahun kemudian, Sultan meninggalkan daerah Pasai. Dan kabarnya kemudian, Sultan datang ke Banda Aceh dan ditangkap oleh kaphe.

“Bukan  menyerah?”  tanya  Teungku Ismail.

“Tidak!”  jawab  beliau.  “Bagaimana  orang  muslimin  boleh menyerah  kepada  kaphe?  Kami  tidak  mengenal  menyerah.  Hanya berhenti  sebentar.  Dan  sewaktu-waktu  nanti,  bila  keadaan  sudah mengizinkan,  akan  bangun  kembali  dan  melawan.  Dan  ketika Sultan  bertemu  dengan  kaphe,  beliau  tidak  menyerahkan  negeri Aceh  ini kepada  kaphe.  Beliau  mengatakan,  bahwa  sebelum beliau ke  Kutaraja (sekarang Banda Aceh),  pimpinan  perang  sudah  diserahkannya  kepada  Teungku  Chi’ di  Tiro”. Kalau  kita  berpegang  kepada  keterangan  Teuku  Lutan  Puteh ini,  maka  kedatangan  raja  Aceh  ke  daerah  Cot  Giriek  Peutoe  adalah  kira-kira  di  sekitar  tahun  1901.  Karena  pada  tahun  berikutnya, baginda  meninggalkan  daerah  Pasei,  menuju  Pidie.  Kemudian  ke Aceh  Tiga  Sagi.  Dan  pada  tahun  1903  baginda  menemui  pembesar Belanda,  yang  dikatakan  “menyerah”  itu.

Bagaimana kisah Teuku Lutan Puteh selanjutnya? Apakah beliau berhasil bertemu dengan Sultan Aceh? Insya Allah akan disambung pada artikel selanjutnya.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Wawancara Dengan Teuku Lutan Puteh (1)

Sultan Alaiddin Muhammad Daud syah, sultan terakhir Aceh.
Sultan Alaiddin Muhammad Daud syah, sultan terakhir Aceh.

Belanda menyerbut Aceh pada paruh pertama tahun 1873, namun gagal. Dengan tekad baja, Aceh berhasil memberikan perlawanan sengit yang tak sanggup dihadapi Belanda. Komandan Belanda sendiri, Jenderal Johann Harmen Rudolf Kohler, tewas di depan Masjid Raya Baiturrahman. Namun Belanda tidak menyatakan menghentikan serangannya. Beberapa bulan selanjutnya, pada akhir tahun 1873, mereka datang lagi dengan armada perang yang lebih besar, beberapa bahkan menyebut dengan jumlah angkatan perang yang belum pernah dikerahkan oleh Belanda sepanjang sejarah penjajahannya di timur. Muslim Aceh memang gagah perkasa dan sulit ditaklukkan. Percobaan yang kedua ini dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten. Jenderal ini adalah jenderal tua yang telah lama malang melintang memimpin prajurit Belanda di Sumatera. Seharusnya dia sudah pensiun, namun dia dipanggil kembali khusus untuk memimpin pasukan Belanda menyerbut Aceh.

Upaya Jenderal tua ini berhasil. Pada awal tahun 1874, Belanda berhasil menerobos masuk ke Istana Darud Dunya. Namun Sultan Alaiddin Mahmud Syah melarikan diri lebih dulu. Sayangnya sultan wafat dalam perjalanan, disinyalir karena tertular wabah kolera yang dibawa Belanda (kisah tentang wabah kolera ini amat menarik).

Pada awalnya Belanda berpikir bahwa dengan menguasai Banda Aceh, mereka telah berhasil menguasai seluruh Aceh. Dengan menguasai Banda Aceh sebagai ibukota Aceh, otomatis para penguasa bawahan di seluruh Aceh akan datang dan menyatakan menyerah kepada Belanda. Rupanya dugaan Belanda meleset. Aceh tidak semudah yang dibayangkan. Perlawanan terus meledak tak peduli walau istana Aceh telah berhasil dikuasai Belanda. Selanjutnya, dengan amat terpaksa, Belanda harus mengerahkan dana dan prajurit yang besar untuk menaklukan seluruh Aceh dengan mengangkat senjata.

Pada masa-masa seperti itu, Sultan Aceh yang terakhir, yakni Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, berjuang dengan bergerilya. Beliau berpindah-pindah tempat, dan letak ibukota turut berpindah seiring dengan tempat beliau berada. Awalnya ibukota dipindahkan ke Keumala (di sekitar Pidie). Ketika wilayah ini berhasil pula ditaklukan Belanda, beliau berpindah lagi lebih dalam ke kawasan Pasai. Kisah perjuangan beliau di Pasai inilah yang akan kita simak melalui wawancara dengan seorang pengawal dan pengikut setia beliau, Teuku Lutan Puteh.

Wawancara ini dilakukan oleh seorang sejarahwan Aceh termasyur, Teungku Ismail Yakub, pada tahun 1939. Pada wawancara ini terungkap tentang kegigihan dan perjuangan kaum muslim melawan penjajah. Insya Allah pada artikel selanjutnya.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Awal Perang Sabil

Proklamasi perang Belanda terhadap Aceh.
Proklamasi perang Belanda terhadap Aceh.

Bagian 8 – “Surat Terakhir”

Sayf Muhammad Isa

Pihak Belanda tampaknya sudah kehabisan akal bagaimana harus berhadapan dengan Aceh. Mereka berpikir bahwa Aceh benar-benar keras kepala dan sulit diajak kompromi. Surat-menyurat masih saja terjadi keesokan harinya, dan berikut adalah surat terakhir dari Belanda.

Seperti biasa, setelah mukadimah yang panjang. “… Surat Sripaduka Tuanku Sultan yang tidak memakai hari-bulan yang telah saya terima, adalah sebagai berikut (isinya disalin kembali berdasarkan surat dari Aceh yang kemarin).

Tidak terang bagi saya apakah yang dimaksud oleh Sripaduka Tuanku Sultan dengan pemberitahun itu. Karenanya saya minta kembali agar Sripaduka Tuanku Sultan mengemukakan dengan tegas dan tentu apakah Sripaduka Tuanku bersedia mengakui kedaulatan Sripaduka Raja Belanda atas Kerajaan Aceh. Tergantung kepada bentuk jawaban surat ini akan dapat saya menetapkan sikap apakah penyerangan bisa dihentikan atau tidak.

Bersama ini juga saya harus memberitahukan pada Sripaduka Tuanku Sultan ingin menghindari bahaya perang dalam negerinya maka sebaliknya Sripaduka tidak melalaikan sesuatu pun juga jawaban lebih lama dari seperlunya.

Termaktub di kapal perang Citadel van Antwerpen, tanggal 30 Maret 1873.”

Apakah Aceh bersedia menyerahkan kedaulatannya? Apakah Aceh memenuhi tuntutan Belanda? Ini dia jawaban pihak Aceh yang dikirimkan keesokan harinya, tanggal 1 April 1873.

“Surat yang telah dikirimkan oleh Gubernemen Hindia Belanda kepada kami, telah kami terima dengan baik dan paham isinya.

Surat yang telah kami kirimkan pada hari Ahad yang baru lalu telah tidak diberi tanggal, hari, bulan, hanya karena kesilapan belaka. Mengenai pemakluman yang dimaksudkan dalam surat kami kemarinitu isinya tidak lain daripada mengemukakan bahwa dari pihak kami tidak ada tumbuh sedikit pun keinginan untuk mengubah hubungan persahabatan yang sudah diikat, sebab kami hanya seorang miskin dan muda dan kami sebagai juga Guberbemen Hindia Belanda, berada di bawah perlindungan Tuhan yang Mahakuasa.

Akhirulkalam kami sampaikan salam kepada tuan-tuan sekalian.

Termaktub pada 1 hari bulan Safar 1290 H.

Lihatlah, surat Belanda yang penuh dengan angkara murka dan emosi itu masih juga dijawab dengan kelembutan dan kepasrahan, sekaligus kerendahan hati dan kemuliaan. Soal penyerahan kedaulatan tidak disebut-sebut sama sekali di dalam surat balasan Aceh itu. Tanda bahwa Aceh tidak hendak menyerahkan kedaulatannya, yang diinginkan hanyalah hidup damai berdampingan dengan negara lain.

Inilah surat-menyurat terakhir yang dilakukan oleh Belanda dan Aceh menjelang Perang Sabil meletus. Setelah datangnya balasan dari Aceh, Belanda segera mengeluarkan sebuah proklamasi perang terbuka terhadap Aceh. Itulah dia awal dari Perang Sabil yang dahsyat itu. Sebuah perang yang memuliakan para pejuang, dan menghinakan para penjajah.

Selesai

Follow @sayfmuhammadisa

Awal Perang Sabil

Jenderal Kohler, komandan penyerangan Belanda pertama ke Aceh. Awal dari Perang Sabil yang panjang.
Jenderal Kohler, komandan penyerangan Belanda pertama ke Aceh. Awal dari Perang Sabil yang panjang.

Bagian 7 – “Ancaman Lebih Keras”

Sayf Muhammad Isa

Pada hari berikutnya masih terjadi surat-menyurat antara komisaris Hindia Belanda, Niuwenhujzen, dengan Kesultanan Aceh. Belanda melakukan surat-menyurat di atas kapal Citadel van Antwerpen, Niuwenhujzen tidak mau turun ke darat sama sekali. Menurut saya hal ini adalah sebuah sikap keras kepala dan tidak sopan. Namun pihak Aceh menghadapi semua ini dengan sabar dan kelapangan dada.

Hampir setiap hari pihak Belanda dan Aceh berkirim-kiriman surat, dan kian hari berlalu, nada surat Belanda semakin kasar dan keras. Dan Belanda masih tetap tidak puas juga dengan setiap penjelasan dari pihak Aceh. Berikut saya kutipkan surat Belanda selanjutnya.

Seperti biasa, setelah mukadimah yang panjang dan lebar. “… Kemudian daripada itu saya kabarkan ke hadapan Sripaduka Tuanku Sultan bahwa surat Sripaduka Tuanku Sultan bertanggal 26 bulan ini sudah saya terima.

Sebagai Sripaduka Tuanku Sultan demikian pulalah saya tidak ingin berperang, tapi caranya Aceh bersikap kepada Gubernemen Hindia Belanda sebegitu jauh dan juga sepanjang yang saya perhatikan di waktu belakangan, pastilah berakibat tidak dapatnya dihindari perang itu, kecuali jika Sripaduka Tuanku Sultan melakukan dengan jujur perbuatan yang bersifat bersahabat dengan Gubernemen Hindia Belanda, yang seyogianya merupakan jaminan cukup bagi perkembangan selanjutnya. Satu-satunya jalan untuk itu ialah Sripaduka Tuanku Sultan mengakui saja kedaulatan Sribaginda Raja Belanda terhadap Aceh. Untuk ini saya beri waktu sampai Sabtu siang tanggal 29 Maret 1873.

Andainya Sripaduka Tuanku Sultan tidak bersedia mengakui kedaulatan Sribaginda Raja Belanda atas negeri Aceh, maka dengan tidak dapat ditarik kembali lagi akan dipertimbangkan berlangsungnya penyerangan, dengan mana saja, kecuali menggunakan kapal-kapal perang yang sudah berada semula di sini, juga dalam beberapa hari saja akan diperlengkapi dengan kekuatan bersenjata yang amat hebat yagn didatangkan dari Batavia.

Saya peringatkan pada Sripaduka Tuanku Sultan, bahwa penyerangan yang akan saya mulai itu hanya akan dapat saya tangguhkan jika Sripaduka Tuanku mengusahakan sedemikian rupa sehingga pantai dibersihkan dari penduduk bersenjata, segala kegiatan yang dilakukan di benteng-benteng dihentikan dan tidak akan dilakukan pembinaan benteng baru. Hendaklah besok pagi-pagi sekali tuntutan ini sudah dipenuhi seluruhnya.

Termaktub di kapal perang Citadel van Antwerpen pada Kamis tanggal 27 Maret 1873.

Bagaimana, cukup mengerikan bukan? Pada surat yang kali ini Belanda sudah tegas dan sudah jelas-jelas meminta kedaulatan atas negeri Aceh diserahkan saja kepada Raja Belanda. Kalau tidak mau menyerahkan kedaulatan, maka akan diserang. Bagaimanakah jawaban Aceh? Pihak Aceh mengirimkan surat yang tidak mencantumkan tanggal dan tahun. Berikut saya kutipkan.

Mukadimah ala raja-raja, seperti biasa. “… Kemudian daripada itu kami iringi harapan kami yang sungguh-sungguh agar hendaknya negeri kami jangan dihancurkan. Semoga disampaikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sesuatu yang diingini oleh sahabat kami.

Sudilah kiranya sahabat kami menyerahkan jawaban surat ini kepada si pengantar, Lebeh Muhammad.”

Ya, hanya segitu saja jawaban dari Aceh. Jawaban yang amat sabar dan rendah hati, yang terkandung kepasrahan dan ketawakalan kepada Allah. Namun di dalam surat itu tidak ada indikasi tunduk sama sekali. Aceh bahkan tidak menyinggung sama sekali apakah hendak tunduk kepada Raja Belanda atau tidak. Bahkan soal itu tidak disebut-sebut sama sekali di sana.

Hal ini amat menggalaukan Niuwenhujzen. Dia berpikir bahwa semua upaya surat-menyurat yang selama beberapa hari itu dilakukan telah buntu. Mungkin keputusan yang terberat, yakni perang, harus dia ambil. Bagaimana surat Belanda yang terakhir kepada Aceh, yang akan menjadi keputusan dari segalanya? Insya Allah akan saya sambung pada artikel selanjutnya.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Awal Perang Sabil

black sabilBagian 6 – “Mempertahankan Kemuliaan”

Sayf Muhammad Isa

Melalui suratnya yang lalu Belanda mengulang kembali pertanyaan yang diajukannya kepada Aceh. Bagaimanakah respon Aceh atas surat tersebut? Berikut saya kutipkan.

Setelah mukaddimah yang panjang dan lebar ala raja-raja. “… Kemudian daripada itu kami permaklumkan ke hadapan Sripaduka sahabat bahwa surat yang dibawa oleh Sidi Tahil telah kami terima dengan hormat dan sesudah dibaca maka paham segala maksudnya.

Dalam surat itu rupanya Sripaduka sahabat menentukan waktu bagi kami 24 jam untuk menjawab. Maka kami dengan sukacita memaklumkan ke hadapan Sripaduka sahabat bahwa pegawai kami Panglima Tibang Mohammad dan hulubalang-hulubalang yang telah berkunjung kepada Residen Riau yakni Teuku Nya’ Mohammad, wakil Teuku Kali Malikul Adil, Teuku Nakhoda Mohammad Said, wakil Teuku Nanta Seutia (beliau ini adalah ayah dari Cut Nyak Dien), Teuku Nakhoda Akub, wakil Teuku Raja Muda Seutia, dan Teuku Nya’ Agam, wakil Panglima Masjid Raya, telah membawa surat kami kepada Residen itu untuk memberitahukan supaya perkunjungannya ke Aceh ditangguhkan selama enam bulan. Sesudah 48 hari di sana untuk menunggu jawaban, maka diberitahukanlah oleh Residen kepada para utusan bahwa Gubernemen telah menerima surat kita.

Seterusnya Residen mengirim kapal perang “Marnix” kepada kami. Demikianlah keterangan para utusan yang lima orang itu. Apatah lagi sebabnya maka Gubernemen datang pula sebelum habis waktu yang disetujui itu? Apakah salah kami? Semoga Gubernemen memberitahukan, supaya kami ketahui.

Selanjutnya kami ingin menjelaskan kepada sahabat apa sebabnya rakyat kami mondar-mandir menyandang senjata di sepanjang pantai. Sebabnya ialah karena kapal perang sahabat telah berlabuh dekat sekali ke pantai. Karena rakyat mengetahui bahwa yang sedemikian tidak biasa lalu mereka ingin tahu dan mendekatinya, pun tempat berlabuh di situ bukanlah tempat yang biasa. Kami harap Sripaduka sahabat jangan sampai kecewa dan memberitahukan kepada kami pertimbangan yang lebih baik. Kami menunggu jawabal yang lebih jelas besok.

Akhirul kalam, ingin kami mengingatkan bahwa kami telah menyambut kedatangan Gubernemen Hindia Belanda dengan 24 das tembakan, padahal kami tidak dijawab dengan tembakan balasan oleh Sripaduka sahabat.

Termaktub tanggal 25 Muharram 1290 H.

Sebelum dibawa oleh Said Tahir, surat ini ditambahkan sedikit lagi, saya kutipkan sebagai berikut.

“… Kemudian daripada itu, kita maklumkan pada Sripaduka sahabat bahwa surat yang dikirimkan kepada kami sudah diterima dan paham isi seluruhnya. Dalam surat itu, Sripaduka sahabat mengatakan bahwa Sripaduka tidak senang melihat rakyat kami mondar-mandir di pantai dengan bersenjata.

Janganlah hendaknya Sripaduka sahabat salah paham, hal sedemikian tentu Sripaduka sahabat sudah maklum, sudah menjadi kebiasaan orang Aceh. Sekarang inginlah kami mendapat kabar secepatnya atas surat kami yang dikirimkan kepada Sripaduka sahabat pada hari ahad yang lalu. Sabtu depan kami akan menyampaikan kepastian pada Sripaduka sahabat, sebab kami pun insaf beberapa hari sudah Sripaduka sahabat menunggu-nunggu di sini dengan tiada mendapat kabar dari kami. Kami tidak mengingini perang dengan sahabat kami. Keinginan kami hanyalah persahabatan.

Termaktub pada 26 Muharram, Rabu, tahun 1290 H (bertepatan 26 Maret 1873).

 Demikianlah jawaban dari pihak Aceh. Menurut saya ini adalah jawaban yang rendah hati dan amat sabar. Yang menginginkan persahabatan dan hubungan yang baik. Hanya saja nampaknya Belanda telah terbakar oleh api penjajahannya sendiri.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa